By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Selamat Datang di “AI New Normal”
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
ArtikelOpini

Agama Pembebasan: Melawan Kesalehan yang Membunuh Kemanusiaan

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Kamis, 4 Desember 2025 | 15:24 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Foto: Firman Tendry Masengi, Aktivis 98/Alumni GMNI (Sumber: Radar Aktual)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Di tengah gegap gempita kesalehan yang dipajang seperti etalase perhiasan, Islam hari ini mengalami kehancuran paling memalukan: agama direduksi menjadi ritual tanpa nurani, ibadah menjadi kosmetika spiritual, dan shalat menjadi instrumen melarikan diri dari tanggung jawab kemanusiaan. hadits agung “Khairunnās anfa‘uhum lin-nās” yang seharusnya menjadi fondasi teologi pembebasan, kini terkapar seperti mayat  ideologi yang ditinggalkan di pinggir jalan oleh umat yang mabuk pahala dan pekak terhadap jeritan manusia tertindas.

Gustavo Gutiérrez, bapak Teologi Pembebasan Amerika Latin, menegaskan bahwa agama kehilangan makna ketika tidak berpihak pada mereka yang menderita. “Tugas teologi adalah mengubah dunia,” tulisnya — bukan menidurkan nurani di balik doa-doa panjang yang steril dari aksi. Teologi tidak lahir dari menara gading, melainkan dari jeritan mereka yang ditindas. Maka ketika ibadah tidak melahirkan pembebasan, ia hanyalah ideologi penindas yang dipoles dengan nama Tuhan.

Kini lahir umat yang mengira diri calon penghuni surga, sementara diam-diam menjadi arsitek neraka dunia.

Ibadah Tanpa Kemanusian

Shalat, pilar agama, telah berubah menjadi monumen kosong. Saf-saf yang diluruskan hanya merapikan barisan tubuh, bukan persaudaraan. Ruku’ dan sujud dilakukan dengan ketelitian teknis, tetapi tanpa kegelisahan moral. Umat menekuk punggung di hadapan Tuhan, namun menegakkan dada di hadapan sesama yang hancur oleh ketidakadilan.

Di banyak masjid megah yang berdiri seperti istana marmer, gema ayat-ayat suci bergema keras, tetapi suara tangis orang miskin tidak pernah terdengar. Dalam ironi paling kejam, jutaan orang melafalkan doa: “Jauhkan kami dari api neraka,” tetapi tidak merasa apa-apa ketika menyaksikan neraka dunia membakar tubuh manusia: neraka upah murah, neraka tanah rakyat yang dirampas, neraka ibu yang kehilangan anak karena harga obat, neraka buruh migran yang dipulangkan dalam peti mati.

Baca Juga:   Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso

Gutiérrez menyebutnya “mistik yang memutus realitas” Agama yang hanya menatap langit sambil membiarkan bumi terbakar Sebuah kesalehan yang menolak politik dan pembelaan terhadap korban adalah kesalehan palsu, sebab cinta pada Tuhan harus terwujud dalam pembebasan konkret manusia yang dihancurkan struktur yang tidak adil.

Mereka takut pada neraka Tuhan, tetapi tenang menciptakan neraka sosial.

Kesucian Kosmetik

Mari tertawakan tragedi ini—tawa getir dan pahit:

Orang shalat tahajud sambil merancang skema korupsi esok pagi.

Orang menyempurnakan bacaan surat, lalu menyempurnakan eksploitasi buruh.

Orang bersedekah seribu untuk konten, tetapi mencuri miliaran dalam senyap.

Orang menangis di sujud panjang, tetapi mengeringkan air mata untuk penderitaan orang lain.

Betapa absurd: Kita berlomba mendapatkan pahala, tetapi tidak berlomba menjadi manusia.

Ritual tanpa kemanusiaan bukanlah kesalehan—itu karikatur agama, komedi hitam ibadah, kuburan spiritual yang dibungkus sajadah hias.

Gutiérrez mengingatkan bahwa spiritualitas yang tidak mencabik struktur ketidakadilan adalah candu, pengalihan perhatian agar umat merasa suci tanpa perlu bertanya siapa yang mati agar mereka bisa hidup nyaman. Kesalehan kosmetik adalah industri ilusi: memproduksi simbol-simbol kudus untuk menutupi kenyataan bahwa agama telah menjadi mesin normalisasi penindasan.

Teologi Pembebasan: Shalat sebagai Revolusi Moral

Dalam ideologi Islam, shalat seharusnya adalah deklarasi perlawanan:

Allahu Akbar berarti menolak segala berhala: tirani, uang, kekuasaan.

Hayya ‘alal falaah berarti panggilan menuju kemenangan sosial, bukan egoistik.

Iyyāka na‘budu berarti tidak tunduk pada penindas.

Assalāmu ‘alaikum berarti janji untuk mengantar damai, bukan sekadar salam kosong tanpa tindakan.

Gutiérrez menegaskan bahwa doa sejati adalah tindakan historis; berdoa adalah bertindak dalam sejarah untuk mengakhiri penderitaan. Jika shalat tidak mengubah struktur ketidakadilan, maka shalat itu hanyalah suara tanpa tubuh. Teologi pembebasan menuntut bahwa ibadah harus menjadi aksi transformatif, bukan anestesi moral.

Baca Juga:   Aku Lelah, Mencintaimu adalah Tindakan Masokis

Tetapi apa jadinya ketika umat mengubah shalat menjadi anestesi moral?

Ketika sajadah menjadi tiket pelarian dari realitas, bukan basis perjuangan melawan ketidakadilan?

Itulah saat agama berubah dari cahaya pembebasan menjadi selimut kemunafikan.

“Khairunnās anfa‘uhum lin-nās.”: Manifesto Ideologis

Hadits ini bukan motivasi lembut yang dibingkai cantik di dinding ruang tamu.

Ia adalah palu teologis yang menghancurkan egoisme religius.

Ia adalah manifesto ideologis bahwa kesalehan hanya sah jika berpihak pada manusia.

Sebaik-baik manusia bukanlah: yang paling indah bacaan shalatnya yang paling rapih dan suci penampilannya yang paling banyak pengikut dakwahnya

Tetapi yang paling keras melawan ketidakadilan, dan paling besar manfaatnya bagi manusia lain.

Tanpa itu, ibadah hanyalah parade kesombongan spiritual.

Gutiérrez menyebut keberpihakan pada orang miskin sebagai “opsi preferensial”—pilihan moral wajib, bukan opsional. Artinya: iman sejati diuji dalam keberpihakan, bukan dalam seremonial. Tuhan tidak hadir dalam dekorasi masjid, tetapi dalam tubuh mereka yang ditindas.

Mari jujur, walau menyakitkan: Banyak orang lebih takut kehilangan surga, daripada kehilangan nurani.
Lebih takut pada api akhirat, daripada pada api penderitaan manusia yang terpanggang hari ini.

Lebih rela memoles kesucian diri, daripada menyembuhkan luka sesama. Dan mungkin, kelak di Hari Pembalasan, suara paling mengguncang bukanlah teriakan para pendosa, tetapi rintihan mereka yang dulu dibakar dalam neraka dunia oleh tangan para ahli ibadah.

Sebab tiada artinya sujud panjang jika kaki tak berjalan menuju keadilan.
Tiada artinya air mata shalat jika hati membatu terhadap manusia. Tiada artinya takut neraka, jika kita menciptakan neraka bagi orang lain.

Dan sebelum azan berikutnya berkumandang, pertanyaan yang tak bisa kita hindari adalah:

“Apakah kita menyembah Tuhan atau menyembah ego?”***

Baca Juga:   Etika Negara Demokrasi: Ketika Kekuasaan Harus Tunduk pada Kepercayaan Rakyat

Penulis: Firman Tendry Masengi, Aktivis 98/Alumni GMNI.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
Minggu, 22 Februari 2026 | 21:23 WIB
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:25 WIB
Selamat Datang di “AI New Normal”
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:06 WIB
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Sabtu, 21 Februari 2026 | 22:13 WIB
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!
Sabtu, 21 Februari 2026 | 11:25 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Soroti Kasus Korupsi Pembebasan Lahan Pasar, GMNI Mamasa Desak Kejati Sulbar Segera Tetapkan Tersangkanya

Marhaenist.id, Mamasa - Terkait dengan kasus korupsi pembebasan lahan Pasar Mamasa, pihak…

Spirit Masjid Jogokaryan: Islam Modern yang Riil dalam Bingkai Marhaenisme

Marhaenist.id - Indonesia hari ini berdiri di persimpangan zaman. Islam, sebagai kekuatan…

Makan Siang Gratis Tidak Akan Bisa Atasi Stunting

Marhaenist - World Bank atau Bank Dunia menyebut bahwa program makan siang…

Pulau Buru dan Pengarahan Tenaga Kerja Tapol

Marhaenist.id - Pada tahun 1969, 800-an tahanan politik yang dituduh terlibat dalam…

Soemarsono, Saksi Sejarah Tragedi PKI di Madiun 1948

Marhaenist.id - Soemarsono adalah mantan Ketua Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia, juga…

Satu Oktober: Nyawa Lenyap, Tragedi Kanjuruhan, dan Pelanggaran HAM

Penulis: Aryasatya Krishdiansyah (Wakabid Sosial Politik GMNI UINSA Gunung Anyar).   Marhaenist.id…

Semangat Muda Kaum Nasionalis: Deklarasi GSNI Pacitan

Marhaenist.id, Pacitan - Semangat kebangsaan di ranah pelajar kembali berkobar di Kabupaten Pacitan.…

Sosok Perempuan Inspiratif Susi Pudjiastuti

Marhaenist.id – Susi Pudjiastuti lahir pada 15 Januari 1965 di Pangandaran, Jawa…

Menelisik Kunjungan Bung Karno ke AS 16 Mei 1956

Marhaenist.id - Bung Karno tiba di Washington dengan menggunakan pesawat pribadi Presiden…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?