By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Selamat Datang di “AI New Normal”
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Sudah Sejahterakah Buruh Hari Ini? Telaah Kritis Melalui Perspektif Marxis

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Rabu, 30 April 2025 | 23:09 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Bendera GMNI/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Di tengah kemajuan teknologi, liberalisasi ekonomi, dan pergeseran dunia kerja, pertanyaan klasik ini masih bergema: “Sudah sejahterakah buruh hari ini?” Sebuah narasi dominan yang umumnya akan dijawab “ya” oleh para kapitalis.

Namun, bila kita menelaah dari perspektif Marxis. Kesejahteraan buruh bukan lah sekadar perkara angka-angka di atas kertas, tetapi perkara struktural yang berkaitan erat dengan relasi produksi, kepemilikan alat produksi, dan nilai lebih yang dihasilkan dari kerja mereka.

Latar Belakang Persoalan Kesejahteraan Buruh di Era Modern

Sejak era Revolusi Industri, buruh telah menempati posisi sentral dalam mesin produksi kapitalisme. Mereka menjual tenaga demi bertahan hidup, namun tidak memiliki kuasa atas hasil kerjanya.

Kondisi ini dijelaskan dengan tajam oleh Karl Marx dalam bukunya Das Kapital, bahwa dalam sistem kapitalis buruh tidak pernah benar-benar dibebaskan dari eksploitasi. Mereka menjadi komoditas yang nilainya ditentukan oleh kebutuhan minimum untuk mempertahankan hidup, bukan oleh nilai sejati dari kerja yang mereka berikan.

Memasuki era kontemporer, wajah eksploitasi mengalami perubahan. Dunia kerja kini dihiasi jargon-jargon seperti fleksibilitas, efisiensi, dan inovasi. Namun sebaliknya, struktur pada relasi kuasa yang di pegang oleh Kapitalis tetap tidak berubah.

Realitas buruh hari ini jauh dari gambaran ideal tentang kesejahteraan. Di Indonesia, upah minimum regional masih sering kali tidak memenuhi kebutuhan hidup layak bagi para buruh.

Inflasi terus naik, harga kebutuhan pokok meningkat, sementara upah kerap stagnan. Banyak buruh masih bekerja dalam kondisi tidak pasti ini dengan status kontrak, tanpa jaminan pensiun, dan tanpa perlindungan maksimal dari negara.

Sementara itu, buruh di sektor industri juga menghadapi tantangan serius. Peningkatan jam kerja, beban kerja berlebih, bahkan penghilangan hak-hak normatif dengan alasan efisiensi dan produktivitas menjadi praktik yang semakin umum ditemui oleh para buruh selama bekerja. Serikat pekerja juga tak luput dari upaya pelemahan melalui berbagai mekanisme, baik secara hukum maupun sosial, menjadikan posisi buruh semakin terasingkan (alienasi) dari posisi idealnya.

Baca Juga:   Populisme dan Krisis Musyawarah dalam Demokrasi Kita

Strategi Kooptasi dan Ilusi Kesejahteraan

Salah satu kekuatan utama kapitalisme modern bukan hanya pada kontrol ekonomi, tetapi juga pada kemampuannya membangun kesadaran semu (false consciousness). Buruh tidak hanya dieksploitasi secara material, tetapi juga dimanipulasi secara ideologis. Mereka dibentuk untuk percaya bahwa kerja keras akan membawa kesejahteraan pribadi. Mereka disuguhi narasi tentang meritokrasi, mobilitas sosial, dan mimpi menjadi “orang sukses”.

Kooptasi ini juga hadir dalam bentuk corporate social responsibility (CSR), penghargaan karyawan terbaik, atau program kesejahteraan semu yang disponsori perusahaan. Padahal semua itu hanyalah mekanisme untuk memperhalus dominasi, bukan mengubah struktur relasi kerja. Negara pun berperan dalam memperkuat strategi ini melalui regulasi-regulasi yang condong pada kepentingan modal, seperti UU Omnibuslaw, & UU Minerba yang justru mempermudah pemutusan hubungan kerja dan mengurangi hak-hak dasar buruh.

Di sisi lain serikat buruh kerap dilemahkan bukan hanya melalui represi langsung, tapi juga melalui kooptasi ideologis. Serikat dijinakkan, diarahkan untuk menjadi bagian dari sistem manajerial, bukan sebagai alat perjuangan kelas. Hal ini menyebabkan buruh kehilangan saluran perjuangan yang sejati.

Perlawanan dan Alternatif Menuju Kesejahteraan

Dalam perspektif Marxis, perjuangan buruh bukan hanya untuk kenaikan upah atau perbaikan kondisi kerja, tapi untuk membangun tatanan sosial alternatif. Masyarakat tanpa kelas, di mana alat produksi dikuasai secara kolektif dan hasil kerja dibagikan berdasarkan kebutuhan. Ini bukan mimpi utopis, melainkan cita-cita revolusioner yang berpijak pada logika pembebasan dari alienasi dan dominasi modal.

Alternatif jangka pendek bisa meliputi penguatan serikat buruh independen, aliansi lintas sektor pekerja, serta perjuangan hukum yang berpihak pada buruh. Namun alternatif jangka panjang menuntut transformasi radikal atas struktur ekonomi dan politik. Sebuah Project Sosialisme yang memberikan kontrol atas produksi dan distribusi pada kelas pekerja itu sendiri.

Baca Juga:   Etika Negara Demokrasi: Ketika Kekuasaan Harus Tunduk pada Kepercayaan Rakyat

Sudah sejahterakah buruh hari ini?

Menjawab pertanyaan “Sudah sejahterakah buruh hari ini?” memerlukan niat yang besar untuk melihat realitas secara keseluruhan. Di balik narasi kesejahteraan, tersembunyi sistem kerja yang masih menjadikan buruh sebagai komoditas untuk akumulasi modal. Perspektif Marxis membantu kita memahami bahwa persoalan ini tidak akan selesai hanya dengan perbaikan kosmetik, tetapi harus melalui perubahan sistemik.

Kesejahteraan sejati bagi buruh bukan sekadar soal angka upah atau jaminan sosial, tetapi soal penghapusan eksploitasi, penguasaan kolektif atas alat produksi, dan pembebasan manusia dari sistem kerja yang menindas.

Maka, selama kapitalisme masih menjadi fondasi sistem ekonomi, perjuangan buruh akan terus relevan sebagai bagian dari upaya panjang menuju masyarakat yang lebih adil.***


Penulis: DPC GMNI Balikpapan. Tulisan ini ditulis berdasarkan hasil Kajian DPC GMNI Balikpapan pada Tanggal 27 April 2025.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
Minggu, 22 Februari 2026 | 21:23 WIB
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:25 WIB
Selamat Datang di “AI New Normal”
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:06 WIB
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Sabtu, 21 Februari 2026 | 22:13 WIB
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!
Sabtu, 21 Februari 2026 | 11:25 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Kesederhanaan Hamba Tuhan dan Pemimpin Tinggi Vatikan, Paus Fransiskus

MARHAENIST - Pemimpin Gereja Katolik Dunia Paus Fransiskus tiba di Indonesia pada…

Peringati Hari Buruh Internasional, GMNI Kendari: Pemda Sultra Harus Memberikan Perlindungan Penuh terhadap Hak Buruh

Marhaenist.id, Kendari -Dewan pimpinan cabang (DPC) Gerakan mahasiswa Nasional indonesia (GMNI) Kota Kendari…

Jelang Pemilu 2024, DPD GMNI Sultra Ajak Masyarakat Ciptakan Pemilu Damai dan Tolak Politik Uang

Marhaenist.id, Kendari - Jelang pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak Tahun 2024, Dewan…

Hadiri Halal Bil Halal DPD PA GMNI Kalbar, Arudji Tekankan Alumni dan Kader GMNI Agar Bergotong Royong

Marhaenist.id, Kubu Raya - Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Alumni (PA) Gerakan…

Relawan Mas Pram dan Bang Doel Gelar Nobar di 50 Titik Lokasi Bareng Warga Jakarta

MARHAENIST - Perjuangan Timnas Indonesia untuk meraih kesempatan pertama berlaga di World…

Berjuang Tak Selalu Harus Dengan Moncong Senjata

Marhaenist.id - Perjuangan tidak tunggal. Bung Karno memilih jalur politik karena yakin…

Kasus Oplosan BBM: Negara Harus Bertanggung Jawab atas Kerugian Konsumen

Marhaenist.id, Jakarta - Terungkapnya praktik pengoplosan BBM di PT Pertamina Patra Niaga…

Bung Toban dan Jiwa Marhaenisme : Kesetiaan Kader pada Jalan Rakyat Menuju Revolusioner

Marhaenist.id - Marhaenisme, sebagaimana dirumuskan oleh Bung Karno, bukanlah sekadar teori sosial,…

Bawaslu: Pengawas Pemilu atau Mitos Demokrasi?

Marhaenist.id-Seperti halnya urban legend yang sering terdengar kuat di permukaan tetapi sulit…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?