
Marhaenist.id – Dalam sejarah politik, partai besar jarang runtuh karena serangan dari luar. Justru, banyak yang melemah dari dalam. Konflik internal, perebutan pengaruh, fragmentasi kepemimpinan, hingga krisis regenerasi sering menjadi faktor yang lebih menentukan dibanding tekanan eksternal. Sejarah menunjukkan bahwa keruntuhan partai sering diawali bukan oleh kekuatan lawan, tetapi oleh retaknya fondasi internal yang sebelumnya menopang kekuatan mereka.
Partai politik modern adalah organisasi besar dengan beragam kepentingan, latar belakang, dan orientasi kekuasaan. Dalam kondisi ideal, keberagaman itu menjadi sumber kekuatan karena memperkaya perspektif dan memperluas basis dukungan. Namun, ketika struktur internal tidak solid, loyalitas kader melemah, atau proses kaderisasi tidak sehat, maka keberagaman itu justru berubah menjadi potensi konflik.
Ruang friksi terbuka lebar, dan organisasi perlahan kehilangan kohesi. Dalam kondisi seperti itu, perpecahan ideologi, rivalitas elite, dan hilangnya kepercayaan publik dapat terjadi secara bersamaan.
Konflik internal sering kali bukan sekadar perbedaan pandangan, tetapi pertarungan kepentingan yang tidak lagi dikendalikan oleh visi kolektif. Ketika orientasi perjuangan bergeser dari kepentingan rakyat menjadi sekadar perebutan posisi dan pengaruh, maka partai kehilangan arah ideologisnya. Pada titik ini, partai tidak lagi menjadi alat perjuangan politik, melainkan sekadar kendaraan kekuasaan. Akibatnya, militansi kader melemah, semangat perjuangan memudar, dan identitas politik menjadi kabur.
Selain itu, partai yang terlalu bergantung pada figur tertentu berisiko mengalami stagnasi regenerasi. Figur sentral memang dapat menjadi sumber legitimasi dan pemersatu, tetapi ketergantungan yang berlebihan menciptakan ketimpangan dalam distribusi kepemimpinan. Kader-kader potensial tidak mendapatkan ruang tumbuh, dan organisasi kehilangan dinamika.
Ketika kepemimpinan tidak berganti secara sehat dan terencana, energi politik partai perlahan menurun. Partai menjadi kaku, tidak responsif terhadap perubahan, dan semakin jauh dari realitas sosial yang dihadapi masyarakat.
Dalam situasi seperti ini, erosi kepercayaan publik menjadi konsekuensi yang sulit dihindari. Masyarakat, khususnya generasi muda, cenderung menjauh dari partai yang terlihat elitis, tertutup, dan tidak memberikan ruang partisipasi yang bermakna.
Kepercayaan adalah fondasi utama legitimasi politik. Sekali kepercayaan itu retak, pemulihannya membutuhkan waktu panjang dan kerja politik yang serius. Kompetitor bahkan tidak perlu melakukan serangan besar—cukup menunggu hingga partai tersebut kehilangan relevansinya secara alami.
Lebih jauh, krisis internal juga berdampak pada melemahnya kapasitas partai dalam menjalankan fungsi utamanya sebagai sarana pendidikan politik, artikulasi kepentingan rakyat, dan rekrutmen kepemimpinan nasional.
Partai yang lemah secara internal akan kesulitan melahirkan pemimpin berkualitas. Akibatnya, politik kehilangan arah transformasionalnya dan terjebak dalam rutinitas kekuasaan tanpa visi jangka panjang.
Dalam politik demokratis, kekuatan partai bukan hanya diukur dari jumlah kursi yang dimiliki, tetapi dari soliditas internal, kualitas kaderisasi, konsistensi ideologi, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Partai yang mampu menjaga integritas internal akan memiliki daya tahan politik yang lebih kuat, bahkan dalam situasi krisis sekalipun. Sebaliknya, partai yang rapuh secara internal, meskipun tampak besar di permukaan, sesungguhnya sedang berjalan menuju fase kemunduran.
Pada akhirnya, keberlangsungan partai politik sangat ditentukan oleh kemampuannya menjaga keseimbangan antara kekuasaan dan idealisme, antara kepemimpinan dan regenerasi, serta antara kepentingan elite dan aspirasi rakyat.
Tanpa fondasi internal yang kuat, partai sebesar apa pun bisa kehilangan relevansi, ditinggalkan kadernya, dan dilupakan oleh sejarah. Sebab dalam politik, kehancuran paling sering tidak datang dari luar, melainkan tumbuh perlahan dari dalam.
Penulis: Opan Sadiman, Alumni GMNI.