By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
DPP GMNI Desak DPR RI Segera Sahkan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga
Geopolitik Pangan: Entok, Limbah Pangan, dan Masa Depan Kedaulatan Pangan Nusantara
Hadiri Kaderisasi GMNI, Bawaslu Kota Bekasi Ajak Mahasiswa Cermat Menyaring Informasi di Tengah Maraknya Hoaks
Di Forum MKRI–MK Mesir, Prof. Arief Hidayat Angkat Marhaenisme sebagai Etika Konstitusi
DPD GMNI DKI Jakarta Gelar Konferensi Daerah Pertama, Usung Tema Transformasi Jakarta Menuju Kota Global

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar GMNI

Intania Putri Mardiyani: Dilema Perempuan Modern

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Selasa, 18 Maret 2025 | 13:09 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Intania Putri Mardiyani, Kabid Kesarinahan DPC GMNI Jakarta Timur/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id, Jakarta – Dilema perempuan modern masih menjadi perdebatan yang cukup hangat dan panjang. Meskipun perempuan telah bekerja keras di berbagai sektor, kenyataan menunjukkan bahwa mereka masih menghadapi banyak ketidakadilan.

Mulai dari upah yang lebih rendah, beban kerja ganda, hingga diskriminasi gender di tempat kerja maupun ruang publik.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Bidang Kesarinahan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Timur, Intania Putri Mardiyani dalam diskusi yang membahas peran dan tantangan perempuan diera modern.

Menurut Intania Putri Mardiyani, sistem sosial dan ekonomi yang ada masih belum sepenuhnya berpihak kepada perempuan.

“Perempuan sering kali harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan pengakuan yang sama dengan laki-laki. Di satu sisi mereka dituntut profesional dalam pekerjaan, tapi di sisi lain masih terbebani dengan peran domestik yang dianggap sebagai tanggung jawab utama mereka,” ujarnya, Selasa (18/3/2025).

Selain itu, Intania Putri Mardiyani juga menyoroti bagaimana bias gender masih menjadi hambatan utama bagi perempuan dalam mengembangkan karier.

“Di dunia kerja, masih banyak perempuan yang mengalami diskriminasi, baik dalam bentuk upah yang tidak setara, minimnya kesempatan promosi, hingga pelecehan di lingkungan kerja. Ini adalah kenyataan yang harus kita ubah,” tambahnya.

Sarinah menegaskan bahwa perjuangan perempuan bukan hanya tentang bertahan di sistem yang ada, tetapi juga memperjuangkan perubahan yang lebih adil.

“Kesetaraan gender bukan sekadar wacana, tetapi harus diwujudkan dalam kebijakan konkret. Pemerintah, perusahaan, dan masyarakat harus bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih inklusif bagi perempuan,” katanya.

Ia juga mendorong perempuan untuk lebih berani menyuarakan hak-haknya dan tidak takut melawan ketidakadilan.

“Sudah saatnya kita mengubah narasi bahwa perempuan harus selalu berjuang sendirian. Perubahan harus melibatkan semua pihak agar kesetaraan bisa benar-benar terwujud,” ungkapnya.

Baca Juga:   Gelar Aksi di Gedung KPK, GMNI Jakarta Raya Minta Usut Tuntas Dugaan Korupsi Joko Widodo dan Keluarganya

Hentikan Objektifikasi! Perempuan Bukan Sekadar Fisik!

Intania Putri Mardiyani juga menegaskan perempuan harus dilihat lebih dari sekadar penampilan fisik.

Ia menyoroti bagaimana standar kecantikan yang sempit terus menekan perempuan untuk memenuhi ekspektasi yang tidak realistis.

“Kita hidup di masyarakat yang sering kali lebih memperhatikan bagaimana perempuan terlihat daripada apa yang mereka pikirkan atau kontribusikan. Padahal, tubuh perempuan bukan objek, melainkan ruang eksistensi dan kebebasan bagi dirinya sendiri,” jelasnya.

Menurutnya, obsesi terhadap bentuk tubuh, warna kulit, atau standar kecantikan tertentu hanya mempersempit ruang gerak perempuan dalam mengekspresikan diri.

Industri kecantikan dan media sering kali membentuk persepsi bahwa nilai seorang perempuan terletak pada penampilannya, bukan pada gagasan atau karya yang mereka hasilkan.

“Kita harus mulai menggeser perspektif ini. Inklusivitas sejati bukan sekadar menerima keberagaman fisik perempuan, tetapi juga menghargai pemikiran, intelektualitas, dan peran mereka dalam masyarakat,” tegasnya.

Lebih lanjut, Intania Putri Mardiyani menegaskan bahwa perempuan tidak boleh terus-menerus terjebak dalam tekanan sosial yang membatasi potensi mereka.

“Saatnya perempuan membebaskan diri dari ekspektasi yang tidak adil dan mulai menuntut pengakuan atas kapasitas mereka sebagai individu yang berdaya dan berkontribusi bagi dunia,” tandasnya.***

Penulis: Reirisky (PilarParlemen.id)/Editor: Bung Wadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

DPP GMNI Desak DPR RI Segera Sahkan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga
Senin, 26 Januari 2026 | 23:10 WIB
Geopolitik Pangan: Entok, Limbah Pangan, dan Masa Depan Kedaulatan Pangan Nusantara
Senin, 26 Januari 2026 | 22:59 WIB
Hadiri Kaderisasi GMNI, Bawaslu Kota Bekasi Ajak Mahasiswa Cermat Menyaring Informasi di Tengah Maraknya Hoaks
Senin, 26 Januari 2026 | 03:18 WIB
Di Forum MKRI–MK Mesir, Prof. Arief Hidayat Angkat Marhaenisme sebagai Etika Konstitusi
Minggu, 25 Januari 2026 | 19:29 WIB
DPD GMNI DKI Jakarta Gelar Konferensi Daerah Pertama, Usung Tema Transformasi Jakarta Menuju Kota Global
Minggu, 25 Januari 2026 | 18:18 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Ideologi Marhaenisme di Era Neo-Orba: Masihkah Relevan dalam Membela Kaum Marhaen?

Marhaenist.id - Indonesia telah mengalami perubahan besar dalam sistem politik dan ekonomi…

Ahmad Yandi Khadafi: Hakim Tak Boleh Jadi Alat Kekuasaan: Wujudkan Asas Keadilan, Bebaskan Hasto!

Tangerang, Marhaenist.id - Proses hukum terhadap Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, kini…

Sambut Natal dan Tahun Baru, Ketua GMNI Halut Ajak Masyarakat Rawat Kebhinekaan dan Kedamaian

Marhaenist.id, Halmahera Utara — Menyambut Hari Natal 25 Desember 2025 dan Tahun…

Komitmen Berantas Premanisme, Ketua Pemuda Demokrat Surabaya: Parkir Liar Rugikan Masyarakat dan PAD

Marhaenist.id, Surabaya – Viral kasus dugaan tindak kekerasan yang dilakukan oleh juru…

Amerika Serikat Bakal Jadi Raksasa Crypto? Sementara El Salvador Sukses, Indonesia Masih Terjebak di Bursa Saja!

Marhaenist.id - Dalam beberapa tahun terakhir, dunia kripto telah mengalami revolusi yang…

Pemerintah Harus Siapkan Jaminan Sosial Menyeluruh Bagi Masyarakat Miskin Ekstrem

Marhaenist - Dewan Pengurus Pusat Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA…

Komandante ‘Pacul’ Saat Ziarahi Makam Bung Karno

Marhaenist.id, Blitar - Ketua DPD Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Indonesia (GMNI) Jawa…

Aksi Mahasiswa dibubarkan oleh Preman Bayaran di Mahkamah Konstitusi/Marhaenist.id.

Kronologi Preman Bayaran Membubarkan Paksa Aksi Mahasiswa di Mahkamah Konstitusi

Marhaenist.id, Jakarta – Gerakan Mahasiswa yang mewakili berbagai kampus di jakarta melakukan…

Satu Oktober: Nyawa Lenyap, Tragedi Kanjuruhan, dan Pelanggaran HAM

Penulis: Aryasatya Krishdiansyah (Wakabid Sosial Politik GMNI UINSA Gunung Anyar).   Marhaenist.id…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?