By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
DPP GMNI Desak DPR RI Segera Sahkan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga
Geopolitik Pangan: Entok, Limbah Pangan, dan Masa Depan Kedaulatan Pangan Nusantara
Hadiri Kaderisasi GMNI, Bawaslu Kota Bekasi Ajak Mahasiswa Cermat Menyaring Informasi di Tengah Maraknya Hoaks
Di Forum MKRI–MK Mesir, Prof. Arief Hidayat Angkat Marhaenisme sebagai Etika Konstitusi
DPD GMNI DKI Jakarta Gelar Konferensi Daerah Pertama, Usung Tema Transformasi Jakarta Menuju Kota Global

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Geopolitik Pangan: Entok, Limbah Pangan, dan Masa Depan Kedaulatan Pangan Nusantara

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Senin, 26 Januari 2026 | 22:59 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Foto: Petenakan Bebek milik Bayu Sasongko, Pengamat Budaya Geopolitik Nusantara (Dokpri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Model usaha ternak entok pedaging berbiaya rendah kerap dipandang sebagai praktik ekonomi pinggiran. Namun jika dibaca lebih dalam, model ini justru merepresentasikan cara berpikir ekonomi Nusantara: bertumpu pada sumber daya lokal, tersebar, adaptif, dan menempatkan rakyat sebagai subjek produksi.

Dalam konteks Indonesia sebagai negara kepulauan dengan sejarah panjang ekonomi rakyat, ternak entok berbasis pakan lokal bukan sekadar usaha mikro, melainkan praktik nyata Marhaenisme dalam ruang geopolitik Nusantara.

Pendekatan ini semakin relevan di tengah tekanan ekonomi global, fluktuasi harga pangan, serta kecenderungan kebijakan negara yang makin bias pada industrialisasi berskala besar.

*Ekonomi Rakyat dan Rasionalitas Marhaen*

Usaha ternak entok pedaging skala kecil, misalnya dimulai dari 100 ekor bibit per siklus, mencerminkan rasionalitas ekonomi Marhaen: usaha dikelola langsung oleh pemiliknya, menggunakan alat produksi sederhana, tanpa eksploitasi tenaga kerja, dan berorientasi pada keberlanjutan.

Asumsi mortalitas sekitar 20 persen pada fase awal pemeliharaan juga menunjukkan pendekatan yang realistis, bukan romantik. Marhaenisme tidak menjanjikan keuntungan instan, tetapi menekankan kehati-hatian dan ketahanan usaha. Dari 100 ekor bibit, panen bersih sekitar 80 ekor sudah cukup menjaga kelayakan ekonomi.

Dengan biaya produksi sekitar Rp1,45 juta per periode dan potensi laba bersih ±Rp3,75 juta, usaha ini memiliki titik impas rendah dan margin aman. Ini adalah ciri khas ekonomi rakyat: tidak spektakuler, tetapi tahan guncangan.

*Pakan Lokal sebagai Politik Pangan*

Penggunaan pakan alternatif lokal seperti ampas tahu bukan sekadar strategi menekan biaya. Ia merupakan simbol kedaulatan pangan berbasis wilayah. Dalam sejarah Nusantara, kekuatan ekonomi tidak dibangun dari sentralisasi input, melainkan dari jejaring lokal, desa, pasar tradisional, pesisir, dan pedalaman yang saling menopang.

Baca Juga:   Putusan MK 135/PUU-XXII/2024 Mengubah Sistem Pemilu Kita

Lebih jauh, pakan entok juga dapat disokong oleh limbah buah dan sayur-sayuran dari pasar rakyat, rumah tangga, dan sentra distribusi pangan. Sisa sayuran hijau, kulit buah, hingga limbah pasar yang masih layak konsumsi ternak merupakan sumber pakan potensial yang selama ini terbuang.

Pemanfaatan limbah buah dan sayur ini memiliki makna strategis:
* Menekan biaya pakan secara signifikan,
* Mengurangi sampah organik dan beban lingkungan,
* Menghubungkan sektor peternakan dengan ekosistem pasar rakyat,
* Menciptakan ekonomi sirkular berbasis desa dan kota kecil.
Dalam kerangka Marhaenisme, pemanfaatan limbah pangan adalah bentuk pembebasan alat produksi dari ketergantungan industri. Peternak tidak lagi sepenuhnya tunduk pada pakan pabrikan dan fluktuasi harga global, melainkan mengandalkan sumber daya yang tersedia di sekitarnya.

Dari sisi kualitas, pakan alami berbasis limbah buah dan sayur, jika dikelola dengan baik, ikut berkontribusi pada kualitas daging entok yang lebih sehat: protein tinggi, lemak relatif rendah, serta minim residu kimia. Di sinilah pangan sehat bertemu dengan politik pangan rakyat.

*Geopolitik Nusantara dan Produksi Pangan Tersebar*

Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan sistem pangan yang tersebar dan beragam, bukan terpusat dan seragam. Ketahanan pangan Nusantara secara historis bertumpu pada keragaman protein lokal: ikan, unggas air, ternak kecil, dan pangan desa.

Model ternak entok berbasis desa, jika direplikasi luas, memperkuat ekonomi wilayah, mengurangi ketergantungan impor, dan menciptakan jejaring produksi pangan yang adaptif. Ini jauh lebih selaras dengan karakter geopolitik Nusantara dibanding model industri terintegrasi yang sentralistik.

*Kritik Arah Pembangunan Peternakan Nasional*

Di sinilah problem kebijakan muncul. Pemerintah Indonesia menyiapkan anggaran sekitar Rp20 triliun melalui Badan Pengelola Investasi Danantara untuk membangun peternakan ayam terintegrasi. Secara naratif, kebijakan ini diklaim untuk ketahanan pangan dan stabilisasi harga.

Baca Juga:   Mengurai Benang Kusut Korupsi SDA dan Syahwat Politik Dinasti di Wilayah Pesisir

Namun secara struktural, peternakan ayam terintegrasi justru berpotensi menyuburkan dominasi integrator ayam, korporasi yang telah menguasai rantai produksi dari hulu hingga hilir: pembibitan, pakan, obat, pemotongan, hingga distribusi.

Ketika dana publik diarahkan ke skema ini, negara berisiko memperkuat oligopoli pangan, bukan membebaskan peternak rakyat. Peternak kecil tetap berada di posisi plasma, menanggung risiko produksi, sementara kontrol dan margin keuntungan terkonsentrasi pada segelintir pelaku besar.

Dalam perspektif Marhaenisme, ini adalah kontradiksi: negara hadir, tetapi tidak sepenuhnya berpihak pada Marhaen.

*Sentralisasi vs Ketahanan Nusantara*

Peternakan ayam terintegrasi mendorong sentralisasi produksi pangan. Konsekuensinya jelas: rentan wabah, tergantung pakan industri dan energi, serta melemahkan jejaring pangan lokal.

Sebaliknya, peternakan rakyat berbasis desa, seperti ternak entok berbiaya rendah dengan pakan limbah lokal, menawarkan paradigma berbeda: produksi tersebar, risiko terbagi, dan ketahanan jangka panjang.

Dengan Rp20 triliun, negara sejatinya mampu menggerakkan jutaan unit usaha ternak rakyat, memperkuat pembiayaan mikro, serta mengembangkan sistem pakan alternatif berbasis limbah pangan. Pilihan kebijakan pada akhirnya adalah soal keberpihakan: efisiensi industri atau kedaulatan rakyat.

Usaha ternak entok pedaging berbiaya rendah bukan sekadar cerita sukses usaha kecil. Ia adalah cermin arah pembangunan: apakah negara membangun ketahanan dari bawah, atau terus menggantungkan pangan pada industri besar yang rapuh secara struktural.

Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, ketahanan bangsa tidak dibangun dari kandang raksasa dan konsentrasi modal, melainkan dari jutaan usaha rakyat yang mandiri, tersebar, dan berdaulat.

Di situlah Marhaenisme menemukan relevansinya kembali, bukan sebagai slogan, melainkan sebagai praktik ekonomi yang hidup di tanah Nusantara.***


Penulis: Bayu Sasongko, Pengamat Budaya Geopolitik Nusantara, Alumni GMNI.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

DPP GMNI Desak DPR RI Segera Sahkan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga
Senin, 26 Januari 2026 | 23:10 WIB
Hadiri Kaderisasi GMNI, Bawaslu Kota Bekasi Ajak Mahasiswa Cermat Menyaring Informasi di Tengah Maraknya Hoaks
Senin, 26 Januari 2026 | 03:18 WIB
Di Forum MKRI–MK Mesir, Prof. Arief Hidayat Angkat Marhaenisme sebagai Etika Konstitusi
Minggu, 25 Januari 2026 | 19:29 WIB
DPD GMNI DKI Jakarta Gelar Konferensi Daerah Pertama, Usung Tema Transformasi Jakarta Menuju Kota Global
Minggu, 25 Januari 2026 | 18:18 WIB
DPP GMNI Apresiasi Kemenangan Ekologis Masyarakat Adat Tano Batak
Minggu, 25 Januari 2026 | 18:17 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Dari kiri, Hadi Sucipto (Ketua Gapokmas Tani Mandiri Jatim), Dandim 0808 Blitar Letkol Sapto Priono, Wabub Blitar Rahmat Santoso, Tenaga Ahli Utama KSP Usep Setiawan, Sukidi (Kantah BPN Kab Blitar ), Kapolres Blitar AKBP Aditya Panji Anom, Marjoko (Pembina Tani Mandiri Jatim) dan Kapolresta Blitar AKBP Agro Wiyono. MARHAENIST

Tenaga Ahli Utama KSP Minta GTRA Kabupaten Blitar Lebih Proaktif Komunikasikan Konflik Agraria

Marhaenist - Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Usep Setiawan berdialog…

Kenang Tewasnya Randy-Yusuf sebagai Pahlawan Demokrasi, Front GMNI dan PMII Kendari Ingin Monumennya Segera Berdiri

Marhaenist.id, Kendari - Front Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Pergerakan Mahasiswa…

6 Orang Resmi Ditetapkan Sebagai Tersangka Terkait Tragedi Kanjuruhan

Marhaenist - Tragedi Kanjuruhan di Malang, Jawa Timur, yang menewaskan 131 orang…

Mengurai Benang Kusut Korupsi SDA dan Syahwat Politik Dinasti di Wilayah Pesisir

Marhaenist,id - Integritas ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia kini berada di…

Jeritan Sunyi Dalam Bayangan Hantu Pelecehan Seksual Terhadap Anak

Marhaenist.id - Pelecehan terhadap anak-anak merupakan pembunuhan karakter manusia sejak dini, yang…

DPC PA GMNI Solo Dukung Kadernya Maju Pada Kontestasi Pilkada 2024

Marhaenist.id, Solo - Dewan Pengurus Cabang (DPC) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

GMNI dan Teologi Perlawanan: Iman yang Menggugat, Ideologi yang Menghukum

Marhaenist.id - Indonesia hari ini adalah panggung besar tempat kekuasaan menari di…

Soal Ojol, Pemerintah Jadi Budak Korporasi

Marhaenist - Para pengemudi ojek online (Ojol) akhir akhir ini melakukan unjuk…

Dialektika “Menuju” dan “Mencapai”: Analisis Semantik-Ideologis dalam Pemikiran Tan Malaka dan Soekarno

Marhaenist.id - (Pendahuluan) Dalam kajian pemikiran politik, bahasa bukan sekadar medium komunikasi,…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?