
Marhaenist.id – Ketika membaca Penyambung Lidah Rakyat (PLR), penulis melihat cover belakang buku. Terlihat disitu wajah ganteng Guruh Soekarnoputra. Selanjutnya, penulis cek di internet dengan keyword “Guruh Soekarnoputra muda”. Berdasarkan hasil pencarian itu, muncul penjelmaan Bung Karno muda tetapi berbaju kemeja rapih ala artis tahun 70 atau 80-an. Tanpa edit-edit ataupun Artificial Intelligence, foto itu asli terarsip di internet, walaupun mungkin orang-orang akan mencap foto-foto tersebut sebagai buatan AI. Cerita tersebut adalah contoh dari benih-benih komoditas baru yang agaknya di masa depan sangatlah langka. Komoditas tersebut adalah orisinalitas.
Di zaman sekarang, mulai dari restorasi foto lama hingga film di TV dapat diproduksi oleh kecerdasan buatan. Akibatnya, hal itu mengancam industri kreatif seperti jasa editing dan rumah film. Ancaman nyata juga menimpa dunia berita informasi dan sosial politik. Dimana video bohongan dari AI dapat menipu masyarakat dengan berita palsu. Istilah yang menggambarkan ancaman ini adalah “deepfake”, dimana muka, suara, dan ekspresi muka seseorang dengan mudah direplikasi oleh AI.
Selain ancaman, foto dan video AI juga memenuhi laman sosial media kita. Sosial media yang awalnya menjadi tempat berbagi status dan informasi, sekarang berubah menjadi tempat yang penuh dengan konten bohongan atau editan AI. Ditambah lagi, akun-akun hiburan AI muncul dan menggerus konten kreator asli. Istilah yang menggambarkan hal tersebut merupakan “AI Slop”. Ini sama seperti seorang yang tadinya tinggal di lingkungan yang asri dan tiba-tiba muncul sampah dimana-mana yang membuat tidak nyaman.
For your information, teknologi AI yang digunakan untuk pengeditan dan kreasi foto-video itu menghasilkan banyak polusi. Pertama, polusi batu bara dan fosil yang meningkat karena model AI membutuhkan inang berupa super-komputer dengan pemakaian daya yang sangat tinggi. Kedua, super-komputer itupun membutuhkan pergantian sparepart berkala dan waktunya sangat cepat. Akibatnya, terdapat peningkatan suhu yang mengganggu ekosistem di tempat super-komputer itu ada dan kenaikan harga spare-part komputer seperti RAM.
Lalu, apakah ini tanda-tanda krisis baru akibat tren AI? Kenapa teknologi AI yang seharusnya membantu manusia justru membuat krisis baru dan membuat umat manusia jatuh dari dasar kehidupan, yaitu orisinalitas?
Di dalam tulisan ini, penulis sekali lagi meng-highlight kasus yang akan dibahas, yaitu: krisis orisinalitas akibat AI. Orisinil yang dimaksud lebih tepatnya adalah suatu hal yang muncul secara alamiah atau diproduksi oleh manusia. Orisinalitas dapat diuji dari konsistensinya. Contohnya, lukisan karya Van Gogh dan Ghibli Studio memiliki konsistensi gaya lukisan. Konsistensi itu dikenal oleh orang lain sehingga dicap sebagai gaya dari sang pelukis. Sementara itu, pihak lain yang mencoba membuat lukisan dengan gaya yang telah diakui milik orang lain akan tetap tidak orisinil.
Masalah belum muncul ketika hanya satu atau beberapa orang yang meniru gaya seorang pelukis. Masalah akan muncul ketika satu atau beberapa pihak tersebut dapat mencetak lukisan 1000 kali lebih cepat dibanding si pelukis asli. Penghargaan orang terhadap konsistensi orisinil akan hilang ketika “semua orang dapat melakukannya”. Seindah apapun lukisan, karya, dan konten akan terasa “hampa” jika dengan mudah direplikasi tanpa adanya “effort” yang lebih. Cukup dengan beberapa “klik” di aplikasi dan AI akan membuat gambar atau video dengan gaya apapun yang kita mau.
Para pembaca sekalian, masih ingat dengan istilah “new normal” di zaman Covid-19 dulu? Yaitu, istilah yang ditunjukkan untuk menghimbau masyarakat untuk melakukan kebiasaan baru agar dapat beradaptasi dengan situasi baru. Misalnya, dulu di “new normal” masyarakat dihimbau untuk memakai masker, membawa hand sanitizer, dan transaksi menggunakan non-tunai. Akibat dari himbauan tersebut beberapa komoditas seperti masker, etanol, dan e-wallet mengalami kenaikan permintaan. Dengan kenaikan permintaan, otomatis harga komoditas tersebut akan naik. Momentum kenaikan harga, sering kali, digunakan oleh pihak-pihak untuk memonopoli harga demi keuntungan dengan cara memborong dan membatasi jumlah komoditas di pasar.
Jika pembaca jeli, kejadian diatas sama dengan kasus yang penulis sekarang bahas. Dimana dengan adanya situasi baru, maka akan ada “new normal” dan kenaikan permintaan terhadap komoditas. Krisis orisinalitas akibat “AI Slop” membuat komoditas dasar yang menunjukkan sisi “orisinalitas” yang padahal merupakan hal dasar menjadi langka. Kelangkaan konten orisinil, berita informasi yang dipercaya, dan sosial media yang aman dari resiko penipuan diakibatkan oleh mesin-mesin AI dan pemakaiannya.
Pembaca sekalian, kasus yang kita bahas merupakan salah satu ironi dari “perkembangan teknologi”. Perkembangan teknologi tidak akan memberikan manfaat, jika tidak didasari oleh kebutuhan yang riil. Ketika dulu manusia bisa mendaratkan diri di bulan dengan komputer pesawat dengan spesifikasi yang sangat rendah, tapi, sekarang manusia dengan super-komputer-nya malah menciptakan krisis baru. Padahal, para ilmuan dulu meramalkan di zaman ini bahwa kita sudah bisa menghuni Mars atau bahkan planet entah berantah dan mengakhiri perang sumber daya alam.
Ironi yang lebih ironi, ketika pemerintahan kita justru mendorong dan meng-endorse AI atas nama “perkembangan teknologi” tanpa menimbang manfaat riil-nya. Ketika siswa tidak dididik untuk kreatif di sekolah dan kreatifitas budaya lokal yang telah ditinggalkan angkatan muda, pemerintah lebih memilih menggunakan “AI Slop” sebagai jawaban. Dari mulai kampanye politik, iklan humas instansi pemerintahan, dan produk digital yang “harus serba AI” membentuk masyarakat yang semakin tidak kreatif.
Maka dari itu, kita harus sama-sama sadar, bahwa krisis orisinalitas saat ini harus ditanggapi secara bijak. Krisis ini menunjukkan bahwa kreatifitas manusia itu sangat penting dan berharga. Bukan seperti pemerintah, yang malahan mendorong masyarakat agar malas berkreatifitas dengan meng-endorse terus AI. Penulis menghimbau “AI New Normal” yang bisa dilakukan secara gratis, yaitu dengan berpegang kepada prinsip “Berkepribadian dalam Kebudayaan” ala Trisakti Bung Karno.
Sila ke-3 Trisakti itu tidak hanya berbicara tentang menjaga keluhuran budaya Indonesia. Sila tersebut juga mendorong bangsa Indonesia untuk kreatif. Hal kecil yang bisa kita lakukan dalam mengimplementasikan sila tersebut adalah melatih diri untuk membaca, menulis, melukis, atau bermain musik. Ketika semua orang tidak punya “kepribadian” dan “hampa” karena tergantung dengan AI, kita dapat jauh lebih berharga karena memiliki daya kreatifitas yang tinggi dan original.***
Penulis: Farhan Harahap, Kader GMNI Jakarta Barat.