Marhaenist.id – Belakangan ini panggung komedian menjadi sorotan publik yang dinilai telah kehilangn etika bahkan Krisis ide serta minimnya pengetahuan tentang Kebudayaan. Salah satu Tokoh Komedian Pandji Pragiwaksono yang belakangan ini tampil di salah satu panggung Komedian yang dimana telah di soroti salah satu akun Instagram @Info Toraja, terlihat Pandji yang dengan gaya santai dan mentalnya telah menjadikan Budaya toraja ke rana lelucon.
Sangat miris disini terlihat jelas persoalan kebudayaan telah direduksi, kebudayaan pada suatu daerah yang semestinya perlu di apresiasi sesuai dengan versi adat dan budaya masing-masing Suku justru malah dijadikan sebagai Objek Komedian. Maka disini muncul pertanyaan tajam Sudah sejauh mana pandji Pragiwaksono paham atas seluk-beluk adat dan Budaya Suku Toraja? Ataukah mungkin panggung Komedian sudah Krisis Etika dan ide kecemerlangannya sampai persoalan budaya sudah dijadikan sebagai hal leluconan?.
Tawa seharusnya menjadi ruang bersama tempat kita merayakan hidup, menertawakan absurditas dunia, dan menemukan sisi kemanusiaan di tengah perbedaan. Namun, tawa juga dapat menjelma menjadi alat kekerasan ketika lahir dari ketidaksadaran dan ketiadaan empati. Hal ini tampak jelas dalam lelucon komedian Pandji Pragiwaksono yang menjadikan ritual kematian masyarakat Toraja sebagai bahan lawakan.
Bagi sebagian orang, candaan itu mungkin dianggap ringan dan tidak berbahaya. Namun bagi masyarakat Toraja, ia terasa seperti luka lama yang kembali dibuka. Mereka kembali diingatkan pada kenyataan bahwa budaya mereka seringkali diposisikan sebagai sesuatu yang eksotis, aneh, dan layak ditertawakan oleh mereka yang berasal dari pusat kebudayaan.
Komedi bukan sekadar hiburan; ia adalah bentuk komunikasi yang memuat relasi kuasa. Di tangan yang bijak, humor dapat menjadi sarana kritik sosial yang mencerahkan. Namun, di tangan yang abai, komedi justru menjadi alat dominasi simbolik menegaskan hierarki antara “yang menertawakan” dan “yang ditertawakan”.
Dalam konteks lelucon Pandji, terlihat adanya bias kultural yang mengakar dalam cara sebagian komedian Indonesia memahami humor. Ketika seorang figur publik dari pusat kebudayaan bercanda tentang komunitas di daerah, yang terjadi bukan sekadar guyonan, melainkan reproduksi ketimpangan sosial dan budaya.
Sosiolog Pierre Bourdieu menyebut fenomena semacam ini sebagai kekerasan simbolik bentuk penindasan yang tak kasat mata, tetapi menyakitkan. Melalui tawa, stereotip dan ketimpangan direproduksi, saya merasa perlu menegaskan bahwa candaan yang melecehkan budaya dan membawa unsur tradisi tanpa izin adalah tindakan yang merugikan dan menimbulkan luka kolektif.
Budaya yang Diambil tanpa Izin
Masalah utama dari tindakan Pandji bukan hanya soal lelucon yang menyinggung, tetapi juga soal pengambilan budaya tanpa izin. Dalam etika kebudayaan, tindakan semacam ini disebut sebagai apropriasi budaya yakni penggunaan elemen budaya lain oleh pihak luar tanpa persetujuan, tanpa pemahaman, dan sering kali tanpa rasa hormat.
Ini adalah cerminan ketimpangan struktural dan dominasi simbolik yang selama ini terjadi antara pusat budaya dan daerah. Budaya Toraja yang diangkat ke panggung publik tanpa persetujuan komunitasnya menjadi konsumsi hiburan massal, sementara mereka kehilangan kontrol atas identitas dan tradisinya sendiri. Di sinilah luka kolektif muncul—bukan hanya sebagai rasa sakit emosional, tetapi juga sebagai simbol ketidakadilan sosial dan budaya.
Ketika Pandji membicarakan ritual kematian Toraja di atas panggung, ia membawa keluar unsur sakral dari konteksnya dan mengubahnya menjadi konsumsi publik. Ia tidak mewakili Toraja, tidak meminta izin, dan tidak berusaha memahami makna di balik tradisi yang ia jadikan bahan komedi. Dalam kerangka ini, ia bukan hanya menertawakan, tetapi juga mengambil alih otoritas naratif atas budaya yang bukan miliknya.
Tindakan semacam ini sering kali luput dari kesadaran masyarakat urban. Namun bagi komunitas yang budayanya dijadikan bahan lelucon, tindakan itu terasa seperti perampasan simbolik bentuk penjajahan baru yang terjadi bukan melalui senjata, melainkan melalui tawa.
Budaya Bukan Bahan Lelucon
Bagi masyarakat Toraja, ritual kematian bukan sekadar upacara, melainkan bagian dari filsafat hidup yang menjunjung penghormatan terhadap leluhur dan hubungan spiritual antar-generasi. Setiap tahapannya memiliki makna mendalam yang tidak bisa disederhanakan menjadi bahan komedi. Menjadikan ritual tersebut sebagai lelucon berarti menertawakan cara hidup dan kepercayaan sebuah komunitas. Hal ini mencerminkan kegagalan sebagian pelaku komedian hiburan dalam memahami tanggung jawab etis di balik kebebasan berekspresi. Dalam panggung komediannya sangat terlihat jelas Pandji Pragiwaksono telah menyampaikan hal yang begitu Kurang Etis dan tidak sesuai dengan fakta yang ada :
“Di Toraja kalau ada anggota keluarga yang meninggal itu pake pesta yang mahal bangat, bahkan banyak orang Toraja yang jatuh Miskin habis bikin pesta untuk pemakaman keluarganya, dan banyak yang tidak punya duit untuk pemakaman akhirnya Jenazahnya ditaro aja di ruanagan tamu di depan TV, bagi keluarganya itu biasa-biasa ajah, seolah-olah nonton teletubies secara Horor, twingki-wingkinya nakutin. (Pandji Pragiwaksono)”
Dalam kelas Sosial Suku Toraja, apabilah ada salah satu anggota Keluarga yang telah memenuhi panggilan Rohaninya atau telah dipanggil oleh Sang Pencipta dalam Hal ini tela Meninggal Dunia, bagi orang yang kurang mampu tidak pernah menyimpan Jenasah Keluarga dalam waktu yang Lamah justru keluarga mereka segerah mengagendakan Ritual upacara pemakamannya, begitupun sebaliknya Keluarga yang terbilang kelas atas justru masi menyimpannya sambil menunggu kesepakatan dari pihak keluarga Lain, dan Jenasah tersebut masih dianggap orang sakit. Bukan orang Mati dan juga disimpan dalam Kamar, Bukan diruangan Tamu.
Terlihat Pandji Pragiwaksono dalam komediannya telah memutar balikkan dari kebenaran itu, seorang yang gagal paham atas Realitas kehidupan masyarakat toraja pada umumnya, dan dengan entengnya berbicara asal-asalan. Komedi yang sehat semestinya “menertawakan ke atas” mengkritik kekuasaan, privilese, dan struktur sosial yang timpang—bukan “menertawakan ke bawah”, yakni menertawakan kelompok yang sudah lama termarjinalkan.
Luka Kolektif dan Krisis Etika Komedi
Respons keras masyarakat Toraja terhadap Pandji bukanlah luapan emosional semata, melainkan bentuk ekspresi dari luka kolektif. Luka ini telah terbentuk dari pengalaman panjang: dari pengabaian negara terhadap kebudayaan daerah, hingga cara media nasional sering kali memosisikan budaya non-Jawa sebagai “yang lain”.
Peristiwa ini memperlihatkan adanya krisis etika dalam dunia komedi Indonesia. Kebebasan berpendapat sering disalahartikan sebagai hak untuk menertawakan apa pun, tanpa mempertimbangkan dampak sosialnya. Padahal, kebebasan sejati justru lahir dari kesadaran akan batas moral dan tanggung jawab terhadap sesama.
Perlu diperingatkan para pelaku hiburan, khususnya komedian dengan jangkauan publik luas seperti Pandji Pragiwaksono, untuk belajar menghargai dan meminta izin ketika menggunakan unsur budaya tertentu. Selain itu, juga mengingatkan publik untuk kritis dalam mengonsumsi konten hiburan. Humor yang tidak beradab, yang merampas martabat budaya dan menimbulkan luka sosial, tidak layak diterima sebagai hiburan yang arahnya menjadi pelecehan atas budaya.
Komedi yang beradab seharusnya tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga peka secara emosional. Tawa yang baik bukanlah tawa yang menjatuhkan, melainkan yang mengundang refleksi. Kasus Pandji seharusnya menjadi momentum refleksi bagi dunia komedi Indonesia. Para komedian perlu memahami bahwa empati bukanlah musuh kreativitas. Justru dari empatilah humor yang mencerahkan dan membebaskan bisa lahir.
Sudah saatnya dunia komedi berhenti menertawakan yang berbeda, dan mulai menertawakan diri sendiri keangkuhan, bias, dan kebutaan budaya yang masih melekat dalam masyarakat kita. Hanya dengan cara itu, komedi dapat kembali menjalankan fungsinya yang paling luhur: menyembuhkan, bukan melukai; memanusiakan, bukan merendahkan. ***
Penulis: Hendra sulo, Sekertaris Bid. Polhukam DPC GMNI Kota Sorong.