Marhaenist.id, Jakarta Timur — Wakil Kepala Bidang Ekonomi Kerakyatan dan UMKM DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Timur, Bima Sadiropa Sijabat, menegaskan bahwa akses permodalan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Jakarta Timur harus bersifat ramah pedagang dan tepat sasaran guna mendongkrak perekonomian daerah.
Di bawah kepemimpinan Ketua DPC GMNI Jakarta Timur, Jansen Henry Kurniawan, Bima menilai bahwa hingga saat ini masih banyak pelaku UMKM, khususnya pedagang kecil dan usaha mikro di tingkat kelurahan dan kecamatan, yang belum merasakan manfaat nyata dari berbagai program pembiayaan.
Persyaratan yang rumit, minimnya pendampingan, serta kurangnya sosialisasi menjadi hambatan utama dalam mengakses permodalan.
“Permodalan UMKM tidak boleh hanya berhenti pada angka dan laporan administratif. Aksesnya harus sederhana, mudah dipahami, dan benar-benar menyentuh pedagang kecil. Jika permodalan tepat sasaran, perputaran ekonomi di Jakarta Timur akan meningkat secara signifikan,” ujar Bima, Minggu (1/1/2026).
Menurutnya, penguatan akses permodalan harus dibarengi dengan program kerja yang mendorong lahirnya ide-ide ekonomi kreatif sebagai peluang usaha inovatif. Dengan demikian, UMKM tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang dan memiliki daya saing.
Bima menekankan pentingnya menumbuhkan semangat Marhaenispreneur, yakni jiwa kewirausahaan yang berpihak pada rakyat kecil, mandiri, dan berkeadilan.
Ia menyebut UMKM sebagai tulang punggung perekonomian daerah yang harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan.
“Kebijakan permodalan wajib disertai pendampingan usaha, pelatihan manajemen sederhana, serta pengawasan agar dana yang disalurkan digunakan secara produktif dan berkelanjutan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Bima mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat kolaborasi dengan lembaga keuangan, koperasi, serta komunitas UMKM.
Sinergi lintas sektor dinilai penting agar program pembiayaan tidak tumpang tindih dan benar-benar menjawab kebutuhan pelaku usaha di lapangan.
“Jika UMKM kuat, pedagang kecil berdaya, dan ekonomi kreatif tumbuh dari akar rumput, maka perekonomian Jakarta Timur akan bergerak naik secara berkelanjutan. Inilah semangat ekonomi kerakyatan dan Marhaenispreneur yang harus terus kita bangun,” pungkasnya.
Dengan kebijakan permodalan yang inklusif, ramah pedagang, dan tepat sasaran, serta didukung inovasi ekonomi kreatif, UMKM di Jakarta Timur diharapkan mampu naik kelas dan menjadi motor penggerak utama perekonomian daerah.***
Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.