By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Selamat Datang di “AI New Normal”
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
ArtikelInsightStudy Filsafat

Resensi Buku Karl Popper: Logika Penemuan Ilmiah

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Minggu, 7 September 2025 | 23:24 WIB
Bagikan
Waktu Baca 7 Menit
Sampul Buku Logika Penemuan Ilmiah, Penulis Karl Popper/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – (Pendahuluan) Menata Ulang Cara Kita Memahami Ilmu: Di tengah maraknya klaim yang mengatasnamakan “logika” dalam berbagai tindakan—termasuk justifikasi moral maupun pembenaran tindakan berbasis dogma—muncul urgensi untuk membedakan antara logika ilmiah yang empiris dan logika yang sekadar bersifat reflektif atau spekulatif. Buku Logika Penemuan Ilmiah karya Karl Popper hadir sebagai jawaban atas kebingungan tersebut. Karya ini menjadi landasan penting dalam upaya menjernihkan batas antara ilmu yang bertumpu pada rasionalitas dan metode, dengan klaim-klaim pseudo-ilmiah yang kerap merasuk melalui celah-celah ide metafisik maupun religius yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara metodologis.

Melalui buku ini, Popper mengajak pembaca untuk menilai pengetahuan bukan dari validitas moral atau kesepakatan sosial semata, tetapi dari kemampuan sebuah teori untuk diuji dan—bila perlu—dibantah. Di sinilah letak revolusi logika ilmiah ala Popper: kebenaran ilmiah tidak bersifat absolut, melainkan selalu terbuka untuk direvisi, diperbaiki, dan bahkan ditinggalkan jika terbukti salah.

Logika Ilmiah: Menolak Dogma, Merangkul Uji Empiris

Bagi Popper, ilmu pengetahuan tidak dibangun atas dasar keyakinan atau konsensus sosial, tetapi pada kemampuan teori untuk melewati serangkaian pengujian ketat melalui apa yang ia sebut sebagai falsifiabilitas. Artinya, sebuah teori ilmiah harus bisa diuji secara empirik dan terbuka terhadap kemungkinan salah. Justru di sinilah kekuatan sebuah teori: bukan karena tidak pernah salah, tetapi karena mampu bertahan dari berbagai kemungkinan yang bisa menyalahkannya.

Popper menolak pandangan induktivisme klasik yang menyatakan bahwa ilmu dimulai dari observasi lalu disimpulkan menjadi teori. Baginya, pengetahuan bukanlah hasil akumulasi data, melainkan hasil problem solving melalui hipotesis yang dirumuskan secara logis, diuji secara empiris, dan kemudian dipertahankan atau ditinggalkan tergantung pada hasil pengujian tersebut.

Baca Juga:   Resensi Buku: The Shallows What the Internet Is Doing to Our Brains - Nicolas Carr

Dari Pengalaman Menuju Teori: Sirkulasi Empiris Popper

Popper menawarkan suatu siklus kerja ilmiah yang khas. Ia menyebutnya siklus empiris, yang dimulai dari adanya masalah (problem), dilanjutkan dengan pengajuan teori, penyusunan hipotesis, observasi empiris, hingga akhirnya melakukan generalisasi atau penyempurnaan teori. Namun berbeda dari alur konvensional, Popper tidak menekankan pada pembuktian teori, melainkan pengujiannya—dengan harapan teori itu bisa gagal pada titik tertentu, dan diganti dengan teori yang lebih baik.

Setiap langkah dari teori hingga observasi harus mengikuti logika deduktif, bukan induktif semata. Teori yang baik adalah teori yang berani membuka diri terhadap kritik, dan tidak berlindung di balik hipotesis tambahan (ad hoc) yang mengaburkan kelemahan teorinya.

Ilmu Pengetahuan dan Batas-Batasnya: Demarkasi Ilmiah

Salah satu kontribusi besar Popper adalah apa yang ia sebut sebagai masalah demarkasi—bagaimana membedakan antara ilmu yang sah (scientific) dan yang tidak (non-scientific atau pseudo-scientific). Ia menekankan bahwa ilmu harus bisa diuji secara empiris dan menghindari pembelaan metafisik yang tidak dapat diuji.
Misalnya, sebuah teori yang menjelaskan segala sesuatu tanpa bisa dibantah—seperti banyak teori dalam ranah metafisika atau bahkan astrologi—bukanlah teori ilmiah. Ilmu harus terbuka terhadap kritik, dan tidak boleh mengunci diri dalam dogma. Popper bahkan mengkritik teori Newton yang begitu lama dianggap sebagai kebenaran absolut, dan menunjukkan bagaimana teori tersebut akhirnya digantikan oleh relativitas Einstein.

Objektivitas dan Peran Subjek: Dialektika Pengetahuan

Dalam pengembangan ilmu pengetahuan, Popper tidak mengabaikan peran subjek. Justru, ia melihat bahwa objektivitas ilmu dibangun dari interaksi antar subjek (intersubjektivitas), yang menyusun, mengkritik, dan menyempurnakan teori-teori ilmiah. Objektivitas tidak hadir dari ruang hampa, melainkan dari proses metodologis yang dapat direproduksi oleh siapa pun dengan cara yang transparan dan logis.

Baca Juga:   Komandan Pacul, Marhaen Rasa 'Korea'

Dengan demikian, objektivitas bukan lawan dari subjektivitas, tetapi hasil dari dialog kritis yang dibingkai oleh metode ilmiah.

Falsifiabilitas: Jantung dari Metode Ilmiah Popper

Konsep paling terkenal dari Popper tentu saja adalah falsifiabilitas (falsifiability), yaitu kemampuan suatu teori untuk diuji dan dipatahkan. Sebuah teori yang tidak bisa dipatahkan—seperti teori bahwa “segala hal terjadi karena kehendak Tuhan”—tidak bisa dianggap ilmiah karena tidak bisa dibuktikan salah.
Sebaliknya, teori yang menyatakan “semua logam memuai ketika dipanaskan” adalah teori yang falsifiable—karena jika ditemukan satu logam yang tidak memuai ketika dipanaskan, maka teori itu gugur. Inilah fondasi pengetahuan yang progresif: terbuka terhadap koreksi.

Konvensionalisme vs Falsifikasionisme
Popper juga menentang konvensionalisme, yaitu kecenderungan mempertahankan teori lama dengan cara menyisipkan hipotesis-hipotesis tambahan untuk menyelamatkannya. Ia menyebut cara ini sebagai “trik konvensionalis” (conventionalist stratagem), yang justru menghambat perkembangan ilmu pengetahuan.
Dalam falsifikasionisme yang ia usulkan, sebuah teori harus siap untuk dikritik dan tidak boleh dimodifikasi hanya agar tetap tampak benar. Sebaliknya, hipotesis tambahan hanya boleh diterima jika meningkatkan ketajaman pengujian dan membuka kemungkinan untuk diuji secara mandiri.

Keterbatasan dan Tantangan: Fries’s Trilemma dan Simplicity

Popper menyadari bahwa logika ilmiah pun tidak bebas dari tantangan. Salah satunya adalah Fries’s Trilemma, yang mengidentifikasi tiga jebakan utama dalam epistemologi: dogmatisme (menerima sesuatu tanpa bukti), regresi tak berujung (selalu butuh bukti untuk bukti), dan psikologisme (mengandalkan pengalaman sebagai dasar kebenaran).
Popper juga membahas pentingnya kesederhanaan (simplicity) dalam teori ilmiah. Semakin sederhana teori, semakin besar peluang untuk diuji dan difalsifikasi. Namun kesederhanaan di sini tidak berarti dangkal, melainkan hemat asumsi dan memiliki struktur logis yang kuat.

Baca Juga:   Melawan Lupa: Mengapa Rakyat Indonesia, Pengagum Bung Karno, hingga GMNI harus Menolak Soeharto Menjadi Pahlawan Nasional?

Kesimpulan: Membangun Ilmu yang Progresif dan Terbuka

Logika Penemuan Ilmiah bukan sekadar buku tentang metode ilmiah, melainkan suatu pandangan dunia tentang bagaimana ilmu harus dibangun, diuji, dan dikembangkan. Bagi Karl Popper, tidak ada teori yang mutlak benar. Yang ada adalah teori yang belum terbukti salah. Ilmu pengetahuan adalah proses yang terus bergerak: dari masalah ke solusi, dari teori ke kritik, dari pemahaman ke pemahaman baru.

Dengan membaca buku ini, kita diajak untuk tidak mencampuradukkan sains dengan spekulasi, agama, atau ideologi. Ilmu harus berdiri di atas logika yang rasional, terbuka, dan empiris. Dan jika kita ingin membangun masyarakat yang berpikir kritis, maka buku ini adalah salah satu fondasi penting yang perlu dipahami dan dijadikan pegangan.***


• Judul Asli Buku: The Logic of Scientific Discovery
• Penulis: Karl Popper
• Penerbit Versi Indonesia: Institut Teknologi Bandung
• Diresensi oleh: Daniel Russell, Alumni GMNI Bandung.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
Minggu, 22 Februari 2026 | 21:23 WIB
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:25 WIB
Selamat Datang di “AI New Normal”
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:06 WIB
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Sabtu, 21 Februari 2026 | 22:13 WIB
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!
Sabtu, 21 Februari 2026 | 11:25 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Diduga Tak Terima Ditanyakan Soal Komitmen Persatuan, Imanuel Cahyadi Bawah Lari Palu Sidang Saat Kongres hingga Berakhir Ricuh

Marhaenist.id, Bandung — Kongres Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) ke XXII versi…

GMNI Surabaya Kecam Aksi Oknum Ormas, Dukung Kepolisian Tegakkan Hukum dan Lindungi Warga Lansia

Marhaenist.id, Surabaya — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Rifqi Sukarno (Founder Depok Youth Movement)/Marhaenist.id.

Sekilas Memaknai Hari Buruh

Marhaenist.id - Tepat pada 1 Mei di seluruh belahan dunia sedang merayakan…

Ekonomi Perhatian dan Krisis Kesadaran: Algoritma, Kekuasaan, dan Arsitektur Kendali Pikiran

Marhaenist.id - Kita hidup dalam masa ketika perhatian manusia menjadi komoditas paling berharga…

Abdy Yuhana: Gelar Profesor Kehormatan Megawati Soekarnoputri dari Silk Road International University Perkokoh Pengakuan Dunia

Marhaenist.id - Sekretaris Jenderal DPP Persatuan Alumni GMNI, Abdy Yuhana mengapresiasi atas prestasi…

Sikapi Situasi Politik Nasional, Raden Hernawan Tuntut Pemakzulan Gibran dan Copot Kapolri

Marhaenist.id, Jakarta – Aktivis Indonesia yang juga merupakan Kader Gerakan Mahasiswa Nasional…

Manifesto Ekonomi Nasional GMNI

Marhaenist.id - Akhir-akhir ini ekonomi Indonesia tengah berada dalam kondisi yang tidak…

Skandal Korupsi Tol Balikpapan-Samarinda: Keresahan Masyarakat Kalitim Sejak 2023 Akhirnya Terjawab

Marhaenist.id - Jalan tol merupakan jalur alternatif yang disediakan pemerintah untuk masyarakat…

Inilah Awal Mula Isu Jokowi Ingin Rebut PDIP Dari Megawati

MARHAENIST - Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesi Perjuangan (Sekjen PDIP) Hasto Kristiyanto…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?