By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
DPP GMNI Mendorong Pelaksanaan UHC: Tidak Menyisakan Ketimpangan Akses dan Kualitas Layanan Kesehatan
Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar GMNI

Gelar Diskusi Publik, GMNI-FMN-AGRA-GSBI: Agenda Reforma Agraria dalam Bayang-Bayang Militerisme dan Ancaman Krisis Pangan

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Selasa, 23 September 2025 | 15:16 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: DPC GMNI Jaksel bersama FMN, AGRA dan GSBI mengelar diskusi publik bertajuk “Agenda Reforma Agraria dalam Bayang-Bayang Militerisme dan Ancaman Krisis Pangan”, bertempat di Sekretariat GMNI Jaksel (Ist)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Jakarta Selatan (Jaksel) bersama Front Mahasiswa Nasional (FMN), Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), dan Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI) mengelar diskusi publik bertajuk “Agenda Reforma Agraria dalam Bayang-Bayang Militerisme dan Ancaman Krisis Pangan”, bertempat di Sekretariat GMNI Jaksel.

Diskusi ini menghadirkan pemateri dari berbagai organisasi gerakan rakyat, diantaranya Ismet Inoni sebagai Koordinator Koalisi Buruh Sawit (KBS) dan Kepala Departemen Hukum, Advokasi dan Kampanye Massa DPP GSBI, Titi Suhada dari PP Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), L Muhammad Rizaldy, Ketua Umum Front Mahasiswa Nasional (FMN), serta dimoderatori oleh Bung Dhiva Trenadi Wakil Ketua DPC GMNI Jakarta Selatan.

Agenda ini digelar bertepatan dengan momentum Hari Tani Nasional 2025, dengan tujuan mengupas persoalan agraria yang hingga hari ini masih menjadi sumber ketidakadilan struktural di Indonesia, Selasa (22/9/2025).

Reforma Agraria dalam Bayang Militerisme

Sejumlah pemateri menyoroti kebijakan pemerintah, khususnya Instruksi Presiden No. 25 Tahun 2025 tentang Penertiban Kawasan Hutan (PKH) yang membentuk Satgas PKH. Kebijakan ini dinilai menjadi bentuk baru land grabbing yang melibatkan militer melalui perusahaan agribisnis negara, Agrinas. Implementasinya di Sumatera dan Kalimantan telah menimbulkan dampak negatif bagi rakyat, sekaligus memperlihatkan praktik accumulation by dispossession ala kapitalisme kuno.

Selain itu, revisi UU TNI juga disebut semakin memperkokoh keterlibatan militer dalam persoalan agraria, yang berimplikasi pada represi terhadap pejuang hak agraria, kriminalisasi, dan tindakan kekerasan di pedesaan.

Warisan Kebijakan Gagal dan Ancaman Krisis Pangan

Diskusi ini juga mengkritik warisan kebijakan dari era Jokowi yang dilanjutkan oleh pemerintahan Prabowo-Gibran. Sejumlah proyek strategis seperti food estate, Makan Bergizi Gratis (MBG), dan program ketahanan pangan berbasis investor dinilai gagal menjawab kebutuhan rakyat.

Baca Juga:   Tanggapi Kenaikan PPN 12%, GMNI Kendari Minta PJ Gubernur Sultra Lakukan Upaya Antisipasi Dampak Eskalasinya

Fakta di lapangan menunjukkan adanya:

1. Kegagalan struktural dalam mengelola tanah, air, dan sumber daya pertanian.

2. Monopoli lahan yang semakin masif di Era Prabowo-Gibran

3. Politik pangan yang elitis, menjadikan program pemerintah sebagai ruang patronase politik.

4. Tekanan ekonomi terhadap petani dan nelayan akibat impor besar-besaran serta harga komoditas yang anjlok.

Pemangkasan Anggaran Pendidikan untuk Program Anti Reforma Agraria Sejati

Program prioritas (MBG, food estate, dll.) APBN 2025 telah memangkas berbagai anggaran kementerian/lembaga pemerintahan yang lain. Ketua Umum FMN, L Muhammad Rizaldy berpendapat bahwa: hilangnya subsidi pendidikan untuk mahasiswa semata-mata disebabkan oleh pemangkasan anggaran pendidikan tinggi, dasar, dan menengah. APBN 2025 hanya menggelontorkan 20% anggaran untuk pendidikan tinggi (700t).

Besaran anggaran ini adalah yang paling kecil dari tahun-tahun sebelumnya. Anggaran tersebut lalu akhirnya harus dipangkas kembali sebesar 44% untuk membiayai MBG dan 39% untuk anggaran pendidikan kedinasan (TNI, POLRI, BIN, dll.).

Masalahnya, pemangkasan subsidi pendidikan justru digelontorkan untuk menopang program-program yang merintangi perjuangan reforma agraria sejati: MBG yang pernah meracuni ribuan siswa-siswi sekolah dasar dan menengah. Pemangkasan juga dilakukan untuk menopang kebutuhan biaya pendidikan aparatus represif negara yang akan menjadi serdadu represif di hari depan.

Persoalan Buruh Sawit dan Nelayan

Diskusi ini menyoroti kondisi buruh sawit yang masih bergulat dengan upah murah, tidak adanya jaminan kerja, pengabaian hak maternitas, serta paparan bahan kimia berbahaya. Sementara itu, di sektor kelautan, nelayan menghadapi rendahnya harga komoditas, pembatasan wilayah tangkap, serta ancaman agenda Blue Economy.

Reforma Agraria Sejati sebagai Jalan Pembebasan

Seluruh pemateri menegaskan bahwa reforma agraria sejati adalah syarat mutlak kedaulatan pangan. UUPA 1960 disebut sebagai pintu masuk perjuangan, namun harus dilampaui dengan perombakan struktural terhadap kepemilikan tanah yang monopolistik dan feodalistik.

Baca Juga:   GMNI Penajam Gelar PPAB Cetak Marhaenis Muda Berjiwa Nasionalisme dengan Semangat yang Berasaskan Pancasila

“Revolusi Indonesia tanpa landreform adalah sama saja dengan gedung tanpa alas, sama saja dengan pohon tanpa batang, sama saja dengan omong besar tanpa isi,” tegas moderator mengutip Bung Karno.

Kaum muda, mahasiswa, buruh, dan petani harus bersatu dalam satu front perjuangan nasional. Persatuan kota dan desa, pengorganisiran rakyat, serta pendidikan yang membebaskan menjadi kunci untuk menuntaskan amanat penderitaan rakyat.

Seruan Aksi Memperingati HTN 2025

Diskusi ini menutup dengan seruan bahwa penderitaan rakyat di pedesaan maupun perkotaan adalah tanggung jawab bersama. Reforma agraria sejati harus menjadi agenda utama perjuangan rakyat untuk merebut kembali kedaulatan bangsa dari cengkeraman monopoli tanah dan modal asing.***

Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

DPP GMNI Mendorong Pelaksanaan UHC: Tidak Menyisakan Ketimpangan Akses dan Kualitas Layanan Kesehatan
Selasa, 13 Januari 2026 | 18:01 WIB
Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Selasa, 13 Januari 2026 | 12:57 WIB
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:42 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Senin, 12 Januari 2026 | 19:19 WIB
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Senin, 12 Januari 2026 | 15:03 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Makan Siang Gratis Tidak Akan Bisa Atasi Stunting

Marhaenist - World Bank atau Bank Dunia menyebut bahwa program makan siang…

Dibuka oleh Anggota DPRD, DPC GMNI Wakatobi Sukses Gelar PPAB Ke II

Marhaenist.id, Wakatobi - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Pelaku dan Aktivis Pemerhati Budaya Aji Barata Putuskan Maju di Pilkada Banyumas

Marhaenist.id, Banyumas - Seorang aktivis pemerhati dan pelaku budaya Bambang Barata Aji…

Alumni UI Garda Pancasila (AUIGP) Dukung DPR-RI Gunakan Hak Angket

Marhaenist.id, Jakarta - Alumni Universitas Indonesia Garda Pancasila (AUIGP) mendukung DPR RI…

Nominasi OCCRP dan Beban Berat Presiden Prabowo

Marhaenist.id - Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP) adalah lembaga independen jaringan…

Kehadiran TNI di Sidang Korupsi Nadiem Makarim Dinilai Ancam Independensi Peradilan, DPP GMNI: Alarm Bahaya Supremasi Sipil

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Pelantikan PA GMNI Kalsel, Momentum Menuju Organisasi Yang Lebih Baik

Marhaenist - Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menginginkan pelantikan Dewan Pengurus Daerah (DPD)…

Persatuan Alumni GMNI Riau Gelar Rakerda Tahun 2023

Marhaenist - Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPD…

Pemerintah Harus Siapkan Jaminan Sosial Menyeluruh Bagi Masyarakat Miskin Ekstrem

Marhaenist - Dewan Pengurus Pusat Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?