By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Menimbang Arah Indonesia dari Cermin Sejarah

Eko Zaiwan
Eko Zaiwan Diterbitkan : Jumat, 4 Juli 2025 | 10:16 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Hermawansyah praktisi senior Civil Society Organization (Organisasi Masyarakat Sipil)/ Alumni GMNI Kalbar/MARHAENIST
Bagikan

Marhaenist.id – “Sejarah berulang,” begitulah teori klasik yang mengonfirmasi bacaan kita tentang keadaan hari ini. Sebab, makin ke sini, persoalan-persoalan yang tampak dan manifest—baik di tingkat lokal hingga geopolitik global—seolah membuat kita mengalami déjà vu. “Loh, kok sepertinya mirip, ya, dengan situasi dan momentum yang pernah kita baca, lihat, serta rasakan sebelumnya?”

Daftar Konten
Bagaimana Indonesia Kini?Konstruksi Perubahan

Sebut saja, misalnya, momentum Reformasi 1998. Isu-isu yang muncul kini seolah merujuk pada situasi 27 tahun lalu. Belum lagi rencana menjadikan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional dan penulisan ulang sejarah Indonesia. Ini seakan ingin mengaburkan, bahkan mengubur, jejak dosa masa lalu Orde Baru. Tentu saja para pelaku sejarah Reformasi menolak keras rencana ini.

Di tingkat global, perang Iran–Israel menggambarkan peta baru dalam dinamika relasi warga dunia. Poros Teheran–Moskow–Beijing mengingatkan kita pada masa Perang Dingin antara NATO dan Pakta Warsawa. Atau, dulu Bung Karno—di masa Demokrasi Terpimpin—juga pernah membangun aliansi geopolitik poros Jakarta–Peking–Pyongyang–Moskow.

Namun kini, irisan koalisi baru antara Barat–Timur–Asia bukan lagi sekadar urusan Kapitalisme versus Komunisme. Lebih dari itu, pertarungan ini bersifat ideologis, menyangkut perlawanan terhadap hegemoni dan dominasi poros Israel–AS atas tanah Palestina.

“Dunia tak lagi seimbang,” ungkap seorang pengamat luar negeri. Maka diperlukan upaya yang terkonsolidasi untuk menata kembali hubungan antarwarga dunia yang lebih setara dan adil.

Lalu, kita diajak membuka kembali lembaran sejarah kebangsaan Indonesia. Bagaimana dulu, pada 30 September 1960 dalam Sidang Umum PBB di New York, Bung Karno menyerukan ajakan: “Membangun Dunia Kembali” (To Build a World Anew).

Sebuah tatanan dunia yang adil dan setara tanpa imperialisme dan kolonialisme. Sebuah narasi perjuangan global yang berbasis solidaritas negara-negara Asia–Afrika, yang sebelumnya dikonsolidasikan oleh Bung Karno dalam KAA 1955 di Bandung. Kala itu, masih banyak negara di Asia–Afrika yang terkungkung dalam kolonialisme–imperialisme.

Baca Juga:   Negara Darurat Intoleransi!!!

Sebagaimana yang terjadi di tanah Palestina sejak 1948 hingga kini: Imperium Inggris memberi jalan bagi komunitas Yahudi–Zionis untuk mencaplok tanah Palestina dan mendirikan negara Israel. Hingga kini, konflik tanah di Jalur Gaza dan Tepi Barat masih terus berlangsung. Puncaknya: pecah perang 12 hari antara Iran dan Israel atas cawe-cawe Donald Trump.

Apakah “pemanasan” menuju perang dunia ketiga akan padam? Tampaknya belum—sepanjang akar masalahnya belum diselesaikan, yakni kemerdekaan Palestina atas tanah airnya.

Sebagaimana sikap Bung Karno dahulu, yang hingga kini masih menjadi pondasi politik luar negeri Indonesia atas isu Palestina:

“Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia menentang penjajahan Israel.”
Begitulah ucapan lantang Bung Karno menegaskan pembelaan Indonesia terhadap bangsa Palestina.

Bagaimana Indonesia Kini?

Terbaru, Prabowo mendapat apresiasi dari para pimpinan negara dan delegasi dalam International Economic Forum di St. Petersburg. Di hadapan Vladimir Putin, Prabowo menawarkan jalan tengah antara Sosialisme dan Kapitalisme. Inovasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi memang penting, tetapi intervensi dan pembelaan negara terhadap kelompok lemah dan miskin juga harus tetap konsisten.

Pidato tanpa teks Prabowo itu mendapat acungan jempol dari Putin. Terutama ketika Prabowo menyebut bahwa kehadirannya di Rusia merupakan wujud komitmennya atas undangan Moskow. Dalam kacamata diplomasi, Prabowo menegaskan posisi Indonesia pada poros BRICS. Karena pada saat yang sama, Indonesia tidak hadir dalam forum G7 yang diorganisir oleh poros Amerika–Eropa.

Informasi yang beredar menyebutkan bahwa sepulang dari Moskow, pemerintah membawa komitmen Rusia untuk membantu pengembangan energi nuklir di Indonesia sebesar Rp73 triliun.

Diplomasi dan narasi Presiden Indonesia tersebut menunjukkan bahwa Prabowo adalah sosok pemimpin yang paham sejarah—dan berupaya menawarkan gagasan tentang arah tata kelola dunia ke depan.

Baca Juga:   Aksi Mahasiswa: Bubarkan DPR?

Konstruksi Perubahan

Sejarah tidak semata soal rekonstruksi masa lalu, yang lebih penting adalah konstruksi masa depan. Kita perlu bercermin pada sejarah, menengok sejenak ke belakang: pembelajaran apa yang bisa kita petik untuk menemukan jendela dan pintu perubahan?

Apakah window of opportunity masih tersedia?

Apakah kita harus menggedor pintu kekuasaan?

Dari situ, jalan mana yang akan kita tempuh akan tampak lebih terang.

Di sinilah pentingnya merumuskan arah perubahan, agar kita tidak tersesat di jalan pikiran sendiri—atau kelompok. Arah itu menyangkut visi dan cita-cita, yang akan memandu gerak langkah kita semua.

Ke mana Indonesia akan bergerak dalam 20 tahun ke depan?

Apakah Indonesia Emas 2045 akan benar-benar terwujud?

Dan jembatan emas mana yang harus diseberangi untuk mencapainya?

Mari perlahan kita buka ruang dialog antar dan lintas generasi, untuk mendekatkan frekuensi. Agar pikiran-pikiran segenap anak bangsa dapat dipertengkarkan, demi merumuskan visi dan arah perubahan. Sisanya tinggal kita kawal bersama: proses dan transisinya.

Insya Allah, semesta tidak akan tinggal diam merespons dialektika perubahan yang tengah berlangsung di Bumi Nusantara.

Aamiin YRA…

–JAS MERAH, Merdeka!!!


Penulis: Hermawansyah Alumni GMNI.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Minggu, 12 April 2026 | 13:37 WIB
Foto: Benediktus Aquino, Alumni GMNI DKI Jakarta (Dokpri)/MARHAENIST.
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Sabtu, 11 April 2026 | 22:02 WIB
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Sabtu, 11 April 2026 | 19:21 WIB
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 18:07 WIB
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 12:16 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Endus dugaan Terima Suap dalam Perekrutan Pandis, GMNI Minta Ketua Bawaslu Mimika Segera Diganti

Marhaenist.id, Mimika – Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Mimika, Frans Wetipo, diduga…

DPC GMNI Batam Gelar Kelas Ideologi dan Buka Bersama, Tegaskan Peran Perempuan dalam Barisan Marhaenisme

Marhaenist.id, Batam – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Persatuan Alumni GMNI dan GMNI Bukan ‘Sayap’ Partai Politik

Marhaenist - Seperti diketahui GmnI terlahir pada tanggal 23 Maret 1954 di…

DPC GMNI Kendari Desak Pemprov Sultra Hentikan Pembangunan Kopdes Merah Putih di Desa Polindu yang Berdiri Diatas Tanah Warga

Marhaenist.id, Kendari – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota…

Pemilu 2024 dan Tiktok

Marhaenis.id - Penggunaan media sosial dalam pemilu 2024 telah menjadi fakta yang…

Mendukung dan Mengawasi Program Makan Bergizi Gratis

Marhaenist.id - Program Makan Bergizi Gratis yang dimulai secara serentak pada 6…

Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin. REUTERS

Indonesia Berharap Kehadiran Xi Jinping di KTT G20

Marhaenist - Indonesia selaku tuan rumah KTT G-20 kembali menyampaikan harapannya agar…

Didukung Alumni GMNI, Ganjar Tegaskan Siap Bergerak Bersama Rakyat

Marhaenist.id, Jakarta - Ikatan keluarga besar alumni dan aktivis yang tergabung dalam…

Bertemu Ganjar di Kota Ambon, Aktivis Gemini Club Merasa Seperti Bertemu Saudara Kandung yang Terpisah

Marhaenist.id, Ambon - Kedatangan Ganjar Pranowo dalam Kampanye terbukanya di lapangan Merdeka…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?