By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Selamat Datang di “AI New Normal”
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Berhenti Mendewakan Investasi Asing, Pembangunan Harus Bertumpu Pada Kekuatan Rakyat

Marhaenist ID
Marhaenist ID Diterbitkan : Selasa, 16 Desember 2025 | 19:45 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Perajin membersihkan kedelai di salah satu rumah industri di Jakarta, Kamis (6/10). Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu dan Tempe Indonesia (Gakopindo) Aip Syarifuddin mengatakan kenaikan harga kedelai impor satu bulan terakhir rata-rata berada di kisaran Rp6.900 - Rp7.000 per kilogram di tingkat koperasi yang sebelumnya Rp6.300 - Rp6.500 sedangkan harga di pasaran lebih tinggi yakni Rp10.597 per kilogramnya. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/pras/16.
Perajin membersihkan kedelai di salah satu rumah industri di Jakarta, Kamis (6/10). Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu dan Tempe Indonesia (Gakopindo) Aip Syarifuddin mengatakan kenaikan harga kedelai impor satu bulan terakhir rata-rata berada di kisaran Rp6.900 - Rp7.000 per kilogram di tingkat koperasi yang sebelumnya Rp6.300 - Rp6.500 sedangkan harga di pasaran lebih tinggi yakni Rp10.597 per kilogramnya. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/pras/16.
Bagikan

Marhaenist.id – Selama bertahun-tahun, pemerintah baik pusat maupun daerah, kerap menjadikan masuknya investasi asing sebagai indikator utama keberhasilan pembangunan. Angka-angka investasi dipamerkan, karpet merah digelar, dan regulasi dipermudah. Namun satu pertanyaan mendasar jarang diajukan secara jujur: untuk siapa pembangunan itu sesungguhnya bekerja?

Daftar Konten
Ketika Modal Asing Menjadi Ilusi SolusiGotong Royong Sebagai Fondasi Ekonomi yang TerlupakanPembangunan Berkelanjutan Tidak Datang dari LuarRingkasan

Di banyak wilayah Indonesia, terutama daerah agraris dan berbasis masyarakat adat, investasi asing justru meninggalkan paradoks. Modal memang datang, tetapi kesejahteraan tidak selalu tinggal. Tanah beralih fungsi, konflik sosial meningkat, dan masyarakat lokal kerap hanya menjadi penonton di rumah sendiri.

Ketika Modal Asing Menjadi Ilusi Solusi

Secara teori, investasi asing (Foreign Direct Investment/FDI) dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, dan mentransfer teknologi. Namun dalam praktiknya, khususnya di daerah dengan kapasitas institusional yang lemah, FDI sering beroperasi secara ekstraktif.

Keuntungan ekonomi lebih banyak mengalir ke luar daerah, bahkan ke luar negeri. Tenaga kerja lokal ditempatkan pada posisi berupah rendah, sementara pengambilan keputusan strategis berada di tangan korporasi. Yang tertinggal di daerah adalah jejak ekologis, ketegangan sosial, dan ketergantungan ekonomi jangka panjang.

Pembangunan semacam ini rapuh. Begitu harga komoditas turun atau iklim investasi berubah, modal pergi, dan masyarakat kembali menanggung kerusakan.

Gotong Royong Sebagai Fondasi Ekonomi yang Terlupakan

Indonesia sesungguhnya memiliki modal sosial yang jauh lebih kuat dibanding banyak negara lain: gotong royong. Dalam perspektif ekonomi modern, ini bukan sekadar nilai budaya, melainkan fondasi kelembagaan yang sangat relevan.

Model investasi berbasis komunitas, koperasi, BUMDes, usaha bersama masyarakat adat, memiliki keunggulan struktural. Modal berputar di dalam wilayah, keuntungan dinikmati bersama, dan keputusan diambil secara partisipatif. Risiko konflik lebih kecil karena kepemilikan bersifat kolektif dan berbasis konsensus.

Baca Juga:   Kooperasi dan Hegemoni Kapitalisme

Di banyak negara maju, model ini justru menjadi tulang punggung ekonomi. Jerman dengan jaringan usaha menengahnya (Mittelstand), Jepang dengan koperasi pertanian, dan negara-negara Skandinavia dengan ekonomi komunitas membuktikan bahwa kemandirian lokal adalah sumber daya strategis, bukan hambatan pembangunan.

Foto: Dr. med. vet. Rudi Samapati, Alumni GMNI, FKH UGM/MARHAENIST.

Pembangunan Berkelanjutan Tidak Datang dari Luar

Agenda global seperti Sustainable Development Goals (SDGs) menekankan pentingnya keadilan sosial, perlindungan lingkungan, dan institusi yang inklusif. Ironisnya, banyak proyek investasi asing di Indonesia justru bertentangan dengan prinsip-prinsip ini.

Sebaliknya, investasi berbasis gotong royong masyarakat lebih selaras dengan pembangunan berkelanjutan. Ia menjaga relasi manusia dengan tanah, menghormati pengetahuan lokal, dan membangun ekonomi yang tahan krisis. Ini bukan romantisme masa lalu, melainkan praktik yang terbukti secara empiris.

Sudah saatnya pemerintah mengubah cara mengukur keberhasilan pembangunan. Bukan semata dari besaran investasi yang masuk, tetapi dari sejauh mana:

Pendapatan masyarakat lokal meningkat.

Konflik agraria menurun.

Lingkungan tetap lestari.

Kedaulatan ekonomi daerah menguat.

Investasi asing seharusnya diposisikan sebagai pelengkap yang selektif, bukan sebagai pusat gravitasi kebijakan pembangunan. Tanah, air, dan pangan tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas semata.

Ringkasan

Pemerintah yang kuat bukan yang paling rajin memikat investor asing, melainkan yang paling percaya pada kemampuan rakyatnya sendiri. Pembangunan yang berdaulat lahir dari keberanian untuk berkata: modal boleh datang, tetapi arah dan kendali tetap di tangan masyarakat.

Jika gotong royong adalah jiwa bangsa ini, maka sudah semestinya ia juga menjadi fondasi utama pembangunan ekonomi Indonesia.***


Penulis: Dr. med. vet. Rudi Samapati, Alumni GMNI, FKH UGM. MARHAENIST

 

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
Minggu, 22 Februari 2026 | 21:23 WIB
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:25 WIB
Selamat Datang di “AI New Normal”
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:06 WIB
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Sabtu, 21 Februari 2026 | 22:13 WIB
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!
Sabtu, 21 Februari 2026 | 11:25 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Peduli Warga TPA Sampah Batu Layang, PA GMNI Pontianak Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis

Marhaenist - Dalam rangka Dies Natalies Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) ke-68…

Forkomcab GMNI Sumsel Menolak Kongres yang tidak berlandaskan Persatuan

Marhaenist.id, Sumsel - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) saat ini telah memasuki…

OJK di Persimpangan Jalan, Reformasi Atau Politisasi?

Marhaenist.id - Pengunduran diri serentak jajaran pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan…

Menumbuhkan Nilai-nilai Pancasila di Era Digitalisasi

Marhaenist.id - Untuk mendasarkan kehidupan kita pada Pancasila, tak cukup dengan sekedar…

Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Hasto Kristianto. Dok. PDIP

PDIP Balas Tudingan SBY Soal Akan Adanya Kecurangan Pemilu 2024

Marhaenist - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto menyebut gelaran Pemilu…

Gelar Dies Natalis ke 71 dengan Tasyakuran, GMNI Malang: Ini Refleksi Mendalam tentang Arah Gerakan Dimasa Depan

Marhaenist.id, Malang  – Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Malang…

Peringati HUT Kemerdekaan RI, DPC GMNI Touna dan DPK GMN Bung Tomo Manajenen Gelar Nobar Sekaligus Bedah Film bersama Masyarakat

Marhaenist.id, Touna - Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik…

Foto: Nurfani Ici saat terpilih sebagai Ketua DPC GMNI Kota Ternate periode 2026-2028 (Dokpri)/MARHAENIST.

Catat Sejarah Baru, Sarinah Nurfani Ici jadi Perempuan Pertama yang Pimpin DPC GMNI Kota Ternate

Marhaenist.id, Ternate - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

PDI-P dan Revisi UU TNI

Marhaenist.id - Dengan adanya penolakan masyarakat terhadap revisi Undang-Undang TNI, PDI-P seharusnya…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?