By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
GMNI Riau Tegaskan Polri di Bawah Presiden Merupakan Amanat Konstitusi
Digadang akan Menggantikan Prof. Arief, Ini Deretan Kontroversi Adies Kadir!
Gelar Peluncuran dan Bedah Buku Prof. Arief Hidayat, Tandai 13 Tahun Pengabdian sebagai Hakim Konstitusi
GMNI Nilai Pencabutan 28 Izin Perusahaan Harus Jadi Awal Reformasi Kehutanan
Pengakuan Bung Karno Soal Pergumulan Batin: Dari ‘Islam Raba-raba’ menjadi ‘Islam yang Yakin’

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Digadang akan Menggantikan Prof. Arief, Ini Deretan Kontroversi Adies Kadir!

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Selasa, 27 Januari 2026 | 20:55 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Gambar Karikatur Prof. Arief dan Adies Kadir (Sumber: AI)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Wacana pergantian Prof. Arief Hidayat dengan nama Adies Kadir bukan sekadar isu personal atau rotasi jabatan biasa. Ia adalah pertarungan arah kekuasaan: apakah institusi strategis negara akan tetap dijaga oleh integritas dan nalar konstitusional, atau justru direduksi menjadi bagian dari transaksi politik elite.

Nama Adies Kadir yang kini digadang-gadang muncul untuk menjadi salah satu hakim MK, justru menghadirkan tanda tanya besar bukan harapan. Di balik manuver politik yang ada dan akumulasi jabatan yang ia miliki, rekam jejak Adies Kadir tak lepas dari sejumlah kontroversi yang patut dicermati secara kritis.

Politik Tanpa Gagasan, Kekuasaan Tanpa Visi

Adies Kadir adalah produk paling telanjang dari politik akumulatif: politik yang tumbuh bukan dari gagasan, keberanian moral, atau keberpihakan ideologis, melainkan dari keluwesan membaca arah angin kekuasaan.

Kariernya menanjak seiring kedekatannya dengan pusat-pusat elite, bukan karena rekam jejak intelektual atau perjuangan membela kepentingan rakyat.

Model politik semacam ini berbahaya bila ditempatkan di posisi strategis negara. Ia melahirkan pejabat yang piawai menjaga stabilitas elite, tetapi gagap ketika harus membela konstitusi dan keadilan sosial.

Jejak DPR dan Legislasi Bermasalah

Tak bisa dipungkiri, nama Adies Kadir melekat erat dengan wajah DPR yang hari ini banyak kehilangan legitimasi publik. Lembaga yang semestinya menjadi rumah rakyat justru dikenal sebagai pabrik undang-undang bermasalah minim partisipasi, terburu-buru, dan sarat kepentingan oligarki.

Diam atau ikut mengamini proses legislasi semacam itu bukan sikap netral. Itu adalah bentuk keberpihakan. Dan keberpihakan tersebut jelas bukan pada rakyat kecil, buruh, petani, dan kaum marhaen, melainkan pada kepentingan modal dan elite politik.

Dalam konteks ini pula, publik mempertanyakan sejauh mana Adies Kadir-sebagai bagian dari pimpinan dan elite parlemen-memiliki keberanian moral untuk berdiri di sisi rakyat, bukan sekadar menjadi perpanjangan tangan kompromi politik kekuasaan.

Baca Juga:   Krisis Penyerapan Susu Lokal Menuai Aksi Simbolis Mandi Susu di Boyolali

Krisis Etika dan Keteladanan

Lebih dari sekadar soal kebijakan, problem utama Adies Kadir adalah krisis etika politik. Di tengah kemiskinan struktural, ketimpangan agraria, dan kriminalisasi rakyat kecil, figur-figur elite justru tampil dengan bahasa kekuasaan yang dingin, elitis, dan jauh dari empati sosial.

Bagaimana mungkin publik mempercayakan posisi strategis negara kepada sosok yang tak menunjukkan kepekaan terhadap penderitaan rakyat? Jabatan tinggi bukan sekadar soal kemampuan administratif, tetapi soal keteladanan moral.

Mengganti Prof. Arief: Sebuah Kemunduran?

Prof. Arief Hidayat dikenal sebagai figur yang jujur dengan basis intelektual, tradisi akademik, dan kesadaran konstitusional. Menggantinya dengan figur yang lebih dikenal karena manuver politik ketimbang pemikiran kenegaraan adalah langkah mundur bagi demokrasi.

Ini bukan soal personal Adies Kadir. Ini soal standar kepemimpinan nasional. Jika standar itu diturunkan demi kompromi elite, maka yang dikorbankan adalah masa depan konstitusi dan kepercayaan publik.

Negara Bukan Ladang Bagi Politisi Pragmatis

Negara bukan ladang karier. Konstitusi bukan alat tawar-menawar. Dan jabatan strategis bukan kompensasi atas loyalitas politik. Jika wacana penggantian ini dipaksakan, publik berhak mencurigai satu hal: institusi negara sedang ditarik semakin jauh ke dalam pelukan oligarki.

Sejarah mencatat, kehancuran bangsa tidak selalu dimulai dari kudeta atau konflik terbuka. Ia sering lahir dari keputusan-keputusan “biasa” yang menormalisasi mediokritas dan menghalalkan pragmatisme.

Saatnya Publik Bersikap

Wacana Adies Kadir menggantikan Prof. Arief harus dihentikan atau setidaknya diuji secara terbuka dan keras. Bukan lewat bisik-bisik elite, tetapi melalui pengadilan opini publik.

Demokrasi akan mati bukan karena kurangnya pemilu, melainkan karena rakyat dibiarkan diam ketika standar moral kekuasaan diruntuhkan. Jika jabatan strategis terus diisi oleh politisi tanpa visi ideologis dan keberanian etis, maka negara ini pelan-pelan kehilangan arah dan kehilangan jiwanya.***

Baca Juga:   Kerawanan Perpres 75/2024 tentang Percepatan Pembangunan IKN

Penulis: La Ode Mustawwadhaar, Redaksi Marhaenist.id.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

GMNI Riau Tegaskan Polri di Bawah Presiden Merupakan Amanat Konstitusi
Selasa, 27 Januari 2026 | 22:05 WIB
Gelar Peluncuran dan Bedah Buku Prof. Arief Hidayat, Tandai 13 Tahun Pengabdian sebagai Hakim Konstitusi
Selasa, 27 Januari 2026 | 20:31 WIB
GMNI Nilai Pencabutan 28 Izin Perusahaan Harus Jadi Awal Reformasi Kehutanan
Selasa, 27 Januari 2026 | 20:07 WIB
Pengakuan Bung Karno Soal Pergumulan Batin: Dari ‘Islam Raba-raba’ menjadi ‘Islam yang Yakin’
Selasa, 27 Januari 2026 | 19:11 WIB
Dr. H. Sutrisno: Pengawasan Persaingan Digital Adalah Kewajiban Konstitusional
Selasa, 27 Januari 2026 | 14:46 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Mahasiswa Cipayung Plus Kota Medan temui Ganjar Pranowo diskusikan energi baru terbarukan. MARHAENIST

Temui Ganjar, Mahasiswa Cipayung Plus Diskusikan Energi Baru Terbarukan

Marhaenist - Sejumlah organisasi mahasiswa yang tergabung Kelompok Cipayung Plus Kota Medan…

Gelar Kunjungan Kasih, GMNI Nias Selatan Berbagi di Panti Asuhan Mercy Indonesia

Marhaenist.id, Nisel - Dewan Pengurus Komisariat (DPK), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Jeritan Sunyi Dalam Bayangan Hantu Pelecehan Seksual Terhadap Anak

Marhaenist.id - Pelecehan terhadap anak-anak merupakan pembunuhan karakter manusia sejak dini, yang…

Pleno Timsel Calon Anggota Bawaslu Banten Tetapkan Fahmi Sebagai Ketua

Marhaenist - Pleno Tim Seleksi (timsel) calon anggota Bawaslu Provinsi Banten menetapkan…

Mungkin Lebih Baik GMNI Dibubarkan Saja!

Marhaenist.id - Sebagai mantan aktifis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia ( GMNI ),…

Saatnya Alumni GMNI Perkuat Narasi Persatuan di Medsos

Marhaenist - Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) diminta untuk memperbanyak narasi…

Kenaikan BBM, GMNI dan Cipayung Plus Seruduk Kantor DPRD dan Walikota Malang

Marhaenist - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Malang,…

Presiden Joko Widodo menyalami Shin Tae Yong usai menyaksikan pertandingan tim nasional sepak bola Indonesia melawan Australia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, pada Selasa malam, 10 September 2024. BPMI Setpres/Vico

Saat-Saat Jokowi Ditenggelamkan Oleh Mulyono di GBK

MARHAENIST - Bergema usai pertandingan Timnas Indonesia vs Australia di stadion GBK…

Songsong Pilkada Serentak 2024, DPC GMNI Kendal Adakan Seminar Kebangsaan

Marhaenist – Sebagai mahasiswa yang peduli terhadap demokrasi Indonesia, DPC GMNI Kendal…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?