
Marhaenist.id – Di balik hiruk-pikuk pembangunan nasional, Pulau Sumatera kembali menuntut perhatian yang lebih serius. Bencana alam yang datang berulang seperti banjir, longsor, hingga kerusakan infrastruktur vital yang menggambarkan satu fakta yang tak dapat dibantah: Sumatera adalah rumah besar jutaan warga yang selama ini sering harus berjuang sendiri menghadapi kerasnya perubahan alam dan ketimpangan pembangunan.
Namun di tengah kenyataan pahit itu, selalu ada ruang untuk berharap. Ada asa yang tumbuh dari solidaritas, kerja kolektif, dan tekad warga yang tak pernah padam.
Sumatera adalah pulau strategis dengan sumber daya alam melimpah, jalur logistik penting, dan tradisi kebudayaan yang kuat. Tetapi apa yang terjadi belakangan memperlihatkan betapa rapuhnya fondasi pembangunan ketika tidak disertai visi keberlanjutan.
Hutan yang digunduli, sungai yang tercekik sedimentasi, serta tata ruang yang padat tanpa perencanaan matang menjadikan banyak daerah rentan sekali terhadap banjir besar. Ini bukan sekadar bencana alam; ini adalah bencana peradaban yang lahir dari kesalahan manusia. Namun di situlah pula titik balik dapat dimulai.
Asa buat Sumatera tumbuh dari kepedulian warga yang bergerak tanpa menunggu komando. Ketika banjir menghantam, para pemuda turun sebagai relawan; ketika warga kehilangan rumah, gotong royong menjadi tiang penyangga kehidupan; ketika jalan rusak memutus akses, masyarakat sendiri bergotong membangun jalur alternatif. Sumatera tetap berdiri karena rakyatnya tidak pernah menyerah. Solidaritas adalah kekuatan yang tak terlihat, tapi selalu hadir sebagai penyelamat.
Namun, asa tidak berhenti pada solidaritas semata. Pemerintah, baik pusat maupun daerah, harus menjadikan Sumatera sebagai prioritas strategis, bukan sekadar wilayah yang sesekali dikunjungi ketika musibah besar terjadi.
Diperlukan langkah nyata: pemulihan ekosistem secara konsisten, penataan tata ruang yang tegas, pembangunan infrastruktur yang adaptif terhadap risiko bencana, serta pendidikan publik tentang mitigasi sejak usia dini. Tanpa itu semua, Sumatera akan terus menjadi korban dari siklus bencana yang sama.
Lebih jauh lagi, Sumatera butuh keberpihakan pembangunan yang adil. Selama ini, pulau ini memberi banyak bagi negeri dari hasil bumi hingga energi, namun tidak selalu mendapatkan porsi yang layak untuk kembali memperkuat ketahanan ruang hidupnya. Harapan yang tumbuh bukan hanya untuk pulih dari bencana, tetapi juga untuk bangkit sebagai kawasan maju, tangguh, dan berdaya secara ekonomi maupun ekologis.
Asa buat Sumatera bukanlah slogan kosong. Ia adalah seruan agar negeri ini tidak melupakan salah satu jantung kehidupannya. Asa itu hidup dalam tekad masyarakat yang terus berdiri, dalam gerakan solidaritas yang tak pernah padam, dan dalam panggilan moral untuk membangun dengan cara yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.
Bila kita mampu menjawab panggilan ini dengan kebijakan yang tepat, keberanian politik, dan kolaborasi tanpa batas, maka Sumatera bukan hanya pulih, tetapi bangkit dengan martabat yang lebih tinggi.
Sumatera masih punya asa. Tinggal bagaimana kita, sebagai satu bangsa, menyalakan dan menjaga nyalanya.***
Catatan Redaksi, Penulis: La Ode Mustawwadhaar.