By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Selamat Datang di “AI New Normal”
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Sukarnoisme

Berjuang Tak Selalu Harus Dengan Moncong Senjata

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Rabu, 19 November 2025 | 00:44 WIB
Bagikan
Waktu Baca 2 Menit
Foto: Bung Karno (Ilustrasi foto by FILE)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Perjuangan tidak tunggal. Bung Karno memilih jalur politik karena yakin kemerdekaan sejati lahir dari kesadaran kolektif, bukan semata letusan senjata.

Sejak usia 14 tahun, ia telah bergiat mengikuti Tjokroaminoto, yang tak pula menempuh jalan bersenjata. Kaum pergerakan meyakini kekuatan ide, organisasi & massa bisa lebih tajam dari peluru. Dan faktanya mampu mengguncang imperium Belanda.

Sementara sebagian tokoh militer yang mengangkat senjata pernah tergabung dalam KNIL. KNIL tidak melawan pemerintah kolonial karena sumpah setia. Mereka baru berbalik arah pasca proklamasi, saat bergabung ke BKR/TKR yang menjadi TNI. Jadi perang fisik mereka hadir setelah negara berdiri.

Perlawanan terhadap Belanda pra proklamasi datang dari laskar rakyat & kelompok non militer.

Jepang membentuk PETA pada 1943. Beberapa eks-KNIL bergabung, seperti AH Nasution, A. Yani & Soeharto. Pemberontakan terhadap Jepang terjadi Februari 1945, dipimpin Supriadi, tapi gagal.

Perlawanan secara massal & serentak baru dimulai setelah proklamasi, termasuk oleh eks KNIL & eks PETA. Tujuannya “mempertahankan” kemerdekaan, melawan Belanda yang ingin kembali.

Pada 18 Agustus 1945, negara berdiri secara hukum: konstitusi, presiden, wapres & struktur awal pemerintahan ditetapkan pendiri negara. Tugas sipil dimulai.

Presiden melantik Soedirman (eks PETA) menjadi Panglima TKR akhir 1945 & menjadi Panglima TNI Juni 1947. Ia memimpin gerilya pada Desember 1948-Juli 1949, untuk mempertahankan kemerdekaan.

Dalam struktur negara, sipil & militer punya job desk berbeda & saling melengkapi. Strategi makro adalah domain sipil, sedangkan medan perang adalah panggung militer. Menuntut pemimpin sipil turun angkat senjata bak menyuruh nahkoda ikut mendayung.

Status Presiden RI tetap sah secara hukum saat AMB II, karena ia tak melarikan diri meninggalkan kedudukan di masa krisis. Keputusan ini mempertahankan legitimasi & otoritas pemerintahan, serta memicu reaksi dunia.

Baca Juga:   Ironi Proklamator Kemerdekaan yang Diakhir Hayatnya Malah Diperkosa Kemerdekaannya

Perjuangan bukan hanya tentang memegang senjata, tapi juga memberi arah. Tanpa proklamasi, tanpa negara & pemerintahan, apa yang hendak dipertahankan?***

Sumber: Ig thebigbung/Editor: Bung Wadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
Minggu, 22 Februari 2026 | 21:23 WIB
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:25 WIB
Selamat Datang di “AI New Normal”
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:06 WIB
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Sabtu, 21 Februari 2026 | 22:13 WIB
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!
Sabtu, 21 Februari 2026 | 11:25 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

GMNI Demo KPU dan DPR Yang Adakan Rapat Konsinyering di Malam Hari

MARHAENIST - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menggelar demonstrasi di depan Hotel…

Moment Lebaran 1446 H, Alumni GMNI UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Gelar Halal Bi Halal

Marhaenist.id, Tangsel - Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Universitas Islam Negeri…

Pertamax Kian Sulit, DPK GMNI Hukum Uniba Desak Pemkot Segera Evaluasi Pengawasan Distribusi BBM di Kota Balikpapan

Marhaenist.id, Balikpapan – Dalam beberapa waktu terakhir ini masyarakat Kota Balikpapan diperhadapkan…

GMNI Tegaskan RUU Daerah Kepulauan Merupakan Keharusan Sejarah

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Jelang Tahun Baru 2026, Redaksi Marhaenist.id Sampaikan Harapan dan Komitmen Pemberitaan untuk Marhaen Indonesia

Marhaenist.id, Kendari - Jelang pergantian tahun menuju 2026, Pemimpin Redaksi Marhaenist.id, La…

Diduga Dikeroyok, Kader GMNI di Sukabumi Tewas Mengenaskan

Marhaenist.id, Sukabumi - Seorang mahasiswa di Sukabumi, Jawa Barat (Jabar) berinisial RR…

Amerika Serikat Bakal Jadi Raksasa Crypto? Sementara El Salvador Sukses, Indonesia Masih Terjebak di Bursa Saja!

Marhaenist.id - Dalam beberapa tahun terakhir, dunia kripto telah mengalami revolusi yang…

DPD PA GMNI Jakarta Raya Dorong Realisasi Good Governance Jakarta Berkeadilan Sosial

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Jairi, salah satu kader PDIP yang tandatangannya dipakai menggugat SK Kepengurusan DPP PDIP 2024-2025. FILE/Tim Media PDIP

Hanya 300 Ribuan Aja Biaya Nipu Gugat SK Kepengurusan PDIP

MARHAENIST - Lima orang kader PDI Perjuangan (PDIP) antara lain, Jairi, Djupri,…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?