By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Lucunya Negeri Ini Bersama Jokowi Diakhir Masa Jabatannya

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Senin, 29 Januari 2024 | 15:55 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan terkejut dan sedih atas peristiwa penembakan yang menimpa mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. REUTERS
Bagikan

Marhaenist.id – Kalau dulu ada lagu yang diciptakan untuk Gayus Tambunan dengan penggalan liriknya berbunyi “lucunya di negeri ini, hukuman bisa dibeli”, sekarang ada juga lagu yang dibuat untuk menggambarkan sikon terkini. Bunyi potongan liriknya “salam tiga jari, jangan pilih anak Jokowi”.

Penggalan lagu itu diadaptasi dari bunyi lirik sebelumnya, yakni “salam dua jari, ayo kita pilih Jokowi”. Tapi sang presiden yang dipuja merakyat telah berubah karena berambisi untuk terus mendapat bagian dari kekuasaan, maka tindakan menyimpangnya harus dihindari lewat perubahan lirik lagu tadi.

Ya Jokowi berubah demi mendukung sang anak menggantikannya di istana negara. Tapi jalannya harus dipaksakam dengan maju lewat jalur pelanggaran etik, hingga merembet ke pemanfaatan jabatan tertinggi negeri ini yang diembannya. Mungkin dengan bansos, sampai terang-terangan meninggalkan netralitas yang selama ini ia koarkan.

Melihat kabar duka matinya netralitas, seperti pemprov yang memperbolehkan ASN kampanye sampai deklarasi dukungan yang tidak dinyatakan melanggar aturan oleh Bawaslu, saya turut mengkroschecknya secara langsung.

Ajakan untuk kampanye saya lontarkan kepada saudara yang sudah bertahun-tahun menjadi seorang ASN.

“Pak Jokowi sudah memperbolehkan aparat untuk kampanye. Yuk kampanye bareng aja”, ajakku dengan nada bercanda.

Tahu apa jawabannya?

“Sorry ye, sorry, gue ga ikut-ikutan presiden!”, tandasnya tanpa ragu.

Aku hanya tertawa karena berhasil menggoda sekaligus mengujinya. Syukurlah masih ada ASN yang waras di sekitar saya, tidak semua terkontaminasi virus ambisi Pak Jokowi. Saya yakin sekaligus berharap juga, semoga di luar sana masih banyak ASN yang mempertahankan netralitasnya. Dengan begitu harapan saya juga berkembang, agar mereka dapat memilih pemimpin yan tepat. Tentunya bukan 02 yang penuh konflik sedari awal. Karena fakta yang sudah nampak itu, ASN yang masih sehat, baik akal dan hati nuraninya harus menentukan pilihannya pada paslon yang jelas dipercaya.

Baca Juga:   Refleksi Akhir Tahun: Catatan Fakta dari Negeri Konoha

Entah itu dalam perjalanan karirnya yang lurus, tidak menyimpang dan rekam jejaknya yang teruji klinis selama menjalankan amanah. Dengan begitu tidak akan ada lagi yang mengganggu pikiran kita dan mempertanyakan “presiden macam apa dia, kok melonggarkan para pejabat dan jabatannya sendiri yang menjadi orang nomor satu di negara ini, demi memenangkan anaknya sendiri dengan cara haram?”

Dari satu potret ini saja, publik bisa menilai bahwa salah satu sebab tindakan Jokowi berubah karena si pelantun “sorry ye”, “Ndasmu” dan keyword kasar lainnya yang dulu dia hindari. Kenapa bisa begitu? Karena ada kepentingan yang dia bawa, makanya dia rela bergabung demi kekuasaan yang sedang diincar. Sampai ada kejadian penabrakan konstitusi dan anaknya yang ditumbalkan menjadi anak haram konstitusi. Cukup Gibran yang kamu paksa menjadi calon pemimpin pak, jangan paksa kami untuk memilih paslon cacat hukum itu!***


Penulis: Nikmatul Sugiyarto, Pemerhati Demokrasi.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Selasa, 13 Januari 2026 | 12:57 WIB
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:42 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Senin, 12 Januari 2026 | 19:19 WIB
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Senin, 12 Januari 2026 | 15:03 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika
Senin, 12 Januari 2026 | 15:02 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Menapaki Jalan Persatuan: Rekonsiliasi Menjadi Konsekuensi Logis dari Perpecahan GMNI

Marhaenist.id - Tulisan ini bagian dari refleksi bagi kita sebagai kader GMNI…

Implementasikan Tridharma, Mahasiswa UMIKA Galang Dana Kemanusiaan

Marhaenist - Himpunan Mahasiswa Teknik Industri Universitas Mitra Karya Kota Bekasi (HMTI…

Semarak Dies Natalies GMNI ke 71 Tahun, GMNI Touna Berbagi Takjil dan Berbuka Puasa bersama Pihak Kepolisian

Marhaenist.id, Touna - Dalam rangka memperingati Dies Natalis GMNI ke 71 Tahun, Gerakan…

Hadiri Aksi 1000 Lilin di Nagekeo, GMNI NTT Desak Proses Hukum Para Pelaku Penganiayaan Prada Lucky

Marhaenist.id, Nagekeo - Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPD GMNI)…

Bersikaplah Realistis dan Lihatlah ke Masa Depan, Deng Xiaoping

MARHAENIST - Sehubungan dengan pengembangan industri, perhatian utama saya adalah bagaimana bersikap…

Kapitalis dan Komunis

Marhaenist.id - Pada pandangan pertama, kapitalisme dan komunisme tampak seperti dua kutub…

DPC GMNI Binjai Soroti Dugaan Mark Up Dana Rutin di Dinas Kesehatan Kota

Marhaenist.id, Binjai - Kasus dugaan pemotongan dana rutin yang mencuat dibeberapa Organisasi…

Penangkapan Nicolas Maduro dan Intervensi di Venezuela Bukti Nyata Kebiadapan Amerika Serikat Ingin Memonopoli Dunia

Marhaenist.id - Barusan kita disuguhkan sebuah kabar yang sangat memilukan, dimana Presiden…

Hari Internasionalisasi Pancasila sebagai Spirit Pembangunan Semesta Berencana Nasional

Pandemi Covid-19, gempuran perang asimetris, menjadi ujian yang nyata bagi pertahanan dan…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?