By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Warisan Nasionalisme Indonesia: Nilai yang Mempertemukan Perbedaan Dalam Ikatan Persatuan
Kunjungan DPK GMNI UBP Karawang ke DPP GMNI Jadi Ruang Refleksi Kepemimpinan Berbasis Marhaenisme
Tanggapi Dugaan Keracunan Massal MBG di Duren Sawit, Direktur Eksekutif Sentra Institute Soroti Lemahnya Pengawasan dan Transparansi Vendor
RTH Penting, GMNI Jakarta Timur: Jangan Sampai Menumbalkan Rakyat dan Jadi Lahan Korupsi
Tan Malaka Bukan Pendiri Republik?

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
ArtikelOpini

Populisme Kanan dan Tantangan Demokrasi Marhaen di Era Digital

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Jumat, 23 Januari 2026 | 13:38 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Erik Ardiyanto, Ketua Badan Otonom Pendidikan dan Pelatihan DPP Persatuan Alumni GMNI (Sumber: FB Erik Ardiyanto)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Demokrasi Indonesia tengah menghadapi tantangan serius. Bukan dari absennya prosedur elektoral, melainkan dari menguatnya populisme kanan yang menjadikan politik identitas sebagai alat utama mobilisasi kekuasaan. Fenomena ini bukan sekadar persoalan perbedaan pilihan politik, tetapi ancaman nyata bagi kohesi sosial, keadilan, dan masa depan demokrasi itu sendiri.

Populisme kanan tumbuh subur di tengah kegagalan demokrasi liberal menjawab ketimpangan sosial dan ekonomi. Ketika rakyat menghadapi kemiskinan, pengangguran, dan mahalnya akses layanan dasar, demokrasi justru dipersempit menjadi ritual lima tahunan yang dikendalikan elite oligarki. Dalam situasi inilah, politik identitas hadir sebagai jalan pintas: mudah, emosional, dan efektif mengalihkan kemarahan rakyat dari persoalan struktural menuju sentimen agama, suku, dan ras.

Di Indonesia, populisme kanan tidak selalu tampil dalam bentuk rasisme terbuka seperti di Amerika Serikat atau sentimen anti-imigran seperti di Eropa. Ia menjelma dalam politik identitas keagamaan dan kesukuan yang membelah masyarakat ke dalam kategori “kita” dan “mereka”. Kontestasi politik dua pemilu terakhir menjadi bukti bagaimana narasi ini diproduksi dan direproduksi secara sistematis, terutama melalui media sosial.

Ruang publik digital yang seharusnya memperluas partisipasi warga justru berubah menjadi arena polarisasi. Hoaks, ujaran kebencian, dan logika sesat beredar luas tanpa kendali. Platform digital raksasa tidak netral; algoritma mereka justru diuntungkan oleh konflik dan emosi, karena polarisasi berarti atensi, dan atensi berarti keuntungan.

Dalam kondisi “pasca-kebenaran” ini, fakta sering dikalahkan oleh keyakinan dan emosi. Politik tidak lagi beradu gagasan, melainkan adu sentimen. Demokrasi kehilangan substansinya, sementara kebencian menjadi komoditas politik yang laku keras.

Lebih berbahaya lagi, populisme kanan kerap berkelindan dengan agenda radikalisme agama yang ingin menggantikan Pancasila dengan ideologi eksklusif. Upaya ini bukan hanya bertentangan dengan sejarah bangsa, tetapi juga mengancam pluralisme dan kebinekaan yang menjadi fondasi Indonesia.

Baca Juga:   Geopolitik Pangan: Entok, Limbah Pangan, dan Masa Depan Kedaulatan Pangan Nusantara

Di tengah situasi tersebut, pertanyaan penting perlu diajukan: di mana posisi politik kerakyatan dan perjuangan kelas? Politik identitas yang mendominasi ruang publik telah menyingkirkan isu-isu mendasar rakyat—kemiskinan, ketimpangan, hak buruh, akses kesehatan, dan keadilan ekonomi. Rakyat marhaen kembali menjadi korban, bukan subjek demokrasi.

Menghadapi situasi ini, demokrasi tidak cukup diselamatkan dengan seruan netralitas atau moderasi kosong. Diperlukan alternatif politik yang mampu mengembalikan demokrasi pada tujuan utamanya: keadilan sosial. Di sinilah relevansi demokrasi deliberatif dan sosio-demokrasi menemukan momentumnya.

Demokrasi deliberatif, sebagaimana dipahami Jürgen Habermas, menempatkan ruang publik sebagai arena dialog rasional untuk memperjuangkan kepentingan bersama. Sementara sosio-demokrasi, sebagaimana digagas Bung Karno, menegaskan bahwa demokrasi sejati harus menjamin kebebasan politik sekaligus keadilan ekonomi.

Demokrasi bukan hanya soal memilih pemimpin, tetapi tentang siapa yang diuntungkan oleh kebijakan. Tanpa keadilan ekonomi, kebebasan politik kehilangan makna.

Dalam konteks ini, populisme progresif berbasis marhaenisme menjadi tawaran strategis. Berbeda dengan populisme kanan yang memecah rakyat berdasarkan identitas sempit, populisme progresif membangun garis politik yang jelas antara rakyat marhaen dan oligarki. Musuh utama demokrasi bukan perbedaan iman atau suku, melainkan ketimpangan struktural yang dilanggengkan oleh segelintir elite.

Populisme progresif tidak menolak perbedaan, tetapi mengikatnya dalam solidaritas sosial. Ia mengusung isu nyata: upah layak, perlindungan sosial, UMKM, jaminan kesehatan, perlindungan data pribadi, dan hak-hak kelompok rentan.

Di era digital, perjuangan ini harus hadir di ruang yang sama dengan populisme kanan: media sosial. Literasi digital, media alternatif, dan pengorganisasian narasi progresif menjadi kebutuhan mendesak. Tanpa itu, ruang publik akan terus dikuasai oleh politik kebencian.

Negara juga tidak boleh absen. Regulasi terhadap platform digital, perlindungan data pribadi, dan jaminan kebebasan berekspresi yang adil harus ditegakkan. Demokrasi tidak boleh tunduk pada algoritma pasar.

Baca Juga:   PDI-P dan Revisi UU TNI

Pada akhirnya, masa depan demokrasi Indonesia ditentukan oleh keberanian kita memilih arah. Apakah demokrasi akan terus dikerdilkan menjadi arena politik identitas, atau dikembalikan sebagai alat perjuangan keadilan sosial?

Jawabannya terletak pada keberpihakan. Demokrasi yang berpihak pada rakyat marhaen bukan hanya pilihan ideologis, tetapi syarat utama untuk menjaga persatuan, keadilan, dan masa depan Indonesia.***


Disclaimer:

• Tulisan ini diringkas oleh Redaksi Marhaenist.id yang diambil dari Jurnal dengan judul “STRATEGI POPULISM PROGRESSIVE MARHENIMSE SOSIO DEMOKRASI DAN SOSIO – DIGITAL”

• Tulisan ini diringkas tanpa menghilangkan gagasan utama dari tulisan aslinya.

• Penulis Jurnal: Erik Ardiyanto, Ketua Badan Otonom Pendidikan dan Pelatihan DPP Persatuan Alumni GMNI.

• Jurnal ini telah diterbitkan oleh Jurnalpersatuannasional.id yang dikelola oleh DPP PA GMNI.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Warisan Nasionalisme Indonesia: Nilai yang Mempertemukan Perbedaan Dalam Ikatan Persatuan
Minggu, 5 April 2026 | 12:58 WIB
Kunjungan DPK GMNI UBP Karawang ke DPP GMNI Jadi Ruang Refleksi Kepemimpinan Berbasis Marhaenisme
Sabtu, 4 April 2026 | 08:53 WIB
Tanggapi Dugaan Keracunan Massal MBG di Duren Sawit, Direktur Eksekutif Sentra Institute Soroti Lemahnya Pengawasan dan Transparansi Vendor
Jumat, 3 April 2026 | 21:24 WIB
RTH Penting, GMNI Jakarta Timur: Jangan Sampai Menumbalkan Rakyat dan Jadi Lahan Korupsi
Jumat, 3 April 2026 | 20:00 WIB
Tan Malaka Bukan Pendiri Republik?
Jumat, 3 April 2026 | 18:34 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Rezim Hibrida Prabowo

MARHAENIST - Rezim hibrida adalah rezim kekuasaan yang memiliki semua institusi demokrasi…

Sukses Gelar Konfercab, Erik R Sibu – Fridodis Korois Resmi Terpilih sebagai Pimpinan GMNI Halut Periode 2025-2027

Maharenist.id, Halut - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Halmahera Utara (Halut) sukses…

Save Raja Ampat? Gugat Kolonialisme Ekologis, Kembalikan Kedaulatan ke Tanah Papua!

Marhaenist.id - Di ujung timur Indonesia, tersembunyi sebuah mahakarya alam yang kerap…

Tiongkok yang Terbangun: Antara Ambisi Adidaya dan Narasi Jebakan Utang

Marhaenist.id - Napoleon Bonaparte pernah mengatakan, “Biarkan Tiongkok tertidur, sebab ketika ia…

Ketua PA GMNI: Transisi Demokrasi Tak Boleh Mundur ke Era Sebelum Reformasi

Marhaenist.id, Jakarta - Ketua Umum DPP Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Prihatin Dengan Kondisi Demokrasi, Keluarga Besar GMNI Kritisi Intervensi Presiden Jokowi di Pemilu 2024 Lewat Manifesto Politik

Marhaenist.id, Jakarta - Keluarga Besar Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) membacakan Manivesto…

Ziarahi ke Makam Bung Karno, Berdoa dan Menabur: Pak Harto, Bung Karno dan Tiga Kosmologi (Catatan Perjalanan DPP PA GMNI 3)

Marhaenist.id, Blitar - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Revisi UU TNI: Ancaman Serius Bagi Demokrasi Indonesia

Marhaenist.id - Kita sedang menghadapi bahaya laten. Revisi UU TNI yang sedang…

Pernyataan Sikap Politik Konsolidasi Barisan Nasionalis

___________________________________________________ Terdiri dari perwakilan 27 organisasi dan para tokoh kaum Nasionalis BK.…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?