By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Hadiri Kaderisasi GMNI, Bawaslu Kota Bekasi Ajak Mahasiswa Cermat Menyaring Informasi di Tengah Maraknya Hoaks
Di Forum MKRI–MK Mesir, Prof. Arief Hidayat Angkat Marhaenisme sebagai Etika Konstitusi
DPD GMNI DKI Jakarta Gelar Konferensi Daerah Pertama, Usung Tema Transformasi Jakarta Menuju Kota Global
DPP GMNI Apresiasi Kemenangan Ekologis Masyarakat Adat Tano Batak
28 Izin Dicabut, DPP GMNI Bongkar Masalah Kehutanan

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Rupiah, Budaya Geopolitik Nusantara, dan Ujian Marhaenisme

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Rabu, 14 Januari 2026 | 15:35 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Bagikan

Marhaenist.id – Nilai tukar rupiah kembali mencatat rekor terlemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (13/1/2026). Rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,13 persen ke level Rp16.877 per dolar AS, sementara Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia berada di Rp16.875 per dolar AS. Namun, angka-angka ini sesungguhnya hanya gejala permukaan dari persoalan yang jauh lebih dalam.

Pelemahan rupiah bukan sekadar fluktuasi moneter, melainkan refleksi ketegangan antara budaya geopolitik Nusantara dan tata ekonomi global yang dikuasai logika finansial spekulatif. Sejak 2025, rupiah bergerak dalam tekanan struktural yang menunjukkan bahwa fondasi ekonomi Indonesia belum sepenuhnya sejalan dengan watak geopolitiknya sendiri.

Budaya geopolitik Nusantara lahir dari sejarah panjang perlawanan terhadap dominasi eksternal. Politik non-blok, kemandirian nasional, dan penolakan terhadap ketergantungan menjadi napas utama diplomasi Indonesia sejak awal kemerdekaan.

Namun dalam arena ekonomi global kontemporer, prinsip tersebut belum sepenuhnya menjelma menjadi kemandirian struktur produksi. Rupiah akhirnya lebih sering dibaca pasar sebagai objek spekulasi, bukan sebagai representasi kekuatan ekonomi rakyat.

Proyeksi pelemahan rupiah hingga mendekati Rp17.000 per dolar AS pada akhir 2026, sebagaimana disampaikan ekonom global, menegaskan satu hal penting: Indonesia masih dipersepsikan sebagai ruang parkir modal jangka pendek, bukan sebagai jangkar ekonomi berjangka panjang. Ini bukan semata soal sentimen, melainkan soal siapa yang menguasai mesin produksi nasional.

Fakta bahwa Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan selama 67 bulan berturut-turut hingga November 2025 justru memperkuat paradoks tersebut. Surplus dagang tidak otomatis memperkuat rupiah karena nilai tukar hari ini tidak lagi ditentukan oleh ekspor-impor semata, melainkan oleh arus modal dan struktur kepemilikan ekonomi. Selama arus keluar masuk dana portofolio lebih dominan dibandingkan investasi produktif, rupiah akan terus rentan diguncang.

Baca Juga:   Kota Balikpapan Belum Merdeka?

Dalam perspektif Marhaenisme, kondisi ini menyingkap kegagalan mendasar: ekonomi nasional masih terlalu bertumpu pada modal finansial yang tidak berakar, sementara kekuatan produksi rakyat, industri nasional, tenaga kerja, dan nilai tambah domestik, belum menjadi poros utama. Marhaenisme tidak menolak investasi, tetapi menolak ekonomi yang menjadikan rakyat sekadar penonton di tanahnya sendiri.

Berbagai kebijakan strategis telah diklaim sebagai solusi, mulai dari hilirisasi sumber daya alam hingga insentif investasi besar-besaran. Namun selama kebijakan tersebut belum secara nyata menggeser kepemilikan, penguasaan teknologi, dan kontrol produksi ke tangan rakyat, maka yang tumbuh bukanlah kedaulatan ekonomi, melainkan ketergantungan baru dalam wajah modern.

Pelemahan rupiah hari ini dengan demikian adalah cermin krisis penerjemahan budaya geopolitik Nusantara ke dalam sistem ekonomi nasional. Indonesia secara politik berbicara tentang kedaulatan, tetapi secara ekonomi masih tunduk pada ritme modal global. Selama kontradiksi ini tidak diselesaikan, rupiah akan terus menjadi korban dari pertarungan yang tidak seimbang.

Tantangan sejati ke depan bukan sekadar menjaga stabilitas nilai tukar melalui instrumen moneter, melainkan menegakkan Marhaenisme sebagai fondasi ekonomi nasional, menggeser orientasi dari spekulasi ke produksi, dari modal cepat ke kerja rakyat, dari angka ke kedaulatan.

Ketika Marhaen kembali menjadi pusat kebijakan, rupiah tidak hanya bertahan, tetapi menjelma sebagai simbol hidup dari budaya geopolitik Nusantara yang merdeka dan berdaulat.***


Penulis: Bayu Sasongko, Pengamat Budaya Geopolitik Nusantara, Alumni GMNI.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Hadiri Kaderisasi GMNI, Bawaslu Kota Bekasi Ajak Mahasiswa Cermat Menyaring Informasi di Tengah Maraknya Hoaks
Senin, 26 Januari 2026 | 03:18 WIB
Di Forum MKRI–MK Mesir, Prof. Arief Hidayat Angkat Marhaenisme sebagai Etika Konstitusi
Minggu, 25 Januari 2026 | 19:29 WIB
DPD GMNI DKI Jakarta Gelar Konferensi Daerah Pertama, Usung Tema Transformasi Jakarta Menuju Kota Global
Minggu, 25 Januari 2026 | 18:18 WIB
DPP GMNI Apresiasi Kemenangan Ekologis Masyarakat Adat Tano Batak
Minggu, 25 Januari 2026 | 18:17 WIB
28 Izin Dicabut, DPP GMNI Bongkar Masalah Kehutanan
Minggu, 25 Januari 2026 | 07:46 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Polemik Tapera: Masalah atau Solusi?

Marhaenist.id - Kehadiran UU No. 4 Tahun 2016 tentang Tabungan Perumahan Rakyat…

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. MARHAENIST

Ganjar: Pemotongan Bantuan Bentuk Pengkhianatan Pada Negara

Marhaenist - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tegas mengatakan mereka yang bermain…

Kemenkeu Sebut Pemadananan NIK-NPWP Sudah Capai 99 Persen

Marhaenist - Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan menyatakan proses pemadanan Nomor…

Diterpa Berita Hoax, Dendy Setiawan Tegaskan Kembali Tak Akan Mencalonkan Diri sebagai Ketum ataupun Sekjend DPP GMNI

Marhaenis.id, Surabaya - Beredar adanya berita hoaks yang mengatakan bahwa M Ageng…

Soroti Aksi Pencemaran Limbah Hasil Pengeboran RIG GWDC milik PT PHSS, GMNI Balikpapan Desak Kepolisian Bebaskan Nelayan

Marhaenist.id, Balikpapan - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Balikpapan menggelar konsolidasi internal…

Tanggapi Issu Kongres Versi Imanuel, Eksponen GMNI: Jangan Terprovokasi Jika tidak Menyatukan

Marhaenist.id, Jakarta – Polemik internal Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) kembali memanas.…

Dari kiri, Hadi Sucipto (Ketua Gapokmas Tani Mandiri Jatim), Dandim 0808 Blitar Letkol Sapto Priono, Wabub Blitar Rahmat Santoso, Tenaga Ahli Utama KSP Usep Setiawan, Sukidi (Kantah BPN Kab Blitar ), Kapolres Blitar AKBP Aditya Panji Anom, Marjoko (Pembina Tani Mandiri Jatim) dan Kapolresta Blitar AKBP Agro Wiyono. MARHAENIST

Tenaga Ahli Utama KSP Minta GTRA Kabupaten Blitar Lebih Proaktif Komunikasikan Konflik Agraria

Marhaenist - Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Usep Setiawan berdialog…

Endus dugaan Terima Suap dalam Perekrutan Pandis, GMNI Minta Ketua Bawaslu Mimika Segera Diganti

Marhaenist.id, Mimika – Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Mimika, Frans Wetipo, diduga…

Whoosh dan Demokratisasi BUMN

Marhaenist.id - Polemik soal kerugian kereta cepat Whoosh atau Kereta Cepat Bandung–Jakarta…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?