By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
GMNI Jeneponto Kukuhkan Pengurus Baru, Siap Bumikan Trisakti Bung Karno di Bumi Turatea
Manifesto GMNI di Tengah Jerat Hegemoni Sosial
Tanggapi Akan Adanya Pelaporan Firman Masengi, Pimred Marhaenist.id: Tuduhan Harus Diuji Secara Adil, Jangan Bungkam Ruang Kritik
Mengapa Kepemilikan Alat Produksi tetap menjadikan Marhen Miskin?
Routa Dikepung Oligarki Nikel dan Rakyat Dipinggirkan, DPP GMNI Bidang ESDM Siap Bergabung dalam Koalisi Besar Save Routa

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Pilkada Tak Langsung dan Ancaman Berulang Bagi Lingkungan Hidup

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Rabu, 7 Januari 2026 | 19:59 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Foto: Bung dan Sarinah GMNI Pasuruan (Dokpri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Wacana mekanisme pemilihan kepala daerah kepada DPRD kembali muncul ke permukaan. Dalihnya klasik yaitu efisiensi anggaran, stabilitas politik, dan mengurangi konflik horizontal. Namun di balik argumen teknokratis itu, ada persoalan yang jauh lebih mendasar dan jarang dibicarakan secara jujur yaitu masa depan lingkungan hidup.

Pemilihan kepala daerah secara langsung, dengan segala kekurangannya, setidaknya memberi ruang bagi rakyat untuk menentukan arah kepemimpinan daerahnya. Rakyat terutama masyarakat yang hidup di sekitar hutan, pesisir, gunung, dan sumber air punya kepentingan langsung terhadap siapa yang memegang kendali kebijakan. Ketika hak memilih itu ditarik dan diserahkan sepenuhnya kepada DPRD, maka jarak antara pengambil keputusan dan warga terdampak menjadi semakin lebar.

Masalahnya, DPRD bukan ruang hampa kepentingan. Ia adalah arena politik yang didominasi partai-partai. Dan di sinilah letak soal seriusnya. Tidak sedikit partai politik yang hari ini mendorong pilkada tak langsung justru memiliki rekam jejak panjang dalam mendukung kebijakan-kebijakan yang merusak lingkungan. Mulai dari pembukaan tambang di kawasan lindung, alih fungsi hutan untuk perkebunan skala besar, reklamasi pesisir, hingga proyek-proyek infrastruktur yang mengabaikan daya dukung ekologis.

Dalam praktik politik elektoral, kepala daerah kerap menjadi simpul penting bagi izin-izin lingkungan. Ketika pemilihnya adalah rakyat, setidaknya ada tekanan moral dan politik untuk mempertimbangkan suara publik. Tetapi jika pemilihnya hanya segelintir elite di DPRD, maka orientasi kebijakan berpotensi bergeser sepenuhnya pada kepentingan partai dan jejaring modal yang menopangnya.

Pilkada oleh DPRD membuka ruang transaksi yang lebih tertutup. Lobi-lobi politik menjadi lebih intens, lebih senyap, dan lebih sulit diawasi publik. Dalam situasi seperti ini, isu lingkungan hampir selalu menjadi korban pertama. Ia kalah oleh logika “balas jasa politik”, kebutuhan pembiayaan partai, dan kepentingan investor yang menginginkan karpet merah perizinan.

Baca Juga:   Strategi Golkar Menjaga Stabilitas di Tengah Pergantian Ketua Umum Menjelang Pilkada Serentak 2024

Mari bicara apa adanya. Selama ini, kerusakan lingkungan di Indonesia tidak lahir dari ruang kosong. Tapi lahir dari keputusan politik. Dan keputusan politik itu, dalam banyak kasus, dibuat oleh elite partai baik di pusat maupun di daerah yang punya hubungan erat dengan industri tambang, perkebunan skala besar, properti, dan proyek infrastruktur rakus lahan.

Dari perspektif ekologi politik (political ecology), kerusakan lingkungan bukan persoalan teknis, melainkan hasil relasi kuasa yang timpang. Siapa yang berkuasa menentukan siapa yang menanggung dampak. Dalam sistem pilkada tak langsung, relasi kuasa itu semakin timpang. Elite politik dan pemodal berada di satu sisi, sementara rakyat dan lingkungan berada di sisi yang dikorbankan.

Teori ini menjelaskan mengapa konflik agraria, kriminalisasi warga, dan pembungkaman pembela lingkungan terus berulang. Negara hadir bukan sebagai pelindung, tetapi sebagai pengaman investasi. Ketika DPRD menjadi penentu kepala daerah, maka negara lokal sepenuhnya jatuh ke dalam orbit kepentingan partai dan modal.

Pengalaman selama 2 dekade terakhir menunjukkan bahwa banyak kerusakan lingkungan di Indonesia bukan terjadi karena ketiadaan regulasi, melainkan karena kolusi antara penguasa daerah, partai politik, dan pemodal. Maka, mempersempit partisipasi rakyat dalam menentukan kepala daerah justru berisiko melanggengkan pola lama. Kekuasaan yang berjarak dari rakyat dan abai terhadap keberlanjutan lingkungan.

Karena itu, wacana pilkada tak langsung bukan sekadar soal mekanisme demokrasi, tetapi soal keberpihakan. Apakah negara masih percaya pada kedaulatan rakyat, atau justru memilih menyerahkannya pada elite politik yang rekam jejak ekologisnya bermasalah. Jika jawabannya yang kedua, maka kerusakan lingkungan bukan hanya akan berlanjut, tetapi dilembagakan secara politik.***


Penulis: Dandy Aulia Rachman, Ketua DPC GMNI Pasuruan.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Foto: Pelantikan DPC GMNI Jeneponto (Dok. GMNI Jeneponto)/MARHAENIST.
GMNI Jeneponto Kukuhkan Pengurus Baru, Siap Bumikan Trisakti Bung Karno di Bumi Turatea
Kamis, 16 April 2026 | 18:58 WIB
Manifesto GMNI di Tengah Jerat Hegemoni Sosial
Rabu, 15 April 2026 | 14:58 WIB
Tanggapi Akan Adanya Pelaporan Firman Masengi, Pimred Marhaenist.id: Tuduhan Harus Diuji Secara Adil, Jangan Bungkam Ruang Kritik
Rabu, 15 April 2026 | 14:13 WIB
Mengapa Kepemilikan Alat Produksi tetap menjadikan Marhen Miskin?
Selasa, 14 April 2026 | 20:54 WIB
Routa Dikepung Oligarki Nikel dan Rakyat Dipinggirkan, DPP GMNI Bidang ESDM Siap Bergabung dalam Koalisi Besar Save Routa
Selasa, 14 April 2026 | 19:40 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Menimbang Arah Indonesia dari Cermin Sejarah

Marhaenist.id - “Sejarah berulang,” begitulah teori klasik yang mengonfirmasi bacaan kita tentang…

Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Dari Barak ke Istana, Kembali ke Pangkuan Ilahi: Rakyat Melepas Try Sutrisno

Marhaenist.id, Jakarta — Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Pagi yang hening di…

Fenomena Jersey Indonesia vs Bahrain: Simbol Harapan atau Hilangnya Nurani?

Marhaenist.id - Momen emosional Indonesia vs Bahrain (25 Maret 2025) di stadion…

Abdy Yuhana: PA GMNI Mendorong Tiga Tokoh Mendapat Gelar Pahlawan Nasional

Marhaenist.id, Bandung - DPP Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Kritik Pernyataan Imanuel, Eksponen GMNI: Ada Pelecehan Demokrasi yang Ditutupi Demi Memenangkan Pilpres

Marhaenist.id, Jakarta - Eksponen Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menyayangkan pernyataan Imanuel…

Swambada Pangan dan Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia : Pertanian Skala Komersial (Food Estate) Berbasis Inti Plasma

Marhaenist.id - Kebutuhan akan pangan merupakan hal yang tidak terpisahkan dari masyarakat…

Berharap Dualisme Segera Berakhir, Dua Alumni GMNI Dukung adanya Kongres Persatuan

Marhaenist.id - Perpecahan antara kubu Imanuel Cahyadi/Soejahri Somar dan Arjuna Putra Aldino/M.…

Di Forum MKRI–MK Mesir, Prof. Arief Hidayat Angkat Marhaenisme sebagai Etika Konstitusi

Marhaenist.id, Kairo — Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (MKRI) kembali menegaskan perannya dalam…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?