By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Merayakan atau Melupakan Kartini di Tengah Krisis Ruang Aman Perempuan
Nasib Guru Honorer di Tengah Gelombang Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG
Kunjungan Seremonial Kepala BGN di Jember dalam Bayang Bayang
Indikasi Skandal dalam Program makan Bergizi Gratis
Komplikasi Program Makan Bergizi Gratis

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Teror Bukan Bantahan: Ketika Kritik Dibalas Intimidasi dan New Orde Baru Muncul 

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Kamis, 1 Januari 2026 | 14:07 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Secarik Kertas dengan tulisan teror kepada salah satu Influencer Dj Donny yang selalu kritis terhadap Pemerintah Indonesia saat ini (Sumber: gonews.id)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Ternyata, menjadi orang kritis di negeri ini kini terasa lebih menegangkan daripada jadi peserta Benteng Takeshi. Kalau dulu kritik berhadapan dengan hukum yang setidaknya masih bisa diuji di ruang publik hari ini metodenya berubah jadi teror psikologis yang niat, sistematis, dan pengecut.

Pola itu mudah dibaca. Ketika Bang Iqbal Damanik dan DJ Donny bersuara soal penyaluran bantuan bencana di Sumatra, yang datang bukan klarifikasi berbasis data atau bantahan argumentatif. Balasannya justru kiriman bangkai ayam ke rumah.

Ini bukan sekadar ancaman, tapi pertunjukan kebusukan—harfiah dan simbolik. Ada energi, waktu, dan niat jahat yang diinvestasikan hanya untuk membungkam kritik. Ironisnya, energi sebesar itu bisa dialihkan untuk membantu korban banjir, kalau memang kepedulian yang jadi alasan.

Kasus Aprilia Muktirina bahkan lebih menyedihkan. Konten yang ia buat bersifat harmless: menyoal kepantasan foto pejabat di depan bantuan. Kritik visual, bukan fitnah. Tapi balasannya adalah teror paket COD bernilai jutaan yang datang hampir setiap hari.

Ini intimidasi paling licik: memanfaatkan kurir jadinya warga biasa yang tak tahu apa-apa dugunakan sebagai alat teror. Kritik dibalas tagihan logistik. Ruang publik dikotori dengan cara yang merugikan banyak pihak sekaligus.

Lalu Sherly Annavita, mobilnya dirusak, dilempar telur busuk. Di tengah harga pangan yang naik, telur dipakai bukan untuk makan, melainkan untuk melampiaskan amarah terhadap kritik. Sebuah metafora pahit tentang nalar yang dibuang bersama akal sehat.

Apa yang sebenarnya terjadi? Kritik tak lagi dilihat sebagai mekanisme koreksi, melainkan ancaman personal. Bukan gagasan yang dibantah, tapi orangnya yang diserang. Ini bukan soal keberanian, melainkan ketakutan. Ketika data kalah oleh teror, ketika argumen diganti intimidasi, di situlah demokrasi mulai demam tinggi.

Baca Juga:   Indonesia di Persimpangan Geopolitik: Peluang dan Tantangan Dalam Menjalin Kerja Sama Dengan Uni Eropa

Joke “Selamat Datang New Orde Baru” terdengar lucu sampai ia berhenti jadi lelucon. Ketika kritik dibungkam bukan lewat debat, melainkan gangguan mental dan ancaman fisik, kita sedang menyaksikan kemunduran yang nyata. Bukan karena negara tak punya aturan, tetapi karena ada pihak yang memilih jalan pintas: membungkam, bukan menjawab.

Opini ini bukan ajakan untuk berhenti mengkritik. Justru sebaliknya. Ini peringatan bahwa ruang publik hanya akan sehat jika perbedaan dijawab dengan argumen, bukan teror.

Jika kritik dibalas intimidasi, maka yang kita rawat bukan stabilitas, melainkan ketakutan. Dan negara yang menumbuhkan ketakutan, cepat atau lambat, akan menuai perlawanan—entah dengan suara yang lebih keras, atau dengan diam yang jauh lebih berbahaya.***


Catatan Redaksi, Ditulis Oleh: La Ode Mustawwadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Merayakan atau Melupakan Kartini di Tengah Krisis Ruang Aman Perempuan
Sabtu, 18 April 2026 | 10:23 WIB
Nasib Guru Honorer di Tengah Gelombang Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG
Sabtu, 18 April 2026 | 10:01 WIB
Kunjungan Seremonial Kepala BGN di Jember dalam Bayang Bayang
Sabtu, 18 April 2026 | 09:57 WIB
Indikasi Skandal dalam Program makan Bergizi Gratis
Sabtu, 18 April 2026 | 09:53 WIB
Komplikasi Program Makan Bergizi Gratis
Sabtu, 18 April 2026 | 09:42 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Menolak Lupa: Ita Martadinata Haryono, Martir Kesucian yang Dibungkam demi Menjaga Wajah Bangsa

Marhaenist id - Sejarah Indonesia memiliki banyak pahlawan, namun ada satu nama…

Masa Jabatan Legislatif Tanpa Ujung: Celah yang Mengancam Alam Demokrasi

Marhaenist.id - Diskursus mengenai pembatasan masa jabatan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)…

DPD PA GMNI Jakarta Raya Audiensi ke Gubernur DKI Jakarta: Siap Kawal Jakarta Menuju Kota Global yang Berkeadilan Sosial

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

GMNI Jaktim Gelar Diskusi Pentingnya GMNI bagi Gen-Z

Marhaenist.id, Jaktim - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Diduga Dikeroyok, Kader GMNI di Sukabumi Tewas Mengenaskan

Marhaenist.id, Sukabumi - Seorang mahasiswa di Sukabumi, Jawa Barat (Jabar) berinisial RR…

Rifqi Sukarno (Founder Depok Youth Movement)/Marhaenist.id.

Sekilas Memaknai Hari Buruh

Marhaenist.id - Tepat pada 1 Mei di seluruh belahan dunia sedang merayakan…

Serukan 5 Point Penting Terkait Kondisi Bangsa, DPP PA GMNI Minta Semua Elemen Bangsa Menahan Diri dan Tak Terprovokasi

Marhaenist.id, Bandung - Dewan Pimpinan Pusat (DPD) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Terpilih dalam Konfercab, Efrem Elman Siarif Ndruru dan Noval Fahrizal Gunawan Resmi Nahkodai DPC GMNI Jaktim Periode 2025-2027

Marhaenist.id, Jaktim – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Suharto dan Gelar Pahlawan: Penghargaan atau Penghinaan bagi Sejarah?

Marhaenist.id - Soeharto, nama yang sudah menjadi sebuah monumen yang terbuat dari…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?