By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Membongkar Teka-Teki G30S: Mengapa Tentara Menculik Tentara?
Kaltim dalam Bayang-Bayang Hak Angket
Perkuat Basis Organisasi, DPC GMNI Mamuju Tengah Lantik Tiga Komisariat Baru di Rumah Adat Lempo Gandeng
Tanah Dirampas, Hutan Digusur, Institut Marhaenisme 27: Nobar Film “Pesta Babi” Hidupkan Suara Papua
GMNI Ambon Gelar Konfercab XIV, Tegaskan Penguatan Gerakan Kaum Marhaen

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Historical

Mufti Palestina dan Kemerdekaan Indonesia: Solidaritas Internasional Melawan Kolonialisme

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Minggu, 15 Maret 2026 | 17:54 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Mufti Besar Amin al-Hussaini (bersorban) dan di sebelah kirinya Mohamed Ali al-Taher bersama para pemuda Indonesia (Foto: Buku Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Sejarah kemerdekaan Indonesia tidak hanya dibentuk oleh perjuangan rakyat di dalam negeri, tetapi juga oleh solidaritas internasional dari berbagai tokoh dunia yang menentang kolonialisme.

Daftar Konten
Seruan Politik dari YerusalemPolitik Anti-Kolonial dan Jaringan Dunia IslamMengapa Sejarah Ini Jarang Dibicarakan?Relevansi Politik Hari Ini

Salah satu sosok yang jarang dibicarakan dalam narasi sejarah populer Indonesia adalah Mohammad Amin al-Husseini, Mufti Agung Yerusalem yang secara terbuka menyerukan dukungan bagi kemerdekaan Indonesia di tengah tekanan kolonial Belanda dan memberikan hampir seluruh hartanya kepada Pemerintah Indonesia yang baru saja terbentuk agar bisa memakainya untuk amunisi Perjuangan Kemerdekaan Indonesia.

Di saat Republik Indonesia yang baru diproklamasikan pada tahun 1945 masih menghadapi ancaman kembalinya kekuasaan kolonial Belanda, dukungan dari dunia internasional menjadi faktor penting dalam memperkuat posisi diplomasi Indonesia. Dalam konteks itulah suara dari Timur Tengah, khususnya dari tokoh berpengaruh seperti al-Husseini, memiliki arti strategis.

Seruan Politik dari Yerusalem

Sebagai Mufti Agung di Yerusalem, Mohammad Amin al-Husseini bukan hanya seorang ulama, tetapi juga tokoh politik yang memiliki pengaruh besar di dunia Arab dan dunia Islam. Ia dikenal sebagai figur yang keras menentang kolonialisme Barat serta aktif menggalang solidaritas antarbangsa yang sedang berjuang untuk merdeka.

Melalui berbagai forum dan jaringan politiknya di Timur Tengah, al-Husseini menyerukan kepada negara-negara Arab dan umat Islam internasional untuk mendukung kemerdekaan Indonesia. Seruan tersebut tidak hanya bersifat moral, tetapi juga politis—mendorong negara-negara Arab untuk memberikan pengakuan terhadap Republik Indonesia yang saat itu masih berjuang mempertahankan kedaulatannya.

Langkah ini menjadi bagian dari tekanan diplomatik internasional terhadap Belanda yang berusaha memulihkan kembali kekuasaan kolonialnya di Nusantara.

Baca Juga:   Memoar Khrushchev: Bagaimana Awal Mula Persahabatan Indonesia Dengan Uni Soviet?

Politik Anti-Kolonial dan Jaringan Dunia Islam

Seruan dukungan dari Mufti Palestina itu menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia sejak awal telah menjadi bagian dari gelombang besar perlawanan terhadap kolonialisme global. Dalam perspektif politik internasional pada masa itu, perjuangan Indonesia tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan gerakan anti-kolonial di berbagai kawasan, termasuk di Timur Tengah.

Tokoh seperti Mohammad Amin al-Husseini memandang kemerdekaan bangsa-bangsa Asia dan Afrika sebagai bagian dari agenda historis untuk membongkar dominasi kolonial Barat. Oleh karena itu, dukungannya terhadap Indonesia bukan sekadar simpati, melainkan sikap politik yang tegas terhadap sistem kolonial.

Di tengah konflik yang juga dialami rakyat Palestina akibat kolonialisme dan perebutan wilayah, al-Husseini melihat perjuangan Indonesia sebagai simbol harapan bagi bangsa-bangsa tertindas.

Mengapa Sejarah Ini Jarang Dibicarakan?

Ironisnya, peran Mufti Palestina dalam mendukung kemerdekaan Indonesia tidak banyak mendapat perhatian dalam literatur sejarah nasional. Padahal, fakta ini menunjukkan bahwa kemerdekaan Indonesia memperoleh dukungan dari tokoh-tokoh dunia yang memiliki pengaruh besar dalam percaturan politik internasional.

Pengabaian terhadap sejarah ini juga membuat generasi muda kehilangan pemahaman tentang pentingnya solidaritas global dalam perjuangan kemerdekaan.

Narasi sejarah sering kali terlalu berfokus pada dinamika internal bangsa, sementara jaringan dukungan internasional yang turut memperkuat posisi diplomasi Indonesia justru kurang mendapat ruang dalam diskursus publik.

Relevansi Politik Hari Ini

Mengingat kembali dukungan Mufti Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia memiliki relevansi politik yang kuat hingga hari ini. Hubungan antara Indonesia dan Palestina tidak hanya berdiri di atas kepentingan diplomatik kontemporer, tetapi juga memiliki akar sejarah yang panjang.

Ketika Indonesia secara konsisten menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina di berbagai forum internasional, sikap tersebut sesungguhnya memiliki dasar historis yang kuat. Dukungan terhadap Palestina bukan sekadar sikap moral, melainkan juga bentuk penghormatan terhadap solidaritas yang pernah diberikan oleh tokoh-tokoh Palestina kepada perjuangan Indonesia.

Baca Juga:   Kucing Hitam Atau Kucing Putih dan Deng Xiaoping

Sejarah menunjukkan bahwa kemerdekaan tidak pernah lahir dari perjuangan yang terisolasi. Ia lahir dari solidaritas, keberanian politik, dan jaringan internasional yang melampaui batas negara.

Kisah tentang Mohammad Amin al-Husseini adalah pengingat bahwa perjuangan bangsa-bangsa tertindas selalu terhubung satu sama lain. Dan dalam sejarah Indonesia, suara dari Yerusalem pernah berdiri di pihak kemerdekaan republik ini.”**


Ditulis Oleh La Ode Mustawwadhaar yang diambil dan disimpulkan dari Berbagai Macam Sumber.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Membongkar Teka-Teki G30S: Mengapa Tentara Menculik Tentara?
Senin, 18 Mei 2026 | 05:30 WIB
Kaltim dalam Bayang-Bayang Hak Angket
Minggu, 17 Mei 2026 | 22:36 WIB
Perkuat Basis Organisasi, DPC GMNI Mamuju Tengah Lantik Tiga Komisariat Baru di Rumah Adat Lempo Gandeng
Minggu, 17 Mei 2026 | 20:19 WIB
Tanah Dirampas, Hutan Digusur, Institut Marhaenisme 27: Nobar Film “Pesta Babi” Hidupkan Suara Papua
Minggu, 17 Mei 2026 | 18:47 WIB
GMNI Ambon Gelar Konfercab XIV, Tegaskan Penguatan Gerakan Kaum Marhaen
Minggu, 17 Mei 2026 | 14:02 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Pertemuan antara Ketua DPR RI sekaligus Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Puan Maharani dan Ketua Umum (Ketum) Golkar Airlangga Hartarto di kawasan Monas, Jakarta (08/10/2022). FILE/Detik

Temui Ketua Umum Golkar, Puan Maharani Bahas Hal Ini

Marhaenist - Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto menjadi ketum parpol yang keempat…

Hari Ibu di Kandang Rakyat: Ir. Robi Agustiar Salah Satu Pendiri GMNI Sumedang Tegaskan Peternak adalah Marhaen Modern

Marhaenist.id, Bandung - Di tengah peringatan Hari Ibu, Ir. Robi Agustiar, S.Pt.,…

DPC GMNI Pasaman Kecam Keras Tindakan Represif Oknum Kepolisian Labuhan Batu

Marhaenist.id, Pasaman — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Dukung Fatwa Mahkamah Internasional, Indonesia Minta Israel Akhiri Pendudukan di Palestina

Marhaenist.id, Den Haag - Mahkamah Internasional (ICJ) di Den Haag, Belanda, pada…

Pilkada 2024: Kesadaran Politik Pemilih Muda 

Marhaenist.id - Masyarakat Indonesia akan menggelar Pilkada serentak yang akan dilaksanakan pada…

Pilkada Lewat DPRD, Bentuk Perampasan Hak Rakyat untuk Berdaulat Secara Politik

Marhaenist.id - Mengalihkan Pilkada dari tangan rakyat ke ruang DPRD adalah bentuk…

Gelar Diskusi Publik, GMNI-FMN-AGRA-GSBI: Agenda Reforma Agraria dalam Bayang-Bayang Militerisme dan Ancaman Krisis Pangan

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Jakarta…

Sikapi Dugaan Pembunuhan Tahanan oleh Oknum Kepolisian, GMNI Polman Minta Pelaku di Hukum Sebarat-Beratnya

Marhaenist.id, Polman - Seorang tahanan laki-laki berinisial R, warga Dusun Tatamu, Desa…

Pemilu 2024 dan Tiktok

Marhaenis.id - Penggunaan media sosial dalam pemilu 2024 telah menjadi fakta yang…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?