
Marhaenist.id – Dunia hari ini sedang bergerak dalam pusaran ketidakpastian yang luar biasa. Jika kita meletakkan telinga pada rel sejarah, kita akan mendengar gemuruh pergeseran geopolitik global yang tidak lagi bisa dijelaskan semata-mata melalui teori relasi internasional konvensional. Peningkatan konflik di berbagai belahan bumi, krisis ekonomi yang silih berganti, hingga kerusakan ekologis, semua ini menunjukkan bahwa peradaban modern sudah benar- benar berada pada titik lelahnya.
Sebagai insan nasionalis yang berketuhanan, kita diajarkan untuk membaca realitas dengan kacamata yang objektif. Namun, pisau analisis material tidak akan pernah utuh tanpa kepekaan spiritual. Para pendiri bangsa kita meletakkan “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai bintang pimpinan (Leitstar), menyadari bahwa perjalanan sebuah bangsa terikat kuat dengan hukum-hukum semesta yang digariskan oleh Sang Pencipta.
Membaca Tanda Akhir Zaman Tanpa Menghakimi
Berbagai literatur eskatologi (ilmu tentang akhir zaman) dalam banyak tradisi agama, khususnya Islam, menyebutkan sejumlah tanda yang menggambarkan fase transisi dunia. Di antaranya adalah waktu yang terasa berjalan semakin cepat karena manusia semakin tenggelam dalam urusan duniawi, perlombaan membangun gedung-gedung tinggi yang menjulang melampaui gunung, hingga tanah-tanah gersang (gurun) yang perlahan mulai menghijau kembali.
Kita tidak perlu menjustifikasi atau menuding kelompok, bangsa, atau kepercayaan mana pun sebagai dalang kehancuran. Yang perlu kita sadari adalah bahwa tanda-tanda transisi zaman itu sedang digelar secara nyata di hadapan kita semua.
Fase di mana sistem-sistem besar dunia mulai kehilangan kendali adalah pengingat keras bahwa kekuasaan manusia itu fana, dan ada Kekuatan Maha Besar yang sedang menata ulang keseimbangan bumi.
Geopolitik dalam Bayang-bayang Surah Ar-Rum
Saat ini, kita menyaksikan puncak dari sebuah sistem global yang sangat mendewakan kemajuan materi dan teknologi. Hegemoni dibangun di atas perlombaan senjata militer, nuklir dan dominasi ekonomi. Namun, sejarah dan teks-teks suci telah lama merekam bahwa setiap peradaban yang mencapai puncak kesombongan materialnya, tanpa diimbangi oleh moralitas, akan menghadapi titik baliknya.
Siklus keruntuhan sistem buatan manusia ini bukanlah hal baru. Allah SWT memperingatkan fenomena ini dalam firman-Nya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41).
Ayat ini adalah gambaran jujur tentang apa yang sedang dan akan terjadi di bumi kita, sebuah kebenaran yang bisa dirasakan oleh siapa pun tanpa memandang perbedaan. Kerusakan tatanan dunia saat ini baik itu krisis iklim maupun perang proksi adalah hasil logis dari keserakahan manusia itu sendiri. Langit telah memberikan peringatan keras agar umat manusia bermuhasabah (introspeksi) dalam menjalankan kehidupan.
Ilusi Teknologi: Kecerdasan Buatan (AI) dan Fitnah Akhir Zaman
Di era modern ini, kita dikelilingi oleh kecanggihan teknologi informasi dan Artificial Intelligence (AI) yang mampu memanipulasi kenyataan. Inilah masa yang digambarkan dalam riwayat sebagai “masa penuh fitnah”, di mana kebatilan seringkali tampak indah dan kebenaran tampak asing.
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya (tabayyun), agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).
Teknologi dapat menjadi berkah bagi kehidupan manusia. Namun juga dapat berubah menjadi alat fitnah yang memecah belah persaudaraan ketika kita kehilangan kendali diri. Karena itu, jangan biarkan kecanggihan digital mengikis empati dan kejernihan hati kita.
Kedaulatan Bangsa Dimulai dari Kedaulatan Iman
Kedaulatan sebuah bangsa pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi atau kecanggihan teknologi. Semua berakar pada sesuatu yang jauh lebih dalam, yaitu kejernihan iman dan keteguhan jiwa rakyatnya. Bangsa yang hatinya tetap terikat kepada Tuhan akan mampu bertahan bahkan ketika badai geopolitik mengguncang dunia, karena kekuatan sejatinya bukan hanya pada apa yang dimiliki, melainkan kepada siapa ia bersandar.
Jangan sampai kemajuan materi yang kita rasakan hari ini justru menjadi jerat kelalaian bagi kita. Ingatlah peringatan keras dari Sang Pemilik Semesta: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.” (QS. Al-An’am: 44)
Karena itu, marilah kita menata kembali kompas kehidupan kita sebelum pintu-pintu kesenangan itu ditutup secara sekonyong-konyong. Pulanglah kepada keyakinan masing-masing dengan hati yang lebih utuh. Ramaikan kembali rumah-rumah ibadah, hidupkan majelis ilmu, dan basahi malam-malam kita dengan sujud, sembah, dan doa yang tulus.***
Penulis: Mufty Arya Dwitama, Wakabid Analisa Isu dan Kajian Strategis DPC GMNI Jakarta Timur.