By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Bakercab GMNI Bandung Desak DPRD Kota Bandung Tolak LKPJ Pemkot Bandung
DPK GMNI IPB Soroti Dampak Reklamasi dan Tol Laut terhadap Nelayan Cilincing
Hantu Film Pesta Babi: Seseram Apakah bagi Pemerintahan Prabowo-Gibran?
Soekarno, Marhaenisme, dan Krisis Demokrasi Modern
Lanjutkan Program Bersama PA GMNI, PERADI UTAMA Buka PKPA Beasiswa Murni Batch 3 untuk Kader GMNI se-Indonesia

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar GMNIOpini

Tangan Halus Pemerintah di Balik Pecahnya Nasionalisme dalam GMNI?

Marhaenist Indonesia
Marhaenist Indonesia Diterbitkan : Minggu, 3 Agustus 2025 | 08:12 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Foto: Kongres GMNI di Kota Bandung yang digelar pada Selasa (15/7/2025) sampai Senin (28/7/2025)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Kongres Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) versi Imanuel-Sujarhi yang digelar di Kota Bandung belum lama ini justru membuka borok perpecahan dalam tubuh organisasi yang mengusung semangat nasionalisme Soekarnois.

Di balik kericuhan, molornya sidang, dan saling tuding antar kubu, banyak pihak mulai bertanya: apakah ini murni konflik internal, atau ada ‘tangan-tangan’ negara yang ikut bermain?

GMNI bukan sekadar organisasi mahasiswa biasa. Sejak berdirinya, ia mewarisi semangat Bung Karno: antikolonial, berdiri di atas kaki sendiri, dan menolak tunduk pada kekuasaan modal.

Karena itu, GMNI kerap jadi batu sandungan bagi kekuatan status quo. Maka, ketika GMNI terbelah dan lumpuh oleh konflik internal, yang diuntungkan jelas bukan gerakan mahasiswa itu sendiri—melainkan kekuatan di luar yang berkepentingan agar nasionalisme Soekarnois tetap tercerai-berai.

Taktik Lama, Pola Baru

Dalam sejarah politik Indonesia, intervensi negara terhadap kekuatan sipil bukanlah hal baru. Dari era Orde Lama hingga Reformasi, banyak organisasi mahasiswa, buruh, dan rakyat yang coba dibelah dari dalam.

Pecah-belah dan adu domba adalah taktik lama yang masih relevan hingga hari ini. Yang membedakan hanyalah metode: kini, intervensi lebih halus—melalui pembiayaan, infiltrasi kader, hingga permainan narasi di media.

Kongres GMNI di Bandung menunjukkan tanda-tanda itu. Ada kabar tentang dana misterius, pemaksaan akomodasi tertentu, hingga ‘tangan pengatur’ yang mencoba menentukan siapa yang layak menang. Ketua umum yang kabur saat sidang LPJ, mosi tidak percaya, hingga dugaan penghilangan palu sidang—semuanya tampak seperti skenario chaos yang dirancang agar GMNI gagal konsolidasi.

Kenapa GMNI yang Diserang?

GMNI punya posisi strategis. Ia punya sejarah panjang melahirkan tokoh-tokoh nasional, kader-kader politik, dan pemikir kiri yang vokal. Dalam peta gerakan mahasiswa, GMNI mewakili kutub yang ideologis dan berakar. Jika GMNI berhasil solid, bukan tidak mungkin ia jadi ujung tombak kebangkitan nasionalisme baru yang berani menantang oligarki dan kekuasaan yang korup.

Baca Juga:   Peringati Hari Buruh Internasional, GMNI Kendari: Pemda Sultra Harus Memberikan Perlindungan Penuh terhadap Hak Buruh

Maka wajar jika ada upaya melemahkan dari dalam. Pecahnya GMNI membuat semangat nasionalisme Soekarnois kehilangan rumah. Dari luar, publik melihat GMNI tidak lebih dari sekumpulan mahasiswa yang rebutan jabatan dan dana kongres. Padahal di dalamnya, yang sedang dipertaruhkan adalah masa depan ideologi kerakyatan.

Saatnya Refleksi!

Perpecahan GMNI bukan sekadar soal kongres molor atau palu yang hilang. Ini soal bagaimana gerakan ideologis rentan dihancurkan melalui infiltrasi dan pembelahan. Negara, dalam bentuk aparat, intel, atau bahkan institusi resmi, tidak bisa dikecualikan sebagai pihak yang mungkin ikut bermain.

Jika nasionalisme Soekarnois ingin tetap hidup, ia harus bangkit dari kerapuhan struktural. GMNI dan organisasi sejenisnya perlu memperkuat integritas internal, memperbarui metode kaderisasi, dan membangun kembali kepercayaan rakyat. Sebab sekali gerakan mahasiswa tunduk pada intervensi negara, maka selesailah sudah harapan akan perubahan sejati dari akar rumput.***


Penulis: Dimas Muhammad Erlangga, Kader GMNI Bandung.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Bakercab GMNI Bandung Desak DPRD Kota Bandung Tolak LKPJ Pemkot Bandung
Senin, 11 Mei 2026 | 17:58 WIB
DPK GMNI IPB Soroti Dampak Reklamasi dan Tol Laut terhadap Nelayan Cilincing
Senin, 11 Mei 2026 | 17:16 WIB
Hantu Film Pesta Babi: Seseram Apakah bagi Pemerintahan Prabowo-Gibran?
Senin, 11 Mei 2026 | 12:16 WIB
Soekarno, Marhaenisme, dan Krisis Demokrasi Modern
Minggu, 10 Mei 2026 | 19:33 WIB
Lanjutkan Program Bersama PA GMNI, PERADI UTAMA Buka PKPA Beasiswa Murni Batch 3 untuk Kader GMNI se-Indonesia
Minggu, 10 Mei 2026 | 01:02 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Tual, Anak 14 Tahun Meninggal Dunia

Marhaenist.id – Dugaan tindak kekerasan yang melibatkan oknum anggota *Brigade Mobil* dari…

Aceh, Helsinki, dan Konstelasi Kekuasaan Baru: Dari Perlawanan ke Koalisi Elit

Marhaenist.id - Dua dekade setelah Perjanjian Damai Helsinki 2005, relasi antara Negara…

Minim Subtansi, Maha Sakti Esa Jaya: Debat Pilkada Penajam Paser Utara Jadi Ajang Jual Program

Marhaenist.id, Penajam Paser Utara - Aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, Maha Sakti…

Jelang Kongres Ke-22, M Ageng Dendy Setiawan Nyatakan Tak Maju Sebagai Calon Ketua Umum DPP GMNI

Marhaenist.id, Surabaya - Jelang kongres GMNI ke-XXII, bursa pencalonan sebagai ketua umum…

Gelar Sosialisasi dan Dialog Interaktif, KPU Ajak GMNI Jaksel Kawal Pilkada Jakarta

Marhaenist.id, Jaksel - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Jakarta Selatan (Jaksel) gelar…

Kawal Putusan MK, GMNI Jember Gelar Unjuk Rasa

MARHAENIST - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Negara Darurat Intoleransi!!!

Marhaenist.id - Delapan Puluh Tahun Indonesia telah  bebas dari kolonialisme dan Imperialisme,…

Endus Aroma Ordal dalam Perekrutan PPSU, DPD Jakarta Petisi Brawijaya Minta Proses Perekrutannya di Perketat

Marhaenist.id, Jakarta - Pemprov DKI Jakarta berencana merekrut anggota Penanganan Prasarana dan…

Foto: Dhiva Trenadi Pramudia, Institut Marhaenisme 27/MARHAENIST.

Membangun Kembali Oposisi Marhaen di Era Post-Politics

Marhaenist.id - Dua puluh tujuh tahun setelah reformasi, makna demokrasi di Indonesia…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?