By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Selamat Datang di “AI New Normal”

Trian Walem
Trian Walem Diterbitkan : Minggu, 22 Februari 2026 | 00:06 WIB
Bagikan
Waktu Baca 7 Menit
Foto: Farhan Harahap, Kader GMNI Jakarta Barat (Dokpri)/MARHAENIST
Bagikan

Marhaenist.id – Ketika membaca Penyambung Lidah Rakyat (PLR), penulis melihat cover belakang buku. Terlihat disitu wajah ganteng Guruh Soekarnoputra. Selanjutnya, penulis cek di internet dengan keyword “Guruh Soekarnoputra muda”. Berdasarkan hasil pencarian itu, muncul penjelmaan Bung Karno muda tetapi berbaju kemeja rapih ala artis tahun 70 atau 80-an. Tanpa edit-edit ataupun Artificial Intelligence, foto itu asli terarsip di internet, walaupun mungkin orang-orang akan mencap foto-foto tersebut sebagai buatan AI. Cerita tersebut adalah contoh dari benih-benih komoditas baru yang agaknya di masa depan sangatlah langka. Komoditas tersebut adalah orisinalitas.

Di zaman sekarang, mulai dari restorasi foto lama hingga film di TV dapat diproduksi oleh kecerdasan buatan. Akibatnya, hal itu mengancam industri kreatif seperti jasa editing dan rumah film. Ancaman nyata juga menimpa dunia berita informasi dan sosial politik. Dimana video bohongan dari AI dapat menipu masyarakat dengan berita palsu. Istilah yang menggambarkan ancaman ini adalah “deepfake”, dimana muka, suara, dan ekspresi muka seseorang dengan mudah direplikasi oleh AI.

Selain ancaman, foto dan video AI juga memenuhi laman sosial media kita. Sosial media yang awalnya menjadi tempat berbagi status dan informasi, sekarang berubah menjadi tempat yang penuh dengan konten bohongan atau editan AI. Ditambah lagi, akun-akun hiburan AI muncul dan menggerus konten kreator asli. Istilah yang menggambarkan hal tersebut merupakan “AI Slop”. Ini sama seperti seorang yang tadinya tinggal di lingkungan yang asri dan tiba-tiba muncul sampah dimana-mana yang membuat tidak nyaman.

For your information, teknologi AI yang digunakan untuk pengeditan dan kreasi foto-video itu menghasilkan banyak polusi. Pertama, polusi batu bara dan fosil yang meningkat karena model AI membutuhkan inang berupa super-komputer dengan pemakaian daya yang sangat tinggi. Kedua, super-komputer itupun membutuhkan pergantian sparepart berkala dan waktunya sangat cepat. Akibatnya, terdapat peningkatan suhu yang mengganggu ekosistem di tempat super-komputer itu ada dan kenaikan harga spare-part komputer seperti RAM.

Baca Juga:   Menolak Gelar Pahlawan Nasional bagi Soeharto adalah Kewajiban Ideologis bagi Marhaenis

Lalu, apakah ini tanda-tanda krisis baru akibat tren AI? Kenapa teknologi AI yang seharusnya membantu manusia justru membuat krisis baru dan membuat umat manusia jatuh dari dasar kehidupan, yaitu orisinalitas?

Di dalam tulisan ini, penulis sekali lagi meng-highlight kasus yang akan dibahas, yaitu: krisis orisinalitas akibat AI. Orisinil yang dimaksud lebih tepatnya adalah suatu hal yang muncul secara alamiah atau diproduksi oleh manusia. Orisinalitas dapat diuji dari konsistensinya. Contohnya, lukisan karya Van Gogh dan Ghibli Studio memiliki konsistensi gaya lukisan. Konsistensi itu dikenal oleh orang lain sehingga dicap sebagai gaya dari sang pelukis. Sementara itu, pihak lain yang mencoba membuat lukisan dengan gaya yang telah diakui milik orang lain akan tetap tidak orisinil.

Masalah belum muncul ketika hanya satu atau beberapa orang yang meniru gaya seorang pelukis. Masalah akan muncul ketika satu atau beberapa pihak tersebut dapat mencetak lukisan 1000 kali lebih cepat dibanding si pelukis asli. Penghargaan orang terhadap konsistensi orisinil akan hilang ketika “semua orang dapat melakukannya”. Seindah apapun lukisan, karya, dan konten akan terasa “hampa” jika dengan mudah direplikasi tanpa adanya “effort” yang lebih. Cukup dengan beberapa “klik” di aplikasi dan AI akan membuat gambar atau video dengan gaya apapun yang kita mau.

Para pembaca sekalian, masih ingat dengan istilah “new normal” di zaman Covid-19 dulu? Yaitu, istilah yang ditunjukkan untuk menghimbau masyarakat untuk melakukan kebiasaan baru agar dapat beradaptasi dengan situasi baru. Misalnya, dulu di “new normal” masyarakat dihimbau untuk memakai masker, membawa hand sanitizer, dan transaksi menggunakan non-tunai. Akibat dari himbauan tersebut beberapa komoditas seperti masker, etanol, dan e-wallet mengalami kenaikan permintaan. Dengan kenaikan permintaan, otomatis harga komoditas tersebut akan naik. Momentum kenaikan harga, sering kali, digunakan oleh pihak-pihak untuk memonopoli harga demi keuntungan dengan cara memborong dan membatasi jumlah komoditas di pasar.

Baca Juga:   Membelah Nasionalis, Merapikan Kekuasaan: Tangan Imanuel Cahyadi, Setneg & BIN di Balik Perpecahan GMNI?

Jika pembaca jeli, kejadian diatas sama dengan kasus yang penulis sekarang bahas. Dimana dengan adanya situasi baru, maka akan ada “new normal” dan kenaikan permintaan terhadap komoditas. Krisis orisinalitas akibat “AI Slop” membuat komoditas dasar yang menunjukkan sisi “orisinalitas” yang padahal merupakan hal dasar menjadi langka. Kelangkaan konten orisinil, berita informasi yang dipercaya, dan sosial media yang aman dari resiko penipuan diakibatkan oleh mesin-mesin AI dan pemakaiannya.

Pembaca sekalian, kasus yang kita bahas merupakan salah satu ironi dari “perkembangan teknologi”. Perkembangan teknologi tidak akan memberikan manfaat, jika tidak didasari oleh kebutuhan yang riil. Ketika dulu manusia bisa mendaratkan diri di bulan dengan komputer pesawat dengan spesifikasi yang sangat rendah, tapi, sekarang manusia dengan super-komputer-nya malah menciptakan krisis baru. Padahal, para ilmuan dulu meramalkan di zaman ini bahwa kita sudah bisa menghuni Mars atau bahkan planet entah berantah dan mengakhiri perang sumber daya alam.

Ironi yang lebih ironi, ketika pemerintahan kita justru mendorong dan meng-endorse AI atas nama “perkembangan teknologi” tanpa menimbang manfaat riil-nya. Ketika siswa tidak dididik untuk kreatif di sekolah dan kreatifitas budaya lokal yang telah ditinggalkan angkatan muda, pemerintah lebih memilih menggunakan “AI Slop” sebagai jawaban. Dari mulai kampanye politik, iklan humas instansi pemerintahan, dan produk digital yang “harus serba AI” membentuk masyarakat yang semakin tidak kreatif.

Maka dari itu, kita harus sama-sama sadar, bahwa krisis orisinalitas saat ini harus ditanggapi secara bijak. Krisis ini menunjukkan bahwa kreatifitas manusia itu sangat penting dan berharga. Bukan seperti pemerintah, yang malahan mendorong masyarakat agar malas berkreatifitas dengan meng-endorse terus AI. Penulis menghimbau “AI New Normal” yang bisa dilakukan secara gratis, yaitu dengan berpegang kepada prinsip “Berkepribadian dalam Kebudayaan” ala Trisakti Bung Karno.

Baca Juga:   Kota Balikpapan Belum Merdeka?

Sila ke-3 Trisakti itu tidak hanya berbicara tentang menjaga keluhuran budaya Indonesia. Sila tersebut juga mendorong bangsa Indonesia untuk kreatif. Hal kecil yang bisa kita lakukan dalam mengimplementasikan sila tersebut adalah melatih diri untuk membaca, menulis, melukis, atau bermain musik. Ketika semua orang tidak punya “kepribadian” dan “hampa” karena tergantung dengan AI, kita dapat jauh lebih berharga karena memiliki daya kreatifitas yang tinggi dan original.***


Penulis: Farhan Harahap, Kader GMNI Jakarta Barat.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Minggu, 12 April 2026 | 13:37 WIB
Foto: Benediktus Aquino, Alumni GMNI DKI Jakarta (Dokpri)/MARHAENIST.
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Sabtu, 11 April 2026 | 22:02 WIB
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Sabtu, 11 April 2026 | 19:21 WIB
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 18:07 WIB
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 12:16 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Agama Pembebasan: Melawan Kesalehan yang Membunuh Kemanusiaan

Marhaenist.id - Di tengah gegap gempita kesalehan yang dipajang seperti etalase perhiasan,…

Tanggapi Kenaikan PPN 12%, GMNI Kendari Minta PJ Gubernur Sultra Lakukan Upaya Antisipasi Dampak Eskalasinya

Marhaenist.id, Kendari - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Minim Subtansi, Maha Sakti Esa Jaya: Debat Pilkada Penajam Paser Utara Jadi Ajang Jual Program

Marhaenist.id, Penajam Paser Utara - Aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, Maha Sakti…

Anggota Wantimpres Soekarwo dan rombongan bersama Bupati Malang M Sanusi (paling kiri) pada saat meninjau Stadion Kanjuruhan, di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (06/10/2022). TELEGRAF/Koeshondo W. Widjojo

Kunjungi Stadion Kanjuruhan, Wantimpres Siapkan Data Primer Bagi Jokowi

Marhaenist - Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) menyiapkan data-data primer untuk disampaikan kepada…

Akan Gelar Kongres Persatuan, Mimpi Besar Penyatuan GMNI akan Segera Terwujud Pasca Kongres Ambon

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual

Marhaenist.id, Palu — Kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Palu, Sahrul…

Gelar Konfercablub, Ogi Sahputra – Daniel Alfa Resmi Terpilih sebagai Ketua dan Sekretaris DPC GMNI Pekanbaru Periode 2025-2027

Marhaenist.id, Pekanbaru - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Gelar Diskusi Terbatas dengan Perhimpunan Agenda 45, Andi Widjajanto: Indonesia Butuh Strategi Tepat Hadapi Perubahan Global

Marhaenist.id, Jakarta - Tatanan Global tengah bergeser menuju sebuah tatanan baru, saat…

Logo Institut Sarinah/MARHAENIST.

Institut Sarinah: Jaga Ibu Pertiwi, Tegakkan Pancasila dalam Menavigasi Gejolak Bangsa

Marhaenist.id, Jakarta - Institut Sarinah menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?