By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Dari Keseragaman Menu MBG Hingga Pertanian Monokultur dan Kesejahteraan Petani Lokal

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Selasa, 7 April 2026 | 09:32 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Gambar Ilustrasi “Dari Keseragaman Menu MBG Hingga Pertanian Monokultur dan Kesejahteraan Petani Lokal” (Desain AI)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dipelopori oleh Presiden Prabowo Subianto sejak awal kepemimpinannya telah menjadi topik pembicaraan hangat banyak kalangan dan bidang keilmuan. Hal ini terjadi lantaran masih belum terbentuknya sistem dan implementasi yang baik akan progam unggulan pemerintah pusat ini.

Berkaca dari banyaknya topik pembahasn mengenai program MBG, isu yang sering diangkat baik oleh media massa dan akademisi seringkali berkutat pada masalah mismanajemen program, output keracunan yang dialami penerima manfaat, dan ketimpangan distribusi kesejahteraan yang terjadi antara masyarakat termasuk penerima manfaat dengan pelaksanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Dari banyaknya hal yang dibahas oleh rekan-rekan media, akademisi dan sesama marhaenis, penulis merasa sangat penting untuk membahas dampak jangka panjang dari program MBG yang dirasa jarang didiskusikan, hal itu berupa dampak ke lingkungan yang juga bermuara pada kesejahteraan petani lokal.

Mengutip data dari Badan Gizi Nasional (BGN) yang dimuat oleh BBC News Indonesia, didapatkan data berupa telah dibangunnya 24.738 dapur SPPG di seluruh Indonesia per tanggal 13 Maret 2026 dengan hampir seluruh dapur melayani penerima manfaat dengan menu utama berupa nasi.

Penyeragaman menu ini dilihat oleh penulis sebagai ancaman pelan bagi eksistensi keanekaragaman karbohidrat utama di Indonesia sekaligus berujung pada kesejahteraan petani lokal di daerah yang tidak memproduksi beras.

Melihat dari aspek lingkungan, tidak adanya standar dari pemerintah pusat untuk mengatur jenis karbohidrat utama dapur SPPG ini mengancam biodiversitas lokal dengan menghadirkan peluang pembukaan lahan pertanian padi di daerah-daereah yang tidak cocok untuk ditanami padi. Hal ini kemudian akan mengundang potensi terjadinya monokulturalisasi pertanian dalam negeri.

Selain itu, angka lonjakan permintaan yang tinggi akan beras dan tuntutan untuk stabilisasi harga beras nasional mendesak banyak petani padi untuk meningkatkan rasio produksi mereka baik dengan pembukaan lahan-lahan baru yang dapat mengurangi luas dan ekosistem hutan dan/atau penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang beresiko besar untuk mencemari tanah serta sumber air.

Baca Juga:   Pasang Surut Semangat Kartini dalam Gerakan Emansipasi Perempuan era Modern

Masih dalam aspek lingkungan, melihat lebih jauh pada resiko pertanian monokultur, program MBG yang tidak diatur dengan baik untuk pelaksanaan di daerah berpotensi untuk setidaknya mengurangi jumlah tanaman pokok lain seperti sagu, jagung dan singkong secara drastis. Petani lokal akan dituntut untuk memenuhi permintaan beras yang tinggi sementara struktur tanah di daerah tertentu justru tidak cocok untuk penanaman padi.

Dengan demikian, program MBG yang tida memiliki pedoman pemanfaatan sumber pangan pokok lokal yang baik akan memaksa petani menanam jenis tanaman yang bisa saja tidak cocok untuk ditanam di tanah mereka sehingga dalam prospek jangka panjang, membuka peluang maraknya pertanian monokultur yang berpotensi merusak keanekaragaman hayati, daya serap karbon dan kualitas tanah.

Di sisi lain, kesejahteraan petani lokal kemudian menjadi dampak turunan dari program ini. Pembukaan lahan pertanian baru dapat diasumsikan sebagai hal yang baik bagi kesejahteraan petani, namun hal ini kemudian dibantah dengan beberapa data yang ada, terutama terkait pertanian didaerah. Sebagai contoh, Provinsi-provinsi di Pulau Papua memiliki bahan pangan lokal berupa sagu yang juga telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Papua.

Namun, bahkan dengan kondisi seperti itu, Pemprov Papua menargetkan perluasan sawah hingga 18.000 hektare pada tahun 2026, dan ini hanya di satu provinsi saja di Pulau Papua. Tidak berhenti di situ, dilema ini berlanjut pada keterlibatan TNI AD dalam upaya perluasan lahan pertanian, dilansir dari laman TNI AD, bahwa setidaknya TNI AD telah melakukan optimalisasi lahan dan perluasan setidaknya sebanyak 8000 hektare pada tahun 2018 saja di Provinsi Papua Barat dalam bagian proyek food estate meskipun tidak menyebut rencana pertanian monokultur.

Baca Juga:   Jangan Mereduksi GMNI Sebagai Wadah Perpanjangan Karir!

Perluasan lahan sawah padi dan keterlibatan unsur non-sipil dalam rangka pemenuhan permintaan tinggi bahan pangan pokok yang diseragamkan melalui program MBG lantas mengancam kesejahteraan masyarakat dalam prospek jangka panjang. Hal ini dapat disebabkan dengan kurangnya adaptasi petani lokal terhadap bahan pertanian baru, belum terdistribusinya teknologi pertanian penunjang, serta kurangnya perhatian pemerintah daerah maupun pusat terhadap bahan pangan pokok lokal mereka.

Hal ini belum mempertimbangkan luasnya keikutsertaan lembaga negara non-sipil seperti TNI dan Polri dalam industri pertanian di daerah yang turut mengurangi kesempatan kerja bagi petani lokal, secara efektif mendegradasi kualitas hidup mereka dengan perlahan secara jangka panjang.

Lalu, yang harus diberi perhatian khusus mengenai hal ini, contoh eksistensi sagu dengan perluasan lahan padi sebelumnya adalah sebagian kecil dari kompleksitas permasalahan pangan lokal yang diperkeruh oleh kurang matangnya perancangan progam MBG.

Pada akhirnya, pemerintah harus melakukan evaluasi mendalam terkait pelaksanaan MBG dengan menggunakan kolaborasi BGN dan Kementerian Pertanian yang diiringi keterlibatan unsur lokal dan akademisi dalam menentukan skema yang lebih baik sehingga dapat menjamin distribusi kesejahteraan dari program MBG dapat menggapai seluruh kalangan masyarakat di daerah manapun di Indonesia.***


Penulis: Muhammad Ma’rifatul Ridha, Ketua DPK GMNI FISIP Progresif UBB.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Minggu, 12 April 2026 | 13:37 WIB
Foto: Benediktus Aquino, Alumni GMNI DKI Jakarta (Dokpri)/MARHAENIST.
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Sabtu, 11 April 2026 | 22:02 WIB
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Sabtu, 11 April 2026 | 19:21 WIB
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 18:07 WIB
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 12:16 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Darurat Penegakan Hukum, GMNI Nias Selatan Soroti Lemahnya Aparat Penegakan Hukum

Marhaenist.id, Nisel - Banyaknya laporan masyarakat di Kepolisian Resort (Polres) Nias Selatan…

Kota Balikpapan Belum Merdeka?

Marhaenist.id - Merdeka adalah cita-cita mulia yang diimpikan setiap daerah di Indonesia.…

Persatuan Alumni GMNI dan GMNI Bukan ‘Sayap’ Partai Politik

Marhaenist - Seperti diketahui GmnI terlahir pada tanggal 23 Maret 1954 di…

Konferda V Tetapkan Miartiko Gea Sebagai Ketua DPD Persatuan Alumni GMNI Jakarta Raya

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Tebar Kepedulian di Ramadhan, DPK GMNI Teknik UHO Kendari Gelar aksi Berbagi Takjil

Marhaenist.id, Kendari – Dewan Pimpinan Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Terpilih dalam Konfercab V, Aji Darmawan-Diman Safaat Resmi Pimpin DPC GMNI Kendari Periode 2025–2027

Marhaenist.id, Kendari - Aji Darmawan dan Diman Safaat resmi terpilih secara sah…

Spekulasi Makan Siang Gratis Rp7.500, Ini Kata Kubu Prabowo

Marhaenist.id, Jakarta - Anggota Tim Sinkronisasi Prabowo-Gibran membantah spekulasi yang beredar mengenai…

GMNI Sulbar Soroti Pembangunan Kantor KDMP Tanpa Papan Proyek, Desak Kejari dan DPRD Jalankan Tupoksi

Marhaenist.id, Mamasa — Pembangunan kantor Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di sejumlah…

Kritik Pernyataan Menkum, Zainal Arifin Mochtar: Putusan MK Tidak Selalu Prospektif, Polri Harus Segera Lakukan Penyesuaian

Marhaenist.id, Jakarta - Pakar Hukum Tata Negara, Zainal Arifin Mochtar menyoroti statement…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?