By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Kunjungan DPK GMNI UBP Karawang ke DPP GMNI Jadi Ruang Refleksi Kepemimpinan Berbasis Marhaenisme
Tanggapi Dugaan Keracunan Massal MBG di Duren Sawit, Direktur Eksekutif Sentra Institute Soroti Lemahnya Pengawasan dan Transparansi Vendor
RTH Penting, GMNI Jakarta Timur: Jangan Sampai Menumbalkan Rakyat dan Jadi Lahan Korupsi
Tan Malaka Bukan Pendiri Republik?
Soroti Kemacetan Ketapang, Sonny T. Danaparamita: Ini Kegagalan Manajemen Logistik

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Ahlusunnah wa Syiah wal Marhaenisme: Teologi Perlawanan bagi Kaum Tertindas

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Jumat, 13 Maret 2026 | 01:41 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Firman Tendry Masengi, Advokat, Kolumnis Hukum, Direktur Eksekutif RECHT Institute (Dokpri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Sejarah panjang umat manusia memperlihatkan satu pola yang terus berulang: kekuasaan yang menindas selalu berusaha mengendalikan agama, sementara kaum tertindas selalu mencari makna agama sebagai sumber pembebasan.

Dalam konteks dunia Islam dan realitas sosial Indonesia, pertemuan antara Ahlusunnah, Syiah, dan Marhaenisme membuka ruang refleksi baru mengenai agama sebagai energi perlawanan terhadap struktur penindasan.

Jika dibaca melalui kerangka teologi perlawanan, ketiganya tidak lagi dipahami sebagai identitas ideologis yang saling berseberangan, melainkan sebagai horizon etis yang berpihak pada kaum mustadh’afin—mereka yang dimarjinalkan oleh kekuasaan ekonomi, politik, dan budaya. Bahkan oleh kolonialisme dan Imperialisme baru.

Dalam tradisi Ahlusunnah, prinsip keadilan sosial sebenarnya telah mengakar dalam ajaran Islam sejak awal. Spirit ini terlihat dalam tradisi kritik terhadap tirani, sebagaimana diwariskan oleh tokoh-tokoh seperti Ahmad ibn Hanbal yang berani menentang pemaksaan kekuasaan negara atas otoritas keagamaan.

Dalam sejarahnya, Ahlusunnah tidak semata-mata menjadi doktrin stabilitas politik, melainkan juga menyimpan potensi etika perlawanan ketika kekuasaan berubah menjadi zalim. Prinsip amar ma’ruf nahi munkar, jika dipahami secara radikal, bukan sekadar moral individual, tetapi juga kewajiban sosial untuk melawan struktur ketidakadilan.
Sementara itu, dalam tradisi Syiah, teologi perlawanan hadir dengan ekspresi yang lebih eksplisit melalui narasi pengorbanan dan penentangan terhadap tirani. *Tragedi Battle of Karbala* menjadi simbol universal perlawanan terhadap kekuasaan yang korup.

Sosok Husayn ibn Ali tidak hanya dimaknai sebagai figur religius, tetapi sebagai ikon moral yang menolak tunduk pada legitimasi kekuasaan yang tidak adil. Dalam perspektif ini, Karbala bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan paradigma teologis: bahwa kebenaran harus ditegakkan bahkan ketika berhadapan dengan kekuasaan yang dominan.

Baca Juga:   Tan Malaka Bukan Pendiri Republik?

Paradigma tersebut kemudian dikembangkan secara intelektual oleh pemikir revolusioner seperti Ali Shariati yang menafsirkan Islam sebagai ideologi pembebasan bagi kaum tertindas.

Bagi Shariati, Islam bukan agama yang memihak status quo, tetapi agama yang menghidupkan kesadaran revolusioner terhadap struktur penindasan. Ia membedakan antara Islam sebagai kekuatan emansipatoris dan Islam yang telah direduksi menjadi alat legitimasi kekuasaan.

Di Indonesia, gagasan pembelaan terhadap kaum tertindas menemukan bentuk politiknya dalam konsep Marhaenisme yang diperkenalkan oleh Sukarno. Istilah Marhaen merujuk pada rakyat kecil—petani, buruh, dan kaum miskin kota—yang hidup di bawah tekanan struktur ekonomi kolonial dan kapitalisme global.

Dalam kerangka ini, Marhaenisme tidak sekadar ideologi politik nasional, tetapi juga sebuah etika keberpihakan terhadap mereka yang tertindas dalam cakrawala universal.

Jika ketiga horizon ini dipertemukan, maka Ahlusunnah, Syiah, dan Marhaenisme sebenarnya memiliki titik temu yang mendalam: keberpihakan terhadap kaum tertindas dan ketimpangan dunia dalam relasi eksploitasi negara maju terhadap negara terbelakang.

Dalam bahasa teologi, mereka adalah mustadh’afin; dalam bahasa politik Indonesia, mereka adalah Marhaen. Persilangan ini membuka kemungkinan lahirnya suatu teologi sosial yang tidak terjebak pada sektarianisme mazhab, melainkan bergerak menuju solidaritas kemanusiaan yang lebih luas.

Teologi perlawanan dalam kerangka ini tidak berangkat dari konflik identitas, tetapi dari kesadaran struktural mengenai ketidakadilan. Ahlusunnah menyediakan basis etika komunitas dan stabilitas sosial yang berakar pada tradisi keilmuan Islam klasik. Syiah menawarkan simbolisme pengorbanan dan keberanian melawan tirani. Marhaenisme memberikan dimensi politik dan ekonomi yang konkret dalam membela rakyat kecil.

Ketika ketiganya dipadukan, terbentuk suatu paradigma teologis yang tidak hanya berbicara tentang iman, tetapi juga tentang pembebasan.
Paradigma ini memiliki relevansi besar bagi masyarakat kontemporer yang dihadapkan pada krisis ketimpangan global.

Baca Juga:   Praktek Neo-kolonialisme dan Imperialisme dalam Perang Amerika Serikat vs Iran

Kapitalisme transnasional, oligarki politik, dan manipulasi agama sering kali bekerja bersama untuk mempertahankan dominasi elite. Dalam situasi seperti ini, agama dapat dengan mudah direduksi menjadi alat legitimasi kekuasaan.

Namun teologi perlawanan justru menolak reduksi tersebut dengan mengembalikan agama pada fungsi profetiknya: membela yang lemah dan menentang yang zalim.
Dengan demikian, dialog antara Ahlusunnah, Syiah, dan Marhaenisme bukan sekadar rekonsiliasi teologis, tetapi proyek etis untuk membangun solidaritas pembebasan. Ini menjadi pandu kita, bahwa perbedaan mazhab tidak boleh menenggelamkan misi utama agama: menegakkan keadilan dan membela kemanusiaan.

Dalam horizon ini, iman tidak berhenti pada ritual atau identitas, melainkan menjelma menjadi energi moral yang menggerakkan perjuangan melawan penindasan.

Pada akhirnya, teologi perlawanan menegaskan satu prinsip fundamental: agama yang berpihak pada kekuasaan tiranik telah kehilangan ruhnya. Sebaliknya, agama yang berdiri bersama kaum tertindas akan selalu menemukan relevansinya dalam sejarah.

Dalam perjumpaan antara Ahlusunnah, Syiah, dan Marhaenisme, kita melihat kemungkinan lahirnya sintesis baru—sebuah teologi hybrida yang tidak hanya berbicara tentang Tuhan, tetapi juga tentang keberanian manusia untuk melawan ketidakadilan.***


Penulis: Firman Tenry Masengi, Alumni GMNI, Advokat, Direktur Eksekutif RECHT Institute.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Kunjungan DPK GMNI UBP Karawang ke DPP GMNI Jadi Ruang Refleksi Kepemimpinan Berbasis Marhaenisme
Sabtu, 4 April 2026 | 08:53 WIB
Tanggapi Dugaan Keracunan Massal MBG di Duren Sawit, Direktur Eksekutif Sentra Institute Soroti Lemahnya Pengawasan dan Transparansi Vendor
Jumat, 3 April 2026 | 21:24 WIB
RTH Penting, GMNI Jakarta Timur: Jangan Sampai Menumbalkan Rakyat dan Jadi Lahan Korupsi
Jumat, 3 April 2026 | 20:00 WIB
Tan Malaka Bukan Pendiri Republik?
Jumat, 3 April 2026 | 18:34 WIB
Foto: Sonny T Danaparamita, Anggota DPR RI (Dokpri)/MARHAENIST.
Soroti Kemacetan Ketapang, Sonny T. Danaparamita: Ini Kegagalan Manajemen Logistik
Kamis, 2 April 2026 | 11:45 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Ngopi Bareng Abah Edi, Cara Kreatif Simpatisan Relawan SAE Serap Aspirasi Pengunjung Kopi Sidoarjo

Marhaenist.id, Sidoarjo - Berbagai bentuk sosialisasi kandidat calon kepala daerah dilakukan oleh…

Lawan Pengkhianatan Terhadap Konstitusi Oleh Penguasa Yang Merusak Keluhuran Pilkada 2024

Marhaenist.id - Indonesia adalah negara hukum yang demokratis, hal tersebut merupakan amanat…

Pengesahan RUU KUHAP Dinilai Mengancam Demokrasi: DPR Dituding Abaikan Gelombang Kritik Publik

Marhaenist.id, Jakarta - Pengesahan Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RUU…

Nurmiyati Bagit & Bahtiar Husni. MARHAENIST

Nurmiyati Bagit, Korban Lakalantas di Ternate Desak Penahanan Pelaku Demi Keadilan

Marhaenist, Ternate - Seorang ibu rumah tangga di Ternate, Maluku Utara, Nurmiyati…

Soroti Aksi Pencemaran Limbah Hasil Pengeboran RIG GWDC milik PT PHSS, GMNI Balikpapan Desak Kepolisian Bebaskan Nelayan

Marhaenist.id, Balikpapan - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Balikpapan menggelar konsolidasi internal…

Perbandingan Sekolah Mahal dan Sekolah Murah

Marhaenist.id - Ada yang berpendapat sekolah mahal itu wajar tujuannya agar menghargai…

Spirit Masjid Jogokaryan: Islam Modern yang Riil dalam Bingkai Marhaenisme

Marhaenist.id - Indonesia hari ini berdiri di persimpangan zaman. Islam, sebagai kekuatan…

Rezim Hibrida Prabowo

MARHAENIST - Rezim hibrida adalah rezim kekuasaan yang memiliki semua institusi demokrasi…

DPC GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Korupsi di DJP: Pajak Rakyat Tidak Aman

Marhaenist.id, Jakarta Timur – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?