By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Selamat Datang di “AI New Normal”
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!
Megawati Institute: Temuan KPF adalah Alarm Demokrasi. Pemerintah Perlu Segera Melakukan Investigasi Independen dan Terbuka

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Teror Bukan Bantahan: Ketika Kritik Dibalas Intimidasi dan New Orde Baru Muncul 

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Kamis, 1 Januari 2026 | 14:07 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Secarik Kertas dengan tulisan teror kepada salah satu Influencer Dj Donny yang selalu kritis terhadap Pemerintah Indonesia saat ini (Sumber: gonews.id)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Ternyata, menjadi orang kritis di negeri ini kini terasa lebih menegangkan daripada jadi peserta Benteng Takeshi. Kalau dulu kritik berhadapan dengan hukum yang setidaknya masih bisa diuji di ruang publik hari ini metodenya berubah jadi teror psikologis yang niat, sistematis, dan pengecut.

Pola itu mudah dibaca. Ketika Bang Iqbal Damanik dan DJ Donny bersuara soal penyaluran bantuan bencana di Sumatra, yang datang bukan klarifikasi berbasis data atau bantahan argumentatif. Balasannya justru kiriman bangkai ayam ke rumah.

Ini bukan sekadar ancaman, tapi pertunjukan kebusukan—harfiah dan simbolik. Ada energi, waktu, dan niat jahat yang diinvestasikan hanya untuk membungkam kritik. Ironisnya, energi sebesar itu bisa dialihkan untuk membantu korban banjir, kalau memang kepedulian yang jadi alasan.

Kasus Aprilia Muktirina bahkan lebih menyedihkan. Konten yang ia buat bersifat harmless: menyoal kepantasan foto pejabat di depan bantuan. Kritik visual, bukan fitnah. Tapi balasannya adalah teror paket COD bernilai jutaan yang datang hampir setiap hari.

Ini intimidasi paling licik: memanfaatkan kurir jadinya warga biasa yang tak tahu apa-apa dugunakan sebagai alat teror. Kritik dibalas tagihan logistik. Ruang publik dikotori dengan cara yang merugikan banyak pihak sekaligus.

Lalu Sherly Annavita, mobilnya dirusak, dilempar telur busuk. Di tengah harga pangan yang naik, telur dipakai bukan untuk makan, melainkan untuk melampiaskan amarah terhadap kritik. Sebuah metafora pahit tentang nalar yang dibuang bersama akal sehat.

Apa yang sebenarnya terjadi? Kritik tak lagi dilihat sebagai mekanisme koreksi, melainkan ancaman personal. Bukan gagasan yang dibantah, tapi orangnya yang diserang. Ini bukan soal keberanian, melainkan ketakutan. Ketika data kalah oleh teror, ketika argumen diganti intimidasi, di situlah demokrasi mulai demam tinggi.

Baca Juga:   Didingklik: Wajah Baru Layanan Digital bagi Pelayanan Publik dan Tata Kelola Daerah di Pandeglang

Joke “Selamat Datang New Orde Baru” terdengar lucu sampai ia berhenti jadi lelucon. Ketika kritik dibungkam bukan lewat debat, melainkan gangguan mental dan ancaman fisik, kita sedang menyaksikan kemunduran yang nyata. Bukan karena negara tak punya aturan, tetapi karena ada pihak yang memilih jalan pintas: membungkam, bukan menjawab.

Opini ini bukan ajakan untuk berhenti mengkritik. Justru sebaliknya. Ini peringatan bahwa ruang publik hanya akan sehat jika perbedaan dijawab dengan argumen, bukan teror.

Jika kritik dibalas intimidasi, maka yang kita rawat bukan stabilitas, melainkan ketakutan. Dan negara yang menumbuhkan ketakutan, cepat atau lambat, akan menuai perlawanan—entah dengan suara yang lebih keras, atau dengan diam yang jauh lebih berbahaya.***


Catatan Redaksi, Ditulis Oleh: La Ode Mustawwadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:25 WIB
Selamat Datang di “AI New Normal”
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:06 WIB
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Sabtu, 21 Februari 2026 | 22:13 WIB
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!
Sabtu, 21 Februari 2026 | 11:25 WIB
Megawati Institute: Temuan KPF adalah Alarm Demokrasi. Pemerintah Perlu Segera Melakukan Investigasi Independen dan Terbuka
Jumat, 20 Februari 2026 | 13:15 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Cara Melawan Kapitalisme (2): Sang Karyawan Hemat

Marhaenist.id - Ini adalah adalah sebuah cerita yang saya adopsi dari praktik nyata…

Warga Jabar Titip Harapan di Pundak Ganjar; Jangan Lupakan Rakyat Kecil

Marhaenist.id, Cirebon - Stadion Bima Cirebon penuh sesak, Sabtu (27/1/2024). Bukan karena…

Tantangan dan Potensi Peternakan Berkelanjutan di Masa Depan

Marhaenist.id - Pada tahun 2050, jumlah penduduk dunia diperkirakan mencapai sembilan miliar jiwa.…

Sikapi Revisi UU Pilkada, GMNI Blitar Gruduk Kantor DPRD

MARHAENIST - Pelantikan anggota DPRD Kota Blitar terpilih periode 2024-2029 berlangsung pada…

Elemen Perjuangan Kelas Dalam Perjuangan Pembebasan Rakyat Indonesia, Henk Sneevliet 1926

Marhaenist - Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet atau lebih dikenal sebagai Henk…

Rusaknya Demokrasi, Puan: Karena Rakyat Tak Pernah Berkuasa

MARHAENIST - Banyak kritikan terhadap penyelenggaraan demokrasi di Indonesia yang dianggap telah…

Tigalisme, Klimaks Kehancuran GMNI: Persatuan???

Marhaenist.id - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), sebagai organisasi kader yang lahir…

Satresnarkoba Polres Binjai di Bawah Komando AKP Ismail Pane: Garda Terdepan Lindungi Generasi Muda dari Narkoba

Marhaenist.id, Binjai — Upaya pemberantasan dan pencegahan peredaran narkoba di Kota Binjai…

Luncurkan Tujuh Buku Jelang Purnatugas, Arief Hidayat Tegaskan Warisan Pemikiran Konstitusi Bernafaskan Pancasila

Marhaenist.id, Jakarta  — Hakim Mahkamah Konstitusi Prof. Dr. Arief Hidayat, S.H., M.S.…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?