By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Kunjungan DPK GMNI UBP Karawang ke DPP GMNI Jadi Ruang Refleksi Kepemimpinan Berbasis Marhaenisme
Tanggapi Dugaan Keracunan Massal MBG di Duren Sawit, Direktur Eksekutif Sentra Institute Soroti Lemahnya Pengawasan dan Transparansi Vendor
RTH Penting, GMNI Jakarta Timur: Jangan Sampai Menumbalkan Rakyat dan Jadi Lahan Korupsi
Tan Malaka Bukan Pendiri Republik?
Soroti Kemacetan Ketapang, Sonny T. Danaparamita: Ini Kegagalan Manajemen Logistik

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Eko-Marhaenisme Menagih Janji, Keadilan Sosial dalam Luka Ekologi Krisis Pesisir Tulungagung

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Kamis, 29 Januari 2026 | 23:32 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Foto: Krisna Wahyu Yanuar, Aktivis Literasi dan Gerakan Rakyat Kedaulatan Laut (Dokpri)/MARHAENIST.
Foto: Krisna Wahyu Yanuar, Aktivis Literasi dan Gerakan Rakyat Kedaulatan Laut (Dokpri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Krisis ekologis di pesisir Tulungagung hari ini tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan sampah atau kerusakan laut semata. Ia adalah gejala dari ketimpangan struktural yang memperlihatkan bagaimana alam sering dijadikan ruang penampungan terakhir dari kegagalan tata kelola daratan.

Dalam perspektif Eko-Marhaenisme, kerusakan lingkungan selalu berkaitan erat dengan ketidakadilan sosial, karena rakyat kecil menjadi pihak pertama yang paling terdampak.

Soekarno menegaskan bahwa Marhaen adalah simbol rakyat yang hidup dari kerja dan sumber daya yang terbatas, namun terus diperas oleh sistem yang tidak berpihak (Soekarno, 1933). Jika konsep itu diperluas dalam konteks ekologis, maka nelayan pesisir Tulungagung adalah “Marhaen ekologis”, yaitu mereka yang menggantungkan hidup langsung pada laut, tetapi justru menanggung beban pencemaran yang mereka tidak ciptakan.

Sampah Kiriman dan Ketimpangan Hulu-Hilir

Fenomena “sampah kiriman” yang setiap tahun melanda pantai-pantai Tulungagung menunjukkan bagaimana relasi hulu-hilir bekerja secara timpang. ANTARA melaporkan bahwa “lima pantai di Tulungagung dipenuhi sampah akibat luapan Sungai Niyama”, terutama saat debit air tinggi dan terowongan dibuka sehingga limbah rumah tangga dan plastik terbawa ke laut (ANTARA, 2025).

Kondisi ini memperlihatkan apa yang disebut Rob Nixon sebagai slow violence, yakni kekerasan ekologis yang berlangsung perlahan tetapi menghancurkan kehidupan masyarakat secara sistematis (Nixon, 2011). Sampah bukan sekadar gangguan visual, melainkan bentuk ketidakadilan struktural yang dipikul pesisir.

Audit lokal bahkan menunjukkan bahwa “78 persen sampah plastik berasal dari kemasan makanan” (Radar Tulungagung, 2025). Ini menguatkan kritik bahwa krisis ekologis tidak bisa dilepaskan dari kapitalisme konsumsi sekali pakai, yang memproduksi limbah tanpa tanggung jawab sosial.

Dalam kerangka ekologi politik, Foster menyebut bahwa kapitalisme menciptakan metabolic rift, keretakan relasi metabolik antara manusia dan alam karena produksi dijalankan tanpa memperhitungkan keberlanjutan ekosistem (Foster, 1999). Tulungagung adalah contoh nyata dari keretakan itu, ketika sungai membawa limbah konsumsi daratan dan laut dipaksa menjadi tempat pembuangan terakhir.

Baca Juga:   Cara Melawan Kapitalisme (2): Sang Karyawan Hemat

Mikroplastik dan Ancaman Ekologi Tak Kasat Mata

Masalah pesisir Tulungagung tidak hanya sampah besar yang tampak, tetapi juga pencemaran mikroplastik yang lebih berbahaya. Studi ilmiah di aliran Sungai Ngrowo menemukan keberadaan mikroplastik dalam bentuk fragmen dan fiber yang mengalir menuju laut (Biosaintropis, 2023).

Mikroplastik adalah ancaman yang masuk ke rantai makanan. Dalam perspektif Vandana Shiva, kerusakan ekologis semacam ini adalah bentuk kolonialisme baru, di mana tubuh rakyat menjadi ruang terakhir bagi racun industri modern (Shiva, 2005). Laut bukan hanya tercemar, tetapi manusia pesisir ikut memakan konsekuensinya.

Kerusakan Terumbu Karang dan Pemiskinan Nelayan

Kerusakan terumbu karang di wilayah pesisir selatan seperti Brumbun dan Gerangan memperlihatkan bahwa degradasi ekosistem selalu beriringan dengan krisis ekonomi rakyat. Terumbu karang adalah habitat ikan dan sumber kehidupan nelayan kecil. Ketika karang rusak akibat sedimentasi atau praktik penangkapan yang tidak ramah lingkungan, maka yang hilang bukan hanya biota, melainkan nafkah rakyat.

Bookchin menegaskan bahwa krisis ekologi pada dasarnya adalah krisis sosial, sebab dominasi manusia atas alam selalu paralel dengan dominasi manusia atas manusia (Bookchin, 1982).

Dalam konteks Tulungagung, kerusakan karang bukan sekadar persoalan alam, tetapi persoalan struktur ekonomi yang memaksa eksploitasi tanpa pemulihan.

Pengamat Sosial & Lingkungan Krisna Wahyu Yanuar, perlunya upaya mitigasi resiko ekologis yang di prakarsai oleh Dinas Lingkungan Hidup, atau pemerintah tulungagung terkait pemasangan Trash Rack di Terowongan Neyama, Sistem IPAL Terpadu, penerpana biofloc, restorasi ekosistem pesisir sebagai upaya menjaga kedaulatan pesisir tulungagung. Pemerintah Daerah Tulungagung harus memberikan tanggungjawab dan pendidikan ekologis masalah ini.

Sungai Tercemar dan Ekologi yang Dibayar Rakyat

Masalah lain yang memperkuat krisis ini adalah pencemaran sungai. ANTARA melaporkan bahwa sungai-sungai di Tulungagung mengalami pencemaran bakteri E. coli akibat limbah peternakan dan rumah tangga (ANTARA, 2023). Ini menegaskan bahwa krisis pesisir adalah akumulasi dari krisis daratan.

Baca Juga:   Tangan Halus Pemerintah di Balik Pecahnya Nasionalisme dalam GMNI?

Dalam pendekatan ekologi politik, Martinez-Alier menyebut bahwa konflik lingkungan sering kali adalah konflik distribusi, yakni siapa yang menikmati keuntungan pembangunan dan siapa yang menanggung kerusakannya (Martinez-Alier, 2002). Dalam kasus Tulungagung, rakyat pesisir menanggung limbah, sementara sistem produksi di hulu terus berjalan tanpa beban yang setara.

Eko-Marhaenisme sebagai Agenda Keadilan Ekologis

Eko-Marhaenisme menawarkan jalan bahwa perjuangan rakyat tidak bisa dipisahkan dari perjuangan lingkungan. Soekarno sendiri menekankan bahwa nasionalisme kerakyatan harus berpihak pada mereka yang paling tertindas (Soekarno, 1933). Dalam konteks hari ini, keberpihakan itu harus meluas menjadi keberpihakan ekologis.

Upaya masyarakat seperti konservasi penyu mandiri dan usulan rehabilitasi karang menunjukkan bahwa rakyat tidak diam. Mereka melakukan apa yang disebut environmentalism of the poor, yakni gerakan lingkungan yang lahir dari kebutuhan hidup, bukan sekadar gaya hidup hijau (Guha & Martinez-Alier, 1997).

Namun, perjuangan ini tidak bisa dibebankan pada komunitas lokal saja. Dibutuhkan kebijakan struktural yang menata pengelolaan sampah dari hulu, tanggung jawab produsen plastik, rehabilitasi ekosistem, dan demokrasi lingkungan yang memberi ruang bagi masyarakat pesisir sebagai subjek, bukan korban.

Penutup

Krisis ekologis pesisir Tulungagung adalah cermin dari pilihan politik pembangunan kita. Laut dipaksa menanggung dosa hulu, sementara nelayan kecil menjadi korban pertama. Dalam perspektif Eko-Marhaenisme, menyelamatkan pesisir bukan sekadar soal bersih-bersih pantai, tetapi soal keadilan sosial dan ekologis sekaligus.

Karena pada akhirnya, jika laut terus dijadikan tempat pembuangan terakhir, maka Tulungagung bukan hanya kehilangan ekosistemnya, tetapi juga kehilangan masa depan rakyat kecilnya.***


Penulis: Krisna Wahyu Yanuar, Aktivis Literasi dan Gerakan Rakyat Kedaulatan Laut.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Kunjungan DPK GMNI UBP Karawang ke DPP GMNI Jadi Ruang Refleksi Kepemimpinan Berbasis Marhaenisme
Sabtu, 4 April 2026 | 08:53 WIB
Tanggapi Dugaan Keracunan Massal MBG di Duren Sawit, Direktur Eksekutif Sentra Institute Soroti Lemahnya Pengawasan dan Transparansi Vendor
Jumat, 3 April 2026 | 21:24 WIB
RTH Penting, GMNI Jakarta Timur: Jangan Sampai Menumbalkan Rakyat dan Jadi Lahan Korupsi
Jumat, 3 April 2026 | 20:00 WIB
Tan Malaka Bukan Pendiri Republik?
Jumat, 3 April 2026 | 18:34 WIB
Foto: Sonny T Danaparamita, Anggota DPR RI (Dokpri)/MARHAENIST.
Soroti Kemacetan Ketapang, Sonny T. Danaparamita: Ini Kegagalan Manajemen Logistik
Kamis, 2 April 2026 | 11:45 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Surat Cinta dari Timur Buat GMNI: Perpecahan! Nasionalisme?

Marhaenist.id - Jika tidak ada Kongres persatuan, mari kita anggota serta para…

Gotong Royong dan Kolaborasi Dorong Wujudkan Masyarakat Adil Makmur

Marhaenist - Dewan Pengurus Pusat Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP…

Peringati International Women’s Day 2026, GMNI Jeneponto Seruduk DPRD: Desak Pengesahan RUU PPRT dan Hentikan Kriminalisasi Perempuan

Marhaenist.id, Jeneponto – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

GMNI Nilai Pencabutan 28 Izin Perusahaan Harus Jadi Awal Reformasi Kehutanan

Marhaenist – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menilai pencabutan izin terhadap 28 perusahaan…

Airlangga Hartarto Mundur Dari Ketua Umum Golkar, Ada Apa?

Marhaenist, Jakarta - Airlangga Hartarto mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Ketua Umum (Ketum)…

Darent Azareal Pimpin Rekonsiliasi Internal GMNI Se-Sulteng, Wacanakan Pembentukan DPD

Marhaenist.id, Palu – Kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) di Sulawesi Tengah…

Penuntun Kaum Buruh, Semaoen 1920

MARHAENIST - Dengan ini saya mengaturkan cerita hal serikat buruh pada saudara-saudara…

Ganjar: Jaga Perdamaian, Gunakan Hak Pilih Tanpa Takut Ditekan

Marhaenist.id, Klaten - Lapangan Merdeka di Delangu Klaten mendadak ramai, Rabu (07/02/2023)…

Gelar Sosialisasi dan Dialog Interaktif, KPU Ajak GMNI Jaksel Kawal Pilkada Jakarta

Marhaenist.id, Jaksel - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Jakarta Selatan (Jaksel) gelar…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?