Marhaenist.id, Jakarta — Sarinah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) se-Indonesia menggelar Diskusi Feminisme Pancasila bertema “Pelopor Perempuan Terpelajar Masa Kini” secara daring melalui Zoom dan live streaming YouTube, dalam rangka memperingati Hari Ibu Nasional, refleksi akhir tahun 2025, serta penggalangan dana bencana di Sumatera.
Kegiatan yang diinisiasi DPC GMNI Jakarta Timur ini diikuti sekitar 200 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Diskusi tersebut menjadi ruang konsolidasi ideologis dan pertukaran gagasan untuk memperkuat peran perempuan terpelajar dalam kehidupan sosial dan politik kebangsaan berbasis nilai-nilai Pancasila.
Ketua Pelaksana kegiatan, Yulia Brian Dini, menyampaikan bahwa forum ini dirancang sebagai ruang dialektika strategis bagi kader Sarinah GMNI untuk memperkuat kesadaran ideologis dan kontribusi nyata perempuan dalam perjuangan kerakyatan.
“Perempuan terpelajar harus tampil sebagai subjek perubahan sosial yang berdaya dan berperspektif keadilan sosial,” ujarnya.
Diskusi ini menghadirkan Sarinah pelopor dari berbagai wilayah, di antaranya perwakilan GMNI dari Jakarta Timur, Depok, Kupang, Mimika, Pekanbaru, Tangerang Selatan, Tapanuli Utara, Surakarta, dan Surabaya Raya. Kehadiran mereka mencerminkan upaya merajut persatuan GMNI lintas wilayah dari Barat hingga Timur Indonesia.
Dalam sambutan pembuka yang mewakili Sarinah se-Indonesia, Tiarma Simanjuntak menegaskan bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap sejarah, melainkan subjek politik yang sadar, terdidik, dan berdaya.
Ia menekankan pentingnya peran perempuan sebagai perekat persatuan organisasi serta penjaga nilai ideologis Marhaenisme.
Sebagai keynote speaker, Eva Kusuma Sundari dari Institut Sarinah Indonesia menjelaskan bahwa Feminisme Pancasila merupakan konsep keadilan gender khas Indonesia yang berakar pada nilai gotong royong, keseimbangan spiritual, dan sejarah kepemimpinan perempuan Nusantara.
Menurutnya, pendekatan ini berbeda dari feminisme Barat yang berangkat dari konteks sosial budaya yang berbeda.
Diskusi panel pertama membahas perspektif ekonomi, politik, dan hukum. Wakil Rektor Universitas Flores, Dr. Dra. Immaculata Fatima, M.MA., menekankan pentingnya pendidikan perempuan dalam penguatan ekonomi rakyat berbasis ideologi Marhaenisme.
Sementara itu, Susi Maryanti, S.H., M.H., dari DPN PERADI menyoroti persoalan perlindungan hukum perempuan, khususnya maraknya kekerasan domestik yang masih terjadi di ruang privat.
Panel diskusi kedua mengangkat isu kesehatan mental dan sosiologi. Guru Besar Psikiatri Universitas Airlangga, Prof. Dr. dr. Margarita Maria Maramis, menyatakan bahwa kesehatan mental perempuan merupakan hak dasar yang kerap terabaikan, terutama bagi perempuan dari kelompok Marhaen yang menghadapi beban ganda ekonomi dan sosial.
Perspektif sosiologis kemudian disampaikan oleh Agnes Sri Poerbasari dari Dewan Ideologi DPP Persatuan Alumni GMNI, yang menegaskan peran perempuan sebagai agen perubahan sosial kolektif.
Menutup rangkaian acara, GMNI menegaskan komitmennya untuk menempatkan isu perempuan sebagai bagian integral dari perjuangan kerakyatan.
Melalui konsep Sarinah dan Feminisme Pancasila, GMNI mendorong perempuan tampil sebagai motor perubahan dalam menghadapi ketimpangan struktural, baik di tingkat nasional maupun global.***
Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.