Marhaenist.id, Denpasar — Dua kubu Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yakni Kubu Arjuna–Dendi dan Kubu Risyad–Patra, menyatakan persatuan dalam Deklarasi Rekonsoliasi Nasional yang digelar di Inna Bali Heritage Hotel, Denpasar, Bali, Senin (15/12/2025).
Deklarasi persatuan keduanya tersebut ditandai dengan penandatanganan Pakta Integritas oleh Ketua Umum DPP GMNI Periode 2019–2022 Arjuna Putra Aldino bersama Sekretaris Jenderal Dendi Setiawan, serta Ketua Umum DPP GMNI Periode 2025–2028 Muhammad Risyad Fahlefi bersama Sekretaris Jenderal Patra Dewa.
Penandatanganan pakta integritas ini menjadi simbol komitmen bersama untuk mengakhiri dualisme kepemimpinan dan memulihkan keutuhan GMNI sebagai organisasi mahasiswa nasionalis.
Dalam sambutannya, Arjuna Putra Aldino menegaskan bahwa persatuan merupakan syarat mutlak agar GMNI kembali menjadi organisasi pelopor yang menempatkan kepentingan organisasi di atas ego pribadi maupun kelompok.
“Sekarang tidak ada lagi kubu Arjuna–Dendi. Kepengurusan Risyad–Patra akan membangun GMNI yang progresif dan revolusioner,” ujar Arjuna.
Ia menambahkan, persatuan ini bukan semata menyelamatkan elite organisasi, melainkan menyelamatkan kader-kader GMNI di tingkat akar rumput serta memperkuat kaderisasi berbasis ideologi Marhaenisme.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal DPP GMNI Periode 2019–2022, Dendi Setiawan, mengakui bahwa proses menuju persatuan membutuhkan waktu panjang dan berbagai pertimbangan, termasuk situasi pandemi Covid-19 yang sempat menghambat proses rekonsiliasi.
Dendi berharap, semangat persatuan ini dapat diteruskan hingga ke tingkat komisariat dan cabang GMNI di seluruh Indonesia.
Ketua Umum DPP GMNI Periode 2025–2028, Muhammad Risyad Fahlefi, menegaskan bahwa deklarasi persatuan ini bukan sekadar seremoni, melainkan titik awal konsolidasi ideologis dan organisatoris GMNI.
“Persatuan bukan tanda kelemahan, tetapi kesadaran kolektif bahwa GMNI jauh lebih besar dari ego, jabatan, dan luka masa lalu,” kata Risyad.
Ia mengajak seluruh kader GMNI untuk meninggalkan sekat-sekat lama dan menjadikan persatuan sebagai modal utama dalam membuka babak baru perjuangan yang lebih matang, progresif, dan berakar pada ajaran Bung Karno serta ideologi Marhaenisme.
Sekretaris Jenderal DPP GMNI Periode 2025–2028, Patra Dewa, turut mengakui bahwa proses rekonsiliasi tidak berjalan mudah. Namun, dialog kultural yang intens serta kesediaan untuk melepaskan ego pribadi menjadi kunci utama penyatuan dua kubu.
“Awalnya terasa canggung, tetapi melalui pertemuan rutin setiap minggu, kami membangun ruang diskusi yang sehat dan saling memahami,” ujar Patra.
Deklarasi persatuan ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi GMNI untuk kembali solid, fokus pada kaderisasi, serta menjalankan peran strategis sebagai organisasi mahasiswa nasionalis.
Selain itu, rekonsiliasi internal ini diharapkan mampu meningkatkan kontribusi GMNI dalam kehidupan kebangsaan Indonesia, tidak hanya dalam wacana politik, tetapi juga dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat.
Acara deklarasi persatuan tersebut ditutup dengan pengukuhan Pengurus Dewan Pimpinan Pusat GMNI Periode 2025–2028 yang akan memimpin organisasi menuju masa depan yang lebih bersatu dan progresif.***
Penulis: Redaksi/Editor: Redaksi.