Bahasa yang tercipta di dalam karya sastra adalah tindakan kejiwaan – Sartre
Rasanya-rasanya, saat menyentuh kata sastra, suasana berubah melankoli seakan semua dapat diromantisasi. Membelah segala jenis perasaan manusia dan imajinasinya untuk dituliskan menjadi maha karya. Pada abad ini, penulis-penulis muda yang kita ketahui saat ini mungkin telah mencerminkan bahwa sastra adalah demikian. Sebuah tulisan yang memikat banyak pembaca hingga jutaan, dan bertengger di rak buku yang paling banyak dijual. Tidak masalah, itu adalah hal yang sangat membanggakan bagi seorang penulis muda untuk menjejakkan kakinya pada dimensi sastra serta dunia literasi.
Beberapa tahun ini banyak sekali platform yang dijadikan ranah dalam menulis. Mulai dari aplikasi Wattpad. Aplikasi yang sangat mudah diakses dan juga membebaskan penulis dalam mengarang apa saja. Di sana kebanyakan penulis novel romance yang dengan genre yang unik. Beberapa daripadanya adalah percintaan seorang geng motor, mafia, dan juga CEO. Pembaca layaknya dibawa pada dunia yang tidak pernah mereka jejaki hingga lupa waktu untuk dunianya sendiri. Mula-mula dari satu penulis, dua penulis, dan akhirnya kemasifan pun terjadi saat buku dengan genre dan atmosfer serupa bisa menembus toko buku paling besar di Indonesia yaitu Gramedia.
Cara menulis semacam itu seakan menjadi jalan dan cara penulis-penulis muda Indonesia untuk bisa tampil dan menunjukkan diri mereka sebagai penulis yang hebat. Namun ternyata, salah. Kemasifan itu bergeser seketika dan menganggap jika tulisan tersebut amatlah absurd dan adanya kesadaran kecil jika pembaca sudah terlalu banyak mengonsumsi satu genre dengan plot yang tidak jauh berbeda dan menciptakan kejenuhan bahkan sampai menjadi kesadaran pula bagi penulis jika itu bukanlah tanda kemajuan seorang penulis ketika sepanjang tahunnya hanya menuliskan hal-hal serupa agar dapat “dikonsumsi” oleh pembaca saja. Sastra menjadi konsumsi untuk sekedar menghibur. Viral pun menjadi senjata untuk menjadi penulis tersohor dan hal tersebut bisa terjadi saat hal yang sedang marak diikuti, yang bisa dikatakan sebagai perilaku fomo.
Hingga akhirnya, Wattpad perlahan ditinggalkan dan aplikasi Tweeter membuka ruang dalam menyajikan cara penulisan baru dengan gaya dialog-dialog singkat dalam bentuk chat yang dibungkus dengan editing unik dan punya ciri khas tersendiri yang kerap disebut sebagai Alternate Universe. Pada awalnya, Alternate Universe (AU) memiliki warnanya tersendiri. Seperti layaknya beberapa karya yang diadaptasi dari AU mampu bertengger di rak Gramedia. Karya-karya luar biasa yang kerap kita dengar seperti Dikta & Hukum karya Dhia’An Farah, Butterflies Alesacakes, dan lain sebagainya yang kebanyakan pula menceritakan tentang warna-warni kehidupan masa muda yang manis dan menyentuh – seakan kita yang membacanya hanyut dan ikut merasakannya. Hal ini pula yang menjadi daya pacu penulis-penulis muda mulai tertarik untuk menulis AU. Dan seakan rotasi itu tetap berputar di lingkaran yang sama. Hingga menimbulkan ketimpangan jika tulisan yang diciptakan hanya sebatas untuk menghibur kala waktu luang saja.
Pada kenyataannya, itu tidak mendominasi pembaca di Indonesia. Banyak sekali pembaca-pembaca muda serta penulis yang memiliki pemahaman dan pandangan lain bahwa karya tulis sastra harus memiliki nilai lebih, yakni mewakili apa yang terjadi pada masyarakatnya dan menciptakan kesadaran baru untuk melihat sisi lain dari kehidupan bermasyarakat. Tidak hanya sekedar untuk menjadi hiburan pada waktu luang belaka. Akan tetapi nilai sastra melebihi dari hal tersebut.
Tidak bisa dipungkiri juga, banyak sekali novelis-novelis hebat yang mampu membawa warna baru dengan substansi yang kental. Salah satunya adalah novel Tanah Bangsawan Karya Filianaur yang membawa fiksi sejarah dan romansa yang mengangkat tema perbedaan kelas sosial dan kebangsaan pada masa kolonial Belanda di Indonesia. Novel ini membawa warna baru di kalangan muda-mudi untuk mengetahui sejarah lewat bungkusan novel yang memiliki citra bahasa tidak terlalu kaku dan mudah dimengerti untuk khalayak umum. Hingga fenomena pergerakan politik di Indonesia menyebar luas isunya di kalangan anak muda yang dianggap telah melek terhadap politik hingga banyaknya novel-novel berbau politik ikut terangkat naik. Sebuah kejadian destruktif pemerintah yang akhirnya membangun kesadaran bahwa membaca adalah melawan.
Inilah yang dimaksudkan oleh Sartre jika bahasa yang tercipta di dalam karya sastra adalah tindakan kejiwaan yang dimana karya sastra adalah medium yang diliputi dan dirasuki oleh pemikiran eksistensialisme, dimana manusia diposisikan sebagai makhluk yang bebas untuk menciptakan makna dan bertanggungjawab atas eksistensinya sendiri.
Dari Indonesia sendiri, Laut Bercerita karya Leila S. Chudori dengan tokoh Laut yang menghenyak jiwa-jiwa pembaca yang berujung pada kesadaran, pada era ini siapa saja bisa bernasib sama dengan Laut.
Tidak hanya itu, bahkan karya-karya Pramoedya Ananta Toer yang berhasil kembali dicetak di usia ke 100 tahun karyanya menjadi sorotan yang banyak dibaca oleh kalangan anak muda. Hingga beberapa karya George Orwell dengan Animal Farm dan 1984 miliknya dimakan habis oleh pembaca muda dan masih banyak buku lain yang pada sejarahnya, dahulu buku tersebut sangatlah dilarang untuk dibaca ternyata menjadi incaran khalayak muda-mudi pada jaman ini. Dari fenomena politik tersebut, perputaran budaya baca di kalangan anak muda berubah. Melejitnya buku-buku tersebut bukanlah ketiba-tibaan yang alami terjadi. Tapi adanya perasaan yang sama-sama dialami pada masa ini, dijelaskan dengan terperinci di dalam buku-buku tersebut hingga pandangan terhadap keadaan atau fenomena menjadi tumpuan kritis yang dibedah jika segalanya berhubungan dengan politik.
Sebut saja bagaimana dengan ‘gagahnya’ bapak menteri kita, Fadli Zon yang membuat proyek penulisan ulang sejarah, layaknya sejarah hanya ditulis oleh pemenang yang juga dituliskan George Orwell dalam 1984, yang bagi pembacanya bukan lagi bayangan imajinasi, tapi kini dirasakan langsung di negara kita. Atau mungkin teman-teman kita yang menjadi tahanan politik saat ini nyatanya senasib dengan tokoh fiksi yang kita kenal Mas Laut yang dihilangkan karena melawan di negaranya sendiri. Kini tulisan itu bukan hanya sekedar muatan fiksi.
Keadaan politik Indonesia yang kritis (dalam artian sudah pada ujung tanduk menuju kematian) sangatlah mempengaruhi kehidupan dari partikel terkecil dalam kehidupan itu sendiri. Hingga hal ini pula menjadi pendorong banyaknya buku-buku terkait politik yang kini banyak dibaca kalangan anak muda yang seharusnya menjadi harapan politik dengan kesadaran yang sehat dan merdeka secara pemikiran. Diskusi hingga bedah buku kembali diramaikan muda-mudi, yang seharusnya menjadi kabar baik untuk budaya baca di Indonesia yang dianggap hanya 20% pada tahun 2025 menurut survei Good Stats. Justru pemerintah itu sendiri melakukan tindakan dekriminalisasi melalui penggeledahan dan penangkapan terhadap buku-buku berbau politik pun kembali dilancarkan oleh aparat yang seharusnya paling dekat dengan sipil-sipil yang biasa kita sebut polisi.
Sudah seharusnya Indonesia bisa melahirkan Pram yang lainnya. Tulisan yang mampu menggetarkan tiang-tiang kekuasaan atas dasar perlawanan.
Mari kita masuk pada sisi lain, pada keadaan industri buku di Indonesia. Banyak sekali penerbit terkenal – yang biasa kita sebut sebagai penerbit mayor – yang menjadi tumpuan mimpi kecil penulis-penulis agar bisa menjadi penulis tersohor dan dikenal banyak orang di negerinya. Ternyata, tidak seindah yang dibayangkan. Beberapa tahun terakhir ini kita bisa melihat, jika kebanyakan naskah yang dipinang hanya naskah-naskah romansa yang sesuai pasarnya sedang naik tinggi – setelah ini, kita bisa pertanyakan substansinya. Bahwa pada kenyataannya banyak sekali penulis yang benar-benar memperbaiki substansi tulisan mereka dan menerbitkannya pada penerbit indie yang jauh lebih melihat potensi dari naskah mereka ketimbang seberapa banyak pembaca, seberapa besar pamor yang ia punya.
Hal itu menjadi boomerang dunia literasi Indonesia yang saat ini sedang dalam keadaan cukup krisis dengan berkembangnya isu banyak penulis yang terjangkit penyakit paling hina yaitu plagiarisme yang satu per satu timbul ke permukaan. Pada awalnya yang banyak terjerat adalah penulis hingga beberapa penerbit ikut serta dalam melancarkan virus plagiarisme demi pendapatan pasar yang harus mereka raih.
Menjadi pertanyaan besar apakah penulis dan pembaca di Indonesia dapat menunjukkan taringnya selayak Pramoedya yang menjadi abadi dalam satu abad ini?
Terkait hal tersebut, Sastra yang terlibat atau La Litterature Engagee salah satu gagasan dalam sastra yang mungkin akan menjadi cocok bagi penulis di dalam keadaan Indonesia yang amat gelap saat ini. Sastra yang terlibat dapat menjadi opsi pandangan untuk menata ulang kembali pandangan kita terhadap sastra.
Sastra dan Perubahan
Menurut Sapardi Djoko Damono, gagasan tentang sastra yang terlibat atau la litterature engagee timbul sebagai akibat dari pengaruh ideologi modern terhadap kesusastraan. Ideologi yang sekarang ada, meskipun berbagai coraknya, memperlihatkan suatu persamaan: semua mencerminkan perubahan sosial yang cepat dan mendasar di jaman ini. Perubahan inilah yang memaksa orang untuk menimbang kembali posisi dan tempat kita di dunia dan tanggung jawab kita terhadap orang lain.
Diartikan sebagai ‘terlibat’ yakni, jenis sastra ini ingin menunjang sebuah visi terhadap manusia dan masyarakat. Biasanya melawan tata masyarakat yang sedang berlaku dan mendukung golongan tertindas. Keterlibatan ini dapat berkaitan dengan tema atau bahan, tetapi juga dengan bentuk kepengarangan sebagai ungkapan keterasingan manusia. (Hartoko & Rahmanto, 1986; 38).
Pengarang yang memiliki gagasan engagee memahami bahwa kata-kata adalah perbuatan, ia mengerti bahwa menemukan adalah merubah, dan apabila orang ingin menemukan sesuatu berarti ia ingin merubah sesuatu. Seluruh fakta di dalam diri manusia menyebabkan perubahan, seperti rasa benci, cinta, amarah, bahagia, dan kagum. Sehubungan dengan hal tersebut, fungsi seorang pengarang pada saat ini adalah menyampaikan pesan kepada pembacanya. Dia tidak boleh hanya mencari keindahan kalimat-kalimatnya atau khayalannya semata.
Gagasan ini pula menurut Sapardi Djoko Damono, dilandasi dan bersumber dari dua hal pokok; Pertama, kita dihadapkan kepada kenyataan yang bergerak begitu cepat sehingga hampir tidak ada kesempatan bagi kita untuk memahaminya. Bahkan sering sebagian kenyataan itu sulit dipahami. Di jaman dahulu, seniman dapat menghindarkan diri dari masalah tersebut dengan cara membohongi diri sendiri. Mereka beranggapan bahwa kesenian merupakan hal yang terpisah dari masyarakat. Pengarang jenius masa itu berhasil berbuat demikian karena mereka mampu melihat apa yang ada di bawah permukaan. Tetapi, sekarang ini hal serupa itu tidak mungkin dilakukan, sebab situasi kita sekarang ini sangat unik. Hanya lewat keunikan yang orisinal itulah seniman sekarang dapat menyatakan dirinya. Seakan hal tersebut sudahlah cukup.
Pokok yang kedua beranggapan bahwa keterlibatan pengarang ini bersumber pada krisis yang mendalam yang menimpa peradaban kita. Kedua perang dunia yang telah lalu tidak hanya menghancurkan ilusi kita, tetapi juga memaksa kita untuk memiliki hidup atau mati kita sebagai manusia. Dalam jaman nuklir, sebagaimana kita bisa melupakan krisis ini begitu saja. Dan kalaupun kita mencoba untuk menolak kenyataan tersebut, yakni adanya ancaman kemusnahan oleh nuklir, kenyataan itu akan tetap ada. Dan sastra yang terlibat mendorong penulis haruslah membongkar itu semua dan membentuk sebuah kesadaran terhadap apa yang terjadi tanpa memisahkan diri dari masyarakat sebagai sebuah tanggung jawab yang terlibat.
Adereth juga mengungkapkan bahwa krisis politik merupakan pernyataan yang terpenting di antara krisis yang ada di jaman ini. Semua konflik moral dan ideologi pada jaman ini mempunyai latar belakang politik. Tidak ada segi perjuangan hidup kita, baik yang bersifat individual maupun sosial, yang tidak berbau politik. Semua nasib manusia ditentukan oleh politik.
Jadi, kita bisa melihat jika gelombang literasi yang terjadi saat ini, dimana banyaknya anak muda yang sudah gemar membaca karya-karya sastra dengan pandangan politik, nyatanya bukan sesuatu yang tiba-tiba. Melainkan adanya suatu keadaan politik yang membuat kita semua sadar jika segala hal yang tertulis adalah sebuah kebenaran yang kini kita rasakan. Dan gagasan sastra yang terlibat ini juga mengajak kita untuk membangun sebuah siklus perubahan dalam dunia kepenulisan jika Pram di Indonesia tidak hanya satu. Tapi kita bisa menjadi salah satunya.
Penulis: Kesh Grey/Qeisya Keyla
Penyunting: Sanara G.