By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Selamat Datang di “AI New Normal”
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Menag Adakan Natal Bersama: Simbol Kecil, Dampak Besar — Asal Jangan Sekadar Panggung Saja

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Minggu, 14 Desember 2025 | 23:27 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Abdullah Said Ketua DPK GMNI Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia Jakarta bersama Rekan (Dokpri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Ketika Kementerian Agama menetapkan tema “C-LIGHT: Christmas — Love in God, Harmony Together”, itu bukan sekadar permainan kata yang enak dipajang di poster acara. Tema ini menaruh kasih (love) sebagai fondasi dan harmoni (harmony) sebagai tujuan bersama—dua hal yang justru paling sering hilang ketika agama dibawa ke ruang publik dengan nada saling curiga.

Fakta bahwa Kemenag menginisiasi rangkaian Natal bersama dan menghadirkan Menteri Agama di dalamnya menunjukkan upaya simbolik yang tidak bisa dipandang remeh.

Saat hadir dalam perayaan tersebut, Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa “tidak boleh ada sekat di antara sesama anak bangsa” dan menyebut keberagaman Indonesia sebagai “lukisan Tuhan yang sangat indah.” Kalimat ini penting, bukan karena puitisnya, tetapi karena ia datang dari pejabat negara yang memegang otoritas moral dan administratif dalam urusan keagamaan. Negara, setidaknya pada momen ini, memilih tampil sebagai pengelola keragaman—bukan penjaga satu tafsir.

Mengapa simbol semacam ini relevan? Karena politik identitas di Indonesia tidak selalu lahir dari kebijakan besar, tetapi sering berangkat dari isyarat-isyarat kecil: siapa hadir di mana, siapa diakui, siapa dibiarkan berdiri sendiri. Kehadiran Menag dalam perayaan Natal menurunkan legitimasi klaim bahwa ruang publik hanya milik kelompok tertentu. Ia tidak menyelesaikan semua masalah, tetapi memberi sinyal bahwa negara tidak alergi pada perbedaan.

Menariknya, sinyal negara ini hadir di tengah fenomena lain yang juga khas zaman ini: anak muda yang santai—kadang terlalu santai—dalam memperlakukan agama di media sosial. Menurut Bung Said, Penggiat Literasi Lintas Agama “Candaan nyeleneh, meme lintas iman, plesetan ayat, hingga humor gelap bertema surga-neraka berseliweran tiap hari di lini masa.

Baca Juga:   Pilkada Mau Ditarik, Rakyat Mau Diparkir

Sebagian melihatnya sebagai kreativitas, sebagian lain menganggapnya banal atau bahkan ofensif. Namun satu hal jelas: generasi muda sedang mencari cara baru berelasi dengan agama—lebih cair, lebih personal, dan sering kali tanpa rasa takut berlebihan”, tungkasnya.

Di titik inilah peran simbol negara menjadi penting. Ketika negara menunjukkan sikap dewasa dan tenang dalam merespons perbedaan—tidak reaktif, tidak panik, tidak menggurui—ia memberi contoh bagaimana ruang publik bisa dikelola tanpa harus tegang.

Anak muda yang bercanda soal agama bukan selalu sedang menista; sering kali mereka sedang menguji batas, mencari bahasa baru, atau sekadar ingin didengar. Negara yang inklusif justru memberi konteks agar kebebasan berekspresi tidak berubah menjadi konflik identitas.

Pijakan ideologis untuk sikap ini bukan hal baru. Soekarno pernah menegaskan bahwa nasionalisme Indonesia harus melampaui sekat primordial: “Itulah konsep nasionalisme yang didirikan Indonesia.

Bukan orang Jawa, bukan orang Sumatera… tapi orang Indonesia.” Nasionalisme semacam ini tidak alergi pada perbedaan ekspresi—selama tujuan akhirnya tetap kebersamaan. Kehadiran Menag di Natal bersama adalah contoh kecil bagaimana negara bisa menghidupkan kembali semangat itu dalam praktik.

Secara moral, pemikiran Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memberi dasar yang lebih dalam: “Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya.” Etika ini relevan bukan hanya untuk relasi antar-umat beragama, tetapi juga untuk membaca fenomena anak muda hari ini. Menghormati manusia berarti memahami konteks zamannya, termasuk cara mereka bercanda, berpendapat, dan merayakan identitas—tanpa langsung menghakimi atau membungkam.

Tentu, kritik tetap perlu dijaga. Simbol tanpa kebijakan hanya akan menjadi dekorasi. Tema C-LIGHT tidak boleh berhenti sebagai panggung perayaan, sementara di lapangan masih ada diskriminasi, pembatasan rumah ibadah, atau kriminalisasi ekspresi.

Baca Juga:   Ibu Pertiwi Dilanda Musibah

Jika negara ingin serius, maka langkah berikutnya harus konkret: pendidikan pluralisme yang relevan dengan budaya digital, kebijakan perlindungan minoritas yang tegas, dan ruang dialog yang tidak hanya formal, tetapi juga akrab dengan bahasa anak muda.

Penutupnya sederhana namun tegas. Kehadiran Menteri Agama dalam perayaan Natal Kemenag dengan tema “C-LIGHT: Christmas — Love in God, Harmony Together” adalah langkah yang patut diapresiasi. Ia memberi sinyal bahwa negara bisa hadir tanpa menggurui, bisa merangkul tanpa kehilangan wibawa.

Di tengah generasi muda yang makin santai—bahkan kadang nyeleneh—dalam membicarakan agama, sikap negara yang dewasa justru menjadi penyeimbang. Tinggal satu pertanyaan tersisa: apakah cahaya itu akan dijaga tetap menyala, atau padam begitu panggung dibongkar?***


Penulis: Abdullah Said Ketua DPK GMNI Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia Jakarta.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
Minggu, 22 Februari 2026 | 21:23 WIB
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:25 WIB
Selamat Datang di “AI New Normal”
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:06 WIB
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Sabtu, 21 Februari 2026 | 22:13 WIB
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!
Sabtu, 21 Februari 2026 | 11:25 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Ganjar-Mahfud Prioritaskan Kesejahteraan Untuk Keluarga TNI-Polri

Marhaenist.id, Jakarta - Untuk mendukung dan menciptakan sistem pertahanan dan keamanan yang solid, unsur…

Penuntun Kaum Buruh, Semaoen 1920

MARHAENIST - Dengan ini saya mengaturkan cerita hal serikat buruh pada saudara-saudara…

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI

Marhaenist.id – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) adalah salah satu organisasi mahasiswa…

Foto: Warga Kebun Sayur Geruduk Polda Metro Jaya Untuk Bebaskan Pak Juned dan Pak Jumadi Tanpah Syarat/MARHAENIST

Polda Metro Jaya Jakarta Didatangi Warga Kebun Sayur, Tuntut Pembebasan Pak Juned dan Pak Jumadi Tanpa Syarat

Marhaenist.id, Jakarta - Warga Kebon Sayur bersama Aliansi Perjuangan Warga Kebon Sayur…

Foto: GMNI Jaksel saat Melaporkan Dugaan Skandal Korupsi PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk/MARHAENIST

GMNI Jaksel Tuntut Polri Usut Tuntas Skandal Mobil Mewah 5 Direksi PT ATPI

Marhaenist.id, Jakarta - Bobrok pengelolaan BUMN kembali terbongkar! Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Dukung Langkah Kongres Persatuan, GMNI Mamasa Serukan Rekonsiliasi Internal dan Nasional 

Marhaenist.id, Mamasa - Gerakan mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) akan segera mengelar Kongres…

Dipecat Akibat Asusila, Ketua KPU Justru Senang dan Riang Gembira

Marhaenist.id, Jakarta - Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI Hasyim Asy’ari berterima kasih…

Tur “Jejak Langkah Bung Hatta” sebagai Usaha Memperkuat Sejarah, Patriotisme, dan Integritas Anak Muda

Marhaenist.id, Jakarta - Tur Jejak Langkah Bung Hatta berbentuk kegiatan pameran, talkshow dan peresmian…

Pernyataan Sikap GMNI Se-Indonesia: Sukseskan Konsolidasi KLB GMNI, Kongres di Bandung bukanlah Solusi Persatuan!

Marhaenist.id - Menyimak dinamika organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) akhir-akhir ini…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?