By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
DPP GMNI Mendorong Pelaksanaan UHC: Tidak Menyisakan Ketimpangan Akses dan Kualitas Layanan Kesehatan
Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Bulan Bung Karno: Ini Bukan tentang Persatuan, Tapi tentang Siapa yang Punya Kepentingan!

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Rabu, 25 Juni 2025 | 23:14 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Moh. Fadli D. Lahalik, S.Pd Ketua DPC PA GMNI Touna/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Bulan Juni selalu menjadi bulan yang istimewa bagi bangsa Indonesia. Di bulan ini, kita memperingati kelahiran salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia, yaitu Soekarno, atau yang lebih akrab kita sebut Bung Karno. Lahir pada 6 Juni 1901, Bung Karno bukan hanya seorang proklamator, tetapi juga seorang pemimpin yang berjuang untuk kemerdekaan dan persatuan bangsa. Namun, di balik semua itu, terdapat sebuah realitas yang sering kali terabaikan, bahwa persatuan yang dibangun Bung Karno tidak selalu mulus, melainkan juga dipengaruhi oleh kepentingan politik dan sosial yang ada pada waktu itu.

Dalam konteks sejarah, bulan Juni tidak hanya sekadar memperingati kelahiran Bung Karno, tetapi juga menjadi momen refleksi tentang bagaimana kepentingan Ego Pribadi sering kali menjadi penghalang bagi persatuan yang sejati. Misalnya, pada tahun 1945, saat proklamasi kemerdekaan Indonesia, Bung Karno dan Mohammad Hatta berjuang untuk mempersatukan berbagai elemen bangsa yang berbeda latar belakang etnis, agama, dan ideologi.

Namun, dalam prosesnya, mereka harus menghadapi berbagai kepentingan yang saling bertentangan. Seperti yang dicatat oleh Ricklefs (2012), “Pemerintahan awal Indonesia dipenuhi dengan konflik internal yang mencerminkan perbedaan kepentingan di antara para pemimpin dan kelompok-kelompok masyarakat.”

Salah satu contoh nyata dari bentrokan kepentingan ini adalah ketika Bung Karno mengeluarkan Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959, yang membubarkan Konstitusi RIS 1949 dan mengembalikan kepada UUD 1945. Keputusan ini diambil dalam konteks ketidakpuasan terhadap sistem politik yang ada, dimana berbagai partai politik saling berkonflik dan tidak mampu membentuk pemerintahan yang stabil. Dalam hal ini, Bung Karno berusaha untuk menyatukan semua elemen bangsa di bawah satu payung.

Baca Juga:   Rezim Jokowi Sudah Jatuh Secara Moral dan De Facto

Statistik menunjukkan bahwa pada periode awal kemerdekaan, Indonesia mengalami banyak gejolak politik. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 1950-an, Indonesia memiliki lebih dari 20 partai politik yang beroperasi secara bersamaan. Keberagaman ini menciptakan tantangan tersendiri bagi Bung Karno dalam membangun persatuan.

Dalam konteks ini, kita bisa melihat bahwa kepentingan politik sering kali menghalangi tercapainya tujuan bersama. Sebagaimana dinyatakan oleh historian John Roosa (2006), “Bung Karno berusaha untuk menciptakan konsensus, tetapi pada akhirnya, banyak kepentingan yang bertentangan membuat persatuan sulit dicapai.”

Lebih jauh lagi, bulan Juni juga mengingatkan kita akan pentingnya memahami konteks sosial dan budaya yang melatarbelakangi perjuangan Bung Karno. Pada masa itu, Indonesia adalah negara yang baru merdeka dengan berbagai tantangan, mulai dari pembangunan ekonomi hingga pendidikan.

Bung Karno menyadari bahwa untuk mencapai persatuan, ia harus melibatkan semua elemen masyarakat, termasuk kaum buruh, petani, dan intelektual. Misalnya, dalam salah satu pidatonya, Bung Karno pernah menekankan pentingnya Persatuan dalam pembangunan Bangsa dan Negara (Sukarno, 1965).

Dalam konteks ini, kita dapat melihat bahwa meskipun Bung Karno berusaha untuk membangun persatuan, kepentingan ekonomi dan politik sering kali mendominasi agenda-agenda yang ada. Data dari International Labour Organization (ILO) menunjukkan bahwa pada tahun 1960, tingkat pengangguran di Indonesia mencapai 8,5%, yang mencerminkan bahwa banyak orang yang merasa tidak terwakili dalam proses pembangunan. Hal ini menimbulkan ketidakpuasan di kalangan masyarakat, yang pada gilirannya menciptakan tantangan bagi persatuan yang ingin dibangun oleh Bung Karno.

Bulan Juni, dengan segala maknanya, seharusnya menjadi momen untuk merenungkan kembali nilai-nilai Marhaenisme yang diajarkan oleh Bung Karno. Namun dalam banyak kasus, kepentingan individu atau kelompok sering kali mengalahkan kepentingan bersama. Ini adalah pelajaran penting yang harus kita ambil, terutama di tengah tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Sebagai penutup, bulan Juni seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa persatuan bukanlah sesuatu yang bisa diambil begitu saja. Ia memerlukan usaha, pengorbanan, dan pemahaman yang mendalam tentang kepentingan bersama.

Baca Juga:   Indonesia Darurat Part 2, 100 Hari Kerja = 1000 Masalah

Bung Karno, dengan segala keberhasilannya, juga menunjukkan bahwa tidak ada persatuan yang sempurna tanpa pengakuan terhadap kepentingan yang berbeda. Dalam konteks ini, kita harus terus berjuang untuk mencapai persatuan yang sejati di mana setiap suara dan kepentingan dihargai dan diperhatikan.

Merdeka !!!***


Penulis: Moh. Fadli D. Lahalik, S.Pd
Ketua DPC PA GMNI Touna.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

DPP GMNI Mendorong Pelaksanaan UHC: Tidak Menyisakan Ketimpangan Akses dan Kualitas Layanan Kesehatan
Selasa, 13 Januari 2026 | 18:01 WIB
Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Selasa, 13 Januari 2026 | 12:57 WIB
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:42 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Senin, 12 Januari 2026 | 19:19 WIB
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Senin, 12 Januari 2026 | 15:03 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Empat Syarat untuk Menegakkan Demokrasi di Indonesia

Marhaenist.id, Jakarta - Terdapat 4 syarat yang harus terpenuhi agar demokrasi bisa…

DPP PA GMNI Rilis Refleksi Kebangsaan 2025 dan Proyeksi Indonesia 2026: Kuat Karena Bersatu, Bersatu Karena Kuat

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Rekonstruksi Amanat Marhaen, GMNI Menggugat Para Pimpinan MBD

Marhaenist.id - Momentum pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah di…

Komitmen Kepala Daerah Dalam Pelayanan Informasi Publik

Marhaenist.id - Hak memperoleh informasi merupakan hak asasi manusia, dan keterbukaan informasi…

Donald Trump Ditembak Saat Sedang Berpidato di Pennsylvania

Marhaenist - Tembakan muncul saat Donald Trump berpidato di Pennsylvania, dan mantan…

Wabup Ngawi Anto Terpilih Secara Aklamasi Sebagai Ketua PA GMNI Ngawi

Marhaenist - Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko terpilih sebagai Ketua Persatuan…

Nasrani-Yahudi Dalam Tinjauan Madilog

AGAMA NASRANI Jesus Nazrenus Rex Jodioram Jesus dari Nazaret Rajanya Yahudi Agama…

Kawal Putusan MK, GMNI Airlangga Inisiasi Gerakan Demonstrasi Respons Kemelut RUU Pilkada

MARHAENIST - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia atau GMNI Airlangga bersiap melakukan aksi…

Hari Ibu di Kandang Rakyat: Ir. Robi Agustiar Salah Satu Pendiri GMNI Sumedang Tegaskan Peternak adalah Marhaen Modern

Marhaenist.id, Bandung - Di tengah peringatan Hari Ibu, Ir. Robi Agustiar, S.Pt.,…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?