
Marhaenist.id – Suatu hari, ada seorang anak muda yang melempar pertanyaan kritis yang bikin mikir: “Kalau yang menculik para jenderal itu tentara, dan yang dibunuh juga tentara, kenapa yang disalahkan dan dibantai habis-habisan justru orang-orang PKI?” Pertanyaan ini masuk akal.
Secara logika orang awam, kalau ada konflik di dalam tubuh militer, seharusnya itu urusan internal tentara. Mengapa jutaan anggota partai di tingkat bawah yang tidak tahu apa-apa harus ikut menanggung akibatnya sampai nyawa melayang?
Versi resmi sejarah memang menyebutkan petinggi PKI seperti DN Aidit adalah dalangnya. Namun, karena Aidit langsung dieksekusi mati tanpa sempat diadili secara terbuka di pengadilan, banyak orang akhirnya curiga bahwa ada konspirasi atau skenario besar yang disembunyikan di balik peristiwa berdarah ini.
Jika kita membedah kejadian di lapangan pada malam jahanam itu, gerakan militer ini sebenarnya dibagi menjadi tiga pasukan khusus. Ada Pasukan Pasopati yang tugasnya menjemput paksa dan membunuh para jenderal Angkatan Darat, Pasukan Bimasakti yang mencaplok kantor RRI dan telekomunikasi untuk mengontrol informasi, serta Pasukan Gatotkaca yang berjaga di Lubang Buaya.
Lucunya, operasi ini dipimpin oleh Letkol Untung, seorang komandan dari pasukan elit pengawal Presiden (Cakrabirawa). Pada dini hari 1 Oktober 1965, pasukan inilah yang membantai enam jenderal dan seorang perwira muda, sementara target utama mereka, Jenderal A.H. Nasution, justru berhasil lolos dari maut.
Di sinilah plot sejarahnya mulai terasa aneh dan bikin dahi mengernyit. Dua batalyon militer yang dipakai Letkol Untung untuk menculik para jenderal—yaitu Batalyon 454 dan 530—ternyata adalah pasukan elit Kostrad yang berada di bawah komando langsung Mayor Jenderal Soeharto.
Bukan cuma pasukannya, para tokoh kunci gerakan ini seperti Letkol Untung dan Kolonel Latief adalah mantan anak buah erat Soeharto sewaktu di Divisi Diponegoro Semarang. Bahkan, ada catatan sejarah yang menyebutkan bahwa Soeharto sebenarnya sudah tahu rencana ini, menyetujuinya, dan sengaja mendatangkan batalyon-batalyon tersebut dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, tanpa memberi tahu Letkol Untung bahwa beliau juga menyiapkan pasukan tandingan dari RPKAD.
Kejanggalan ini diperkuat oleh kesaksian para ahli sejarah barat. Sehari sebelum penculikan terjadi, Soeharto kedapatan sempat menginspeksi pasukan yang belakangan menjadi motor penggerak penculikan tersebut.
Ditambah lagi, Kolonel Latief sebenarnya sudah melapor secara pribadi kepada Soeharto pada malam sebelum kejadian tentang rencana “penculikan” para jenderal. Karena fakta-fakta inilah, banyak sejarawan yang ragu jika PKI adalah satu-satunya dalang tunggal.
Banyak yang menduga ini adalah konflik internal Angkatan Darat yang dimanfaatkan dengan cerdik. Meski demikian, dalam buku biografinya, Soeharto berkali-kali membantah keterlibatannya dan tetap bersikeras bahwa berdasarkan semua dokumen dan hasil interogasi, PKI-lah otak utama di balik gerakan pemberontakan tersebut.***
Sumber: Akun Facebook Sejarah Cirebon.