By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Warisan Nasionalisme Indonesia: Nilai yang Mempertemukan Perbedaan Dalam Ikatan Persatuan
Kunjungan DPK GMNI UBP Karawang ke DPP GMNI Jadi Ruang Refleksi Kepemimpinan Berbasis Marhaenisme
Tanggapi Dugaan Keracunan Massal MBG di Duren Sawit, Direktur Eksekutif Sentra Institute Soroti Lemahnya Pengawasan dan Transparansi Vendor
RTH Penting, GMNI Jakarta Timur: Jangan Sampai Menumbalkan Rakyat dan Jadi Lahan Korupsi
Tan Malaka Bukan Pendiri Republik?

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kapitalisme

Data Ekonomi Pemerintah Harus Dibaca Dengan Sikap Kritis

Indo Marhaenist
Indo Marhaenist Diterbitkan : Selasa, 18 November 2025 | 11:20 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Forum Diskusi Terbatas "Berebut Celah, Rebut Siasat di Arena Reglobalisasi Ekonomi" yang digelar Agenda 45 di Tebet Jakarta Timur, Sabtu (15/11/2025). MARHAENIST
Bagikan

Marhaenist – Angka-angka indikator perekonomian yang dipublikasikan pemerintah perlu disikapi secara kritis. Ada kejanggalan-kejanggalan di tengah, klaim pemerintahan atas pertumbuhan di sejumlah sektor. Daya beli masyarakat terbukti lemah sehingga pertumbuhan perekonomian 2025 besar kemungkinan lebih kecil ketimbang target pemerintah.

Hal itu ditekankan oleh dua orang ekonom, masing-masing Nailul Huda dan Muhammad Nalar Al Khair, saat berbicara dalam Forum Diskusi Terbatas bertopik “Berebut Celah, Rebut Siasat di Arena Reglobalisasi Ekonomi” yang digelar Agenda 45 di Tebet Jakarta Timur, Sabtu (15/11/2025).

“Ekonomi kita itu sedang tidak baik-baik saja,” kata Nailul Huda saat memulai pemaparannya.

Secara terus terang Huda meragukan angka-angka yang diajukan para pejabat bidang perekonomian pemerintahan Prabowo Subianto. Dalam perhitungannnya pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya akan mencapai 4,7% atau malah lebih rendah. Sedangkan pemerintah yakin setidaknya di atas 5,2%.

Salah satu yang menjadi sebab keraguannya itu terletak pada klaim pemerintah pertumbuhan di sektor industri, Huda dalam penelitiannya menemukan hal yang berkebalikan. Temuannya menyebutkan bahwa industri tekstil kini hanya berjalan pada 50% dari seluruh kapasitas terpasang, penjualan kendaaraan menurun, demikian pula tingkat laba dan likuiditas perbankan. Fakta lain lagi adalah Kemenaker menyebutkan tingkat pengangguran mencapai 32%.

Kondisi memprihatinkan juga terjadi dalam pengelolaan APBN, pengelolaan anggaran 2025 lebih buruk ketimbang tahun 2023, 2024 dan 2022. Realisasi pajak hanya mencapai 59% dari target. Sedangkan dana sektor pendidikan dan kesehatan malah digunakan untuk pelaksanaan program Makan Siang Gratis (MBG). Ini melanggar ketentuan yang ada termasuk aturan yang ada dalam konstitusi.

“Di akhir diperkirakan rasio difisit anggaran akan mencapai 2,7% sehingga beban utang negara makin besar,” ujarnya.

Baca Juga:   Pemerintah Berikan Subsidi Kedelai Rp1.000 Hingga Akhir Tahun

Kesulitan di dalam negeri diperburuk oleh perang dagang di tingkat global. Para pemimpin dan pelaku ekonomi terlalu banyak mengeluh dalam menghadapi tantangan dari luar yang memang tak mudah tersebut. Padahal, lanjut Huda, seharusnya kita perlu memperkuat kualitas produk domestik, membenahi tingkat efisiensi ekonomi yang makin buruk.

Hal terakhir ini nampak nyata dalam perencanaan dan praktik Program MBG dengan tingkat korupsi yang buruk. Seharusnya hal seperti itu dilakukan agar kita tak terheran heran melihat fakta kenapa keluarnya dana investasi dari China lebih banyak berlabuh di Vietnam ketimbang ke Indonesia.

Setidaknya hal terakhir nampak mengherankan pada kasus investasi Apple dimana pasar atau konsumen produk teknologi komunikasi itu justru jauh lebih besar di Indonesia.

Rekayasa

Berbicara pada kesempatan berikutnya Muhammad Nalar Al Khair mengawali sikap kritisnya atas data perekonomian pemerintah di sektor ketenagakerjaan. Klaim pemerintah yang mengatakan terjadi penurunan tingkat pengangguran pada Agustus 2025 mestinya tidak diterima begitu saja.

“Kita jangan melupakan bahwa sesungguhnya ada pengangguran terselubung, yakni orang bekerja tapi sebenarnya tidak dibayar,” ujar Nalar.

Jumlah kelompok pekerja tak dibayar itu mencapai 18 juta orang. Data ekonomi yang ditampilkan sebenarnya untuk menarik investasi namun pada kenyataannya kerap berlawanan dengan fakta di lapangan.

Bila data direkayasa tentu tingkat kepercayaan orang terpengaruh. Akibatnya masyarakat ragu dan tingkat kepercayaannya kepada pemerintah menurun demikian pula para investor.

Pemerintah seharusnya jujur atas data riil pereknomian, bagaimanapun para investor tentu bukan orang yang bodoh dalam melihat situasi ekonomi domestik dan regulasi investasi.

Pemerintah misalnya telah menyatakan tak akan ada impor beras dan gula. Tentu hal ini sulit karena terjadi kekurangan produksi. Kalaupun terjadi penurunan impor beras ketimbang masa sebelumnya kenyataan tetap saja terjadi impor bukannya taka ada sama sekali.

Baca Juga:   Hadiri Kaderisari GMNI, Bawaslu Kota Bekasi Dorong Mahasiswa Jadi Agen Perubahan dan Aktif Laporkan Masalah Kebencanaan

Penurunan produksi sektor industri menjadi tanda adanya deindustrialisasi. Kondisi ini terjadi juga di negara lain, namun belum tentu bisa disamakan dengan yang dialami Indonesia. Misalnya dibandingkan dengan gejala serupa di China, perekonomian negeri Tirai Bambu itu telah amat maju sebelumnya sehingga efeknya tak seburuk yang kita alami.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Warisan Nasionalisme Indonesia: Nilai yang Mempertemukan Perbedaan Dalam Ikatan Persatuan
Minggu, 5 April 2026 | 12:58 WIB
Kunjungan DPK GMNI UBP Karawang ke DPP GMNI Jadi Ruang Refleksi Kepemimpinan Berbasis Marhaenisme
Sabtu, 4 April 2026 | 08:53 WIB
Tanggapi Dugaan Keracunan Massal MBG di Duren Sawit, Direktur Eksekutif Sentra Institute Soroti Lemahnya Pengawasan dan Transparansi Vendor
Jumat, 3 April 2026 | 21:24 WIB
RTH Penting, GMNI Jakarta Timur: Jangan Sampai Menumbalkan Rakyat dan Jadi Lahan Korupsi
Jumat, 3 April 2026 | 20:00 WIB
Tan Malaka Bukan Pendiri Republik?
Jumat, 3 April 2026 | 18:34 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Beredar Akun Facebook Palsu Atas Nama Dirinya, Karyono Wibowo: Ada Orang yang tidak Bertanggungjawab – Mohon Abaikan

Marhaenist.id, Jakarta - Salah satu Dewan Redaksi Marhaenist.id yang juga Direktur Eksekutif…

Jelang Tahun Baru 2026, Redaksi Marhaenist.id Sampaikan Harapan dan Komitmen Pemberitaan untuk Marhaen Indonesia

Marhaenist.id, Kendari - Jelang pergantian tahun menuju 2026, Pemimpin Redaksi Marhaenist.id, La…

Asa untuk Sumatera

Marhaenist.id - Di balik hiruk-pikuk pembangunan nasional, Pulau Sumatera kembali menuntut perhatian…

Pajak untuk Keadilan

Marhaenist.id - Perdebatan soal kenaikan tarif PPN dari 11 persen menjadi 12 persen…

Pulau Buru dan Pengarahan Tenaga Kerja Tapol

Marhaenist.id - Pada tahun 1969, 800-an tahanan politik yang dituduh terlibat dalam…

Penyataan Sikap DPC GMNI Malang: Menolak Dualisme, Memperjuangkan Persatuan Organisasi

Marhaenist.id – Setelah merayakan Dies Natalis ke-71 Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Chip War dan Geopolitik Laut China Selatan: Paradigma Baru Gerakan Non-Blok

Marhaenist.id - Perairan Laut China Selatan selalu menjadi “palagan geopolitik” yang terus…

Perjuangkan Tanah Rakyat, GMNI Kendari: Kades Polindu Lakukan Perbuatan Melawan Hukum

Marhaenist.id, Kendari - Puluhan massa dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota…

Bantuan Kemiskinan Ekstrem Rp5 Miliar Disalurkan Pemkab Jayawijaya

Marhaenist - Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, Papua sedang menyalurkan Rp5 miliar bantuan kemiskinan…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?