By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Selamat Datang di “AI New Normal”
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Historical

Kucing Hitam Atau Kucing Putih dan Deng Xiaoping

Indo Marhaenist
Indo Marhaenist Diterbitkan : Kamis, 5 September 2024 | 16:40 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Deng Xiaoping semasa muda. Foto : Public Domain/Georgy Manaev
Bagikan

MARHAENIST – Ketika mendengar ungkapan “Kucing Hitam Kucing Putih”, pikiran tentang kucing mungkin langsung terlintas di benak kita. Sebenarnya, ungkapan ini adalah teori yang sudah dikenal luas sejak reformasi dan keterbukaan Tiongkok.

Hal ini berdasarkan pada kutipan dari mendiang pemimpin Deng Xiaoping pada tahun 1960-an, “Kucing hitam atau kucing putih, jika bisa menangkap tikus, ia adalah kucing yang baik.”

Dengan kata lain, tidak peduli apakah itu ekonomi terencana atau ekonomi pasar, ekonomi hanyalah sarana mengalokasikan sumber daya, tidak ada hubungannya dengan sistem politik.

Kapitalisme dapat memiliki rencana, dan sosialisme dapat memiliki pasar. Selama ekonomi dapat mengembangkan produktivitas, keduanya dapat digunakan dalam praktik.

Sebagai seorang pragmatis, Deng percaya bahwa terlibat dalam perdebatan teoritis akan menunda peluang. Ia menganggap argumen kosong tidak membantu dan kebenaran hanya dapat diuji dalam praktik. Jadi, menurutnya, kita harus bertindak berani dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum mencoba sesuatu.

Apakah solusinya memecahkan masalah yang menjadi tujuannya? Itulah yang terpenting. Solusi yang memenuhi persyaratan tertentu tetapi gagal memecahkan masalah tidak ada gunanya. Dia tidak peduli dengan kemurnian ideologis, yang penting adalah hasilnya.

Dan setelah bertahun-tahun berlatih, kini Tiongkok telah membuka jalan baru menuju sosialisme dengan karakteristik Tiongkok, dan membangun ekonomi pasar sosialis.

Peking awal musim panas, 1962. Deng Xiaoping berdiri di hadapan lebih dari 1.000 pemuda dari seluruh China. Itu saat Pleno ke-7 Komite Sentral Partai Komunis China (PKC) dalam Konferensi Liga Pemuda PKC. Deng sudah 6 tahun mendampingi Ketua PKC Mao Zedong sebagai Sekretaris Jenderal PKC.

Ketua Mao sendiri belum lama mundur dari jabatan Presiden, setelah program ambisiusnya Lompatan Jauh ke Depan gagal dan memicu kelaparan yang menewaskan 43 juta orang. Presiden berikutnya, Liu Shaoqi, kemudian melakukan enam langkah pemulihan ekonomi.

Baca Juga:   Pancasila dan Hari Kelahirannya: Mengali Fakta Sejarah!

Pertama, memberi insentif tanah untuk swasta. Kedua, mengefisiensikan BUMN. Ketiga, memberi kewenangan perusahaan dalam produksi. Keempat, mengizinkan pemerintah lokal menetapkan target dan kuota produksi. Kelima, mengedepankan akurasi data. Keenam, mereorganisasi partai.

Pada 1962 itu, enam langkah tersebut mulai menunjukkan hasil, meski belum membalikkan situasi sepenuhnya. Namun, kondisi ekonomi perdesaan China praktis sudah mulai membaik, terlihat dari berkembangnya industri skala kecil dan menengah seperti pabrik dan peralatan pertanian.

Deng sendiri, yang mulai terbuka pada gagasan liberal, percaya pemerintah lokal harus diberikan kewenangan memilih model terbaik atas produksinya. Pemerintah lokal harus bisa mengadopsi model produksi apa pun yang dapat memfasilitasi pemulihan dan pertumbuhan produksi pertanian.

Petani juga harus diizinkan mengadopsi model produksi apa pun yang mereka inginkan. Ini ibarat dalam pertempuran, Kamerad Liu Bocheng sering mengutip pepatah Sichuan: Tidak masalah mau kucing hitam atau kucing putih, asalkan bisa menangkap tikus,” kata Deng dalam pidatonya.

Sayang, pada 1966, Ketua Mao kumat lagi. Ia meluncurkan Revolusi Kebudayaan. Bukannya kapok dengan kegagalannya terdahulu, kali ini Mao ingin menghadirkan ideologi komunis yang ‘benar’ dengan menyapu unsur kapitalis dan tradisional. Akibatnya, pemulihan ekonomi itu pun gagal.

Sebab pada masa itulah banyak budayawan, ilmuwan, teknisi, dan manajer pabrik dipenjara karena dituduh kontrarevolusi. Jutaan orang dianiaya, pengusiran, perampasan properti, perusakan situs agama dan budaya, banyak terjadi. Akibatnya, suplai pekerja dan tenaga ahli pun kian menyusut.

Upaya pengembangan teknologi untuk industrilisasi jangka panjang terhambat. Aktivitas politik lebih menyita energi ketimbang meningkatkan produktivitas. Alat transportasi untuk menunjang distribusi hasil produksi dipakai untuk mobilitas pengawal merah. Industri pun kekurangan bahan mentah.

Revolusi Kebudayaan itu sekaligus menandai kembalinya pengaruh Mao ke tampuk kekuasaan China. Kaum muda menanggapi agenda tersebut dengan membentuk kelompok-kelompok milisi. Gerakan itu lalu menyebar ke militer, buruh, PKC, hingga akhirnya ke seluruh ranah kehidupan.

Baca Juga:   Pesan Terakhir Ki Hadjar Pada Bung Karno

Gerakan faksional ini lalu berujung pada pembersihan massal pejabat senior PKC, termasuk Liu Shaoqi dan Deng Xiaoping. Pada saat yang sama kultus personalitas Mao kian tumbuh, dan Maoisme akhirnya menjadi ideologi baru China, sekaligus mengantarkan China jatuh ke titik terendah ekonominya.

Deng, yang disebut Ketua Mao sebagai ‘antek kapitalis terbesar kedua di partai’ setelah Liu, pada 1966 itu dicopot dari jabatannya, ditugaskan bekerja di kantin sekolah kader di Peking. Pada 1969, ia dipaksa bekerja di pabrik traktor di Xinjian, Jiangxi, hingga akhirnya kembali pada 1973.

Setelah Wakil Ketua PKC Lin Bao tewas dalam kecelakaan udara setelah gagal mengudeta Mao pada 1971, Perdana Menteri Zhou Enlai meyakinkan Mao untuk kembali membawa Deng ke politik. Mao yang tak punya pilihan lain akhirnya setuju. Pada 1974, Deng dipilih sebagai Wakil PM.

Pada 1975, Deng terpilih sebagai Wakil Ketua PKC. Sayang, setahun berikutnya Zhou meninggal. Mao lalu memilih Hua Guofeng sebagai PM. Pada tahun itu pula Mao meninggal. Kelompok reformasi yang dipimpin Deng akhirnya mulai melucuti kebijakan Mao yang berkaitan dengan Revolusi Kebudayaan.

Ia melanjutkan reformasi ekonomi yang sudah dimulai pada 1970-an, dengan privatisasi, menerapkan kawasan khusus dengan insentif pajak, menyudahi kontrol harga, dan menghapus proteksi. Hasilnya, selama 1978-2013, ekonomi China tumbuh rata-rata 9,5% per tahun.

“Kita tidak akan memiliki harapan berhasil, kecuali kita melakukan segala upaya untuk membangkitkan inisiatif massa, termasuk petani dan penduduk kota. Kita bisa menemukan cara untuk merehabilitasi ekonomi nasional dalam waktu yang singkat,” kata Deng dengan penuh percaya diri.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
Minggu, 22 Februari 2026 | 21:23 WIB
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:25 WIB
Selamat Datang di “AI New Normal”
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:06 WIB
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Sabtu, 21 Februari 2026 | 22:13 WIB
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!
Sabtu, 21 Februari 2026 | 11:25 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Refleksi Hari Perempuan Internasional: Guyonan Seksis, Cerminan Mentalitas Bobrok!

Marhaenist.id - Perempuan selalu dielu-elukan sebagai simbol keindahan, kelembutan, dan inspirasi. Namun,…

Mahfud MD Ungkap Dana Otsus Papua Masa Lukas Enembe untuk Foya-foya

Marhaenist - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD berterus…

Ganjar: Kampanye Sudah Selesai, Saatnya Rakyat Menilai

Marhaenist.id, Bogor - Bogor pecah! Puluhan ribu warga Jawa Barat tumpah ruah…

Dukung Langkah Kongres Persatuan, GMNI Mamasa Serukan Rekonsiliasi Internal dan Nasional 

Marhaenist.id, Mamasa - Gerakan mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) akan segera mengelar Kongres…

Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin. REUTERS

Indonesia Berharap Kehadiran Xi Jinping di KTT G20

Marhaenist - Indonesia selaku tuan rumah KTT G-20 kembali menyampaikan harapannya agar…

Tanggapi Dualisme yang Sedang Terjadi, DPC GMNI Sejabodetabeksu Layangkan Pernyataan Sikap

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Revolusi Energi: Bongkar Mafia BBM, Tindak Tegas Pengkhianat Rakyat!

Marhaenist.id -Ditengah penderitaan rakyat akibat melonjaknya biaya hidup, mafia energi terus menghisap…

Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jawa Timur saat adakan orasi di depan gedung Grahadi Surabaya, (26/08/2024). FILE/IST. Photo

Kawal Implementasi PKPU, GMNI Jatim Gruduk Gedung Grahadi Surabaya

MARHAENIST - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jawa Timur bersama dengan Budayawan…

Lembaga Kebudayaan Untuk Merajut Kebhinekaan Indonesia

Bulan Oktober identik dengan peringatan Sumpah Pemuda. Pada tanggal 27-28 Oktober 1928…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?