
Marhaenist.id – Di tengah gegap gempita kesalehan yang dipajang seperti etalase perhiasan, Islam hari ini mengalami kehancuran paling memalukan: agama direduksi menjadi ritual tanpa nurani, ibadah menjadi kosmetika spiritual, dan shalat menjadi instrumen melarikan diri dari tanggung jawab kemanusiaan. hadits agung “Khairunnās anfa‘uhum lin-nās” yang seharusnya menjadi fondasi teologi pembebasan, kini terkapar seperti mayat ideologi yang ditinggalkan di pinggir jalan oleh umat yang mabuk pahala dan pekak terhadap jeritan manusia tertindas.
Gustavo Gutiérrez, bapak Teologi Pembebasan Amerika Latin, menegaskan bahwa agama kehilangan makna ketika tidak berpihak pada mereka yang menderita. “Tugas teologi adalah mengubah dunia,” tulisnya — bukan menidurkan nurani di balik doa-doa panjang yang steril dari aksi. Teologi tidak lahir dari menara gading, melainkan dari jeritan mereka yang ditindas. Maka ketika ibadah tidak melahirkan pembebasan, ia hanyalah ideologi penindas yang dipoles dengan nama Tuhan.
Kini lahir umat yang mengira diri calon penghuni surga, sementara diam-diam menjadi arsitek neraka dunia.
Ibadah Tanpa Kemanusian
Shalat, pilar agama, telah berubah menjadi monumen kosong. Saf-saf yang diluruskan hanya merapikan barisan tubuh, bukan persaudaraan. Ruku’ dan sujud dilakukan dengan ketelitian teknis, tetapi tanpa kegelisahan moral. Umat menekuk punggung di hadapan Tuhan, namun menegakkan dada di hadapan sesama yang hancur oleh ketidakadilan.
Di banyak masjid megah yang berdiri seperti istana marmer, gema ayat-ayat suci bergema keras, tetapi suara tangis orang miskin tidak pernah terdengar. Dalam ironi paling kejam, jutaan orang melafalkan doa: “Jauhkan kami dari api neraka,” tetapi tidak merasa apa-apa ketika menyaksikan neraka dunia membakar tubuh manusia: neraka upah murah, neraka tanah rakyat yang dirampas, neraka ibu yang kehilangan anak karena harga obat, neraka buruh migran yang dipulangkan dalam peti mati.
Gutiérrez menyebutnya “mistik yang memutus realitas” Agama yang hanya menatap langit sambil membiarkan bumi terbakar Sebuah kesalehan yang menolak politik dan pembelaan terhadap korban adalah kesalehan palsu, sebab cinta pada Tuhan harus terwujud dalam pembebasan konkret manusia yang dihancurkan struktur yang tidak adil.
Mereka takut pada neraka Tuhan, tetapi tenang menciptakan neraka sosial.
Kesucian Kosmetik
Mari tertawakan tragedi ini—tawa getir dan pahit:
Orang shalat tahajud sambil merancang skema korupsi esok pagi.
Orang menyempurnakan bacaan surat, lalu menyempurnakan eksploitasi buruh.
Orang bersedekah seribu untuk konten, tetapi mencuri miliaran dalam senyap.
Orang menangis di sujud panjang, tetapi mengeringkan air mata untuk penderitaan orang lain.
Betapa absurd: Kita berlomba mendapatkan pahala, tetapi tidak berlomba menjadi manusia.
Ritual tanpa kemanusiaan bukanlah kesalehan—itu karikatur agama, komedi hitam ibadah, kuburan spiritual yang dibungkus sajadah hias.
Gutiérrez mengingatkan bahwa spiritualitas yang tidak mencabik struktur ketidakadilan adalah candu, pengalihan perhatian agar umat merasa suci tanpa perlu bertanya siapa yang mati agar mereka bisa hidup nyaman. Kesalehan kosmetik adalah industri ilusi: memproduksi simbol-simbol kudus untuk menutupi kenyataan bahwa agama telah menjadi mesin normalisasi penindasan.
Teologi Pembebasan: Shalat sebagai Revolusi Moral
Dalam ideologi Islam, shalat seharusnya adalah deklarasi perlawanan:
Allahu Akbar berarti menolak segala berhala: tirani, uang, kekuasaan.
Hayya ‘alal falaah berarti panggilan menuju kemenangan sosial, bukan egoistik.
Iyyāka na‘budu berarti tidak tunduk pada penindas.
Assalāmu ‘alaikum berarti janji untuk mengantar damai, bukan sekadar salam kosong tanpa tindakan.
Gutiérrez menegaskan bahwa doa sejati adalah tindakan historis; berdoa adalah bertindak dalam sejarah untuk mengakhiri penderitaan. Jika shalat tidak mengubah struktur ketidakadilan, maka shalat itu hanyalah suara tanpa tubuh. Teologi pembebasan menuntut bahwa ibadah harus menjadi aksi transformatif, bukan anestesi moral.
Tetapi apa jadinya ketika umat mengubah shalat menjadi anestesi moral?
Ketika sajadah menjadi tiket pelarian dari realitas, bukan basis perjuangan melawan ketidakadilan?
Itulah saat agama berubah dari cahaya pembebasan menjadi selimut kemunafikan.
“Khairunnās anfa‘uhum lin-nās.”: Manifesto Ideologis
Hadits ini bukan motivasi lembut yang dibingkai cantik di dinding ruang tamu.
Ia adalah palu teologis yang menghancurkan egoisme religius.
Ia adalah manifesto ideologis bahwa kesalehan hanya sah jika berpihak pada manusia.
Sebaik-baik manusia bukanlah: yang paling indah bacaan shalatnya yang paling rapih dan suci penampilannya yang paling banyak pengikut dakwahnya
Tetapi yang paling keras melawan ketidakadilan, dan paling besar manfaatnya bagi manusia lain.
Tanpa itu, ibadah hanyalah parade kesombongan spiritual.
Gutiérrez menyebut keberpihakan pada orang miskin sebagai “opsi preferensial”—pilihan moral wajib, bukan opsional. Artinya: iman sejati diuji dalam keberpihakan, bukan dalam seremonial. Tuhan tidak hadir dalam dekorasi masjid, tetapi dalam tubuh mereka yang ditindas.
Mari jujur, walau menyakitkan: Banyak orang lebih takut kehilangan surga, daripada kehilangan nurani.
Lebih takut pada api akhirat, daripada pada api penderitaan manusia yang terpanggang hari ini.
Lebih rela memoles kesucian diri, daripada menyembuhkan luka sesama. Dan mungkin, kelak di Hari Pembalasan, suara paling mengguncang bukanlah teriakan para pendosa, tetapi rintihan mereka yang dulu dibakar dalam neraka dunia oleh tangan para ahli ibadah.
Sebab tiada artinya sujud panjang jika kaki tak berjalan menuju keadilan.
Tiada artinya air mata shalat jika hati membatu terhadap manusia. Tiada artinya takut neraka, jika kita menciptakan neraka bagi orang lain.
Dan sebelum azan berikutnya berkumandang, pertanyaan yang tak bisa kita hindari adalah:
“Apakah kita menyembah Tuhan atau menyembah ego?”***
Penulis: Firman Tendry Masengi, Aktivis 98/Alumni GMNI.