By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar GMNIOpini

Marhaenisme di Persimpangan: Antara Etika Organisasi dan Ambisi Kekuasaan

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Jumat, 19 Desember 2025 | 12:09 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Ilustrasi GMNI/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Yang terlihat hari ini di tubuh internal DPP GMNI bukan sekadar konflik nama atau kursi, melainkan krisis etika berorganisasi. Kita terlalu sering membungkus perebutan legitimasi dengan jargon ideologi, padahal yang dipertontonkan ke bawah justru tarik-menarik kuasa. Di titik ini, Marhaenisme tidak sedang kalah oleh musuh eksternal, tetapi oleh ego internal.

Fenomena banyak klaim ketua umum dan sekjen menunjukkan satu hal mendasar: kita gagal menjadikan AD/ART sebagai kesepakatan suci bersama. Dalam organisasi ideologis, aturan main bukan formalitas administratif, melainkan fondasi moral. Ketika hasil kongres bisa ditafsirkan sesuai kepentingan masing-masing faksi, maka yang runtuh bukan hanya struktur, tapi juga kepercayaan kader akar rumput.

Sebagai kader, yang paling menyakitkan bukan perbedaan pendapat—GMNI justru lahir dari dialektika—melainkan hilangnya kejujuran politik. Perdebatan sehat terjadi ketika semua pihak mau mengakui batas kalah dan menang. Yang berbahaya adalah ketika kekalahan prosedural disulap menjadi klaim moral, seolah-olah “yang paling ideologis” otomatis paling sah. Sejarah mengajarkan, klaim moral tanpa legitimasi organisatoris hanya melahirkan fragmentasi.

Aku juga akan mengatakan ini dengan tegas: GMNI terlalu besar untuk terus dijadikan laboratorium ambisi personal. Setiap elite yang hari ini sibuk mengamankan legitimasi sempit, sedang mewariskan kebingungan struktural kepada kader di DPC dan DPD. Mereka yang di bawah dipaksa memilih “garis”, padahal seharusnya sedang belajar berpikir kritis dan berpihak pada rakyat.

Namun sebagai kader GMNI, aku tidak akan berhenti pada pesimisme. Organisasi ini sudah berkali-kali nyaris runtuh, dan selalu diselamatkan bukan oleh elite, tetapi oleh kesadaran kolektif kader bahwa GMNI lebih besar dari siapa pun. Jalan keluarnya bukan saling meniadakan, melainkan keberanian duduk bersama, membuka dokumen, membuka proses, dan menerima hasil dengan dewasa—bahkan jika itu pahit.

Baca Juga:   Bumikan Marhaenisme di Tanah Sintuwu Maroso, GMNI Poso Sukses Gelar PPAB ke 2

Jika GMNI ingin kembali relevan, DPP harus ingat satu hal sederhana tapi keras: kepemimpinan bukan soal siapa yang paling lantang mengklaim, tapi siapa yang paling siap dipertanggungjawabkan secara organisatoris dan ideologis.

Harapan saya

Saya ingin GMNI ke depan berhenti sibuk membuktikan siapa paling sah, paling ideologis, paling senior, atau paling dekat dengan tokoh tertentu. Semua itu bising, melelahkan, dan pelan-pelan mengosongkan makna organisasi. GMNI lahir bukan untuk melahirkan elite kecil yang pandai berkelahi di ruang kongres, melainkan untuk membentuk kader yang tahan banting menghadapi ketidakadilan nyata di luar pagar kampus.

Dari hati yang paling dalam, saya ingin GMNI sembuh. Sembuh dari luka ego, dari trauma konflik, dari kebiasaan menjadikan AD/ART sebagai alat pukul, bukan pedoman bersama. Sembuh berarti berani mengakui kesalahan, bukan menguburnya dengan jargon persatuan yang hampa.

Saya ingin GMNI kembali menjadi rumah kader, bukan medan perang faksi. Tempat di mana mahasiswa kecil dari daerah—yang mungkin baru pertama kali belajar bicara politik—merasa aman untuk berpikir, berbeda, dan tumbuh. Bukan takut salah garis, salah forum, atau salah menyebut nama.

Ke depan, GMNI seharusnya lebih sibuk bertanya:

1. Mengapa petani masih tergusur,
2. Mengapa buruh makin rentan,
3. Mengapa pendidikan makin mahal,
4. Mengapa nasionalisme sering kalah oleh modal.

Jika GMNI tidak hadir di pertanyaan-pertanyaan itu, maka sehebat apa pun struktur DPP, ia hanya tinggal papan nama.

Saya ingin GMNI melahirkan pemimpin yang rendah hati tapi tegas, ideologis tapi tidak dogmatis, kritis tapi tidak culas. Pemimpin yang sadar bahwa jabatan hanyalah alat, bukan tujuan hidup. Yang berani selesai, bukan terus menggantung konflik demi eksistensi.

Baca Juga:   PPN Meningkat, Kelas Menengah Sekarat!

Dan yang paling penting: saya ingin GMNI kembali dipercaya oleh kadernya sendiri. Karena organisasi ideologis tidak runtuh saat diserang dari luar, tetapi saat kadernya berhenti berharap.

GMNI tidak butuh tokoh sempurna.
GMNI butuh keberanian kolektif untuk pulang ke akarnya: berpihak, berpikir, dan berjuang—dengan kepala dingin dan hati yang bersih.***


Penulis: Johan, Kader GMNI Polewali Mandar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Minggu, 12 April 2026 | 13:37 WIB
Foto: Benediktus Aquino, Alumni GMNI DKI Jakarta (Dokpri)/MARHAENIST.
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Sabtu, 11 April 2026 | 22:02 WIB
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Sabtu, 11 April 2026 | 19:21 WIB
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 18:07 WIB
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 12:16 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Sambut Ganjar, Warga dan Tokoh Adat Sematkan Selendang Beserta Topi Khas Manggarai

Marhaenist.id, Ruteng - Ganjar Pranowo melanjutkan safari politiknya di Ruteng, Kabupaten Manggarai,…

Bahayakan Demokrasi, Alumni GMNI Kecam Revisi Putusan MK Terkait UU Pilkada

MARHAENIST - Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) mengecam dan menentang keras…

Sektor Pertanian Butuh Dukungan Anggaran dan Kebijakan Konkrit

Marhaenist - Sektor pertanian yang menjadi tempat bagi mayoritas rakyat Indonesia menggantungkan…

Gugur Sebagai Pejuang Demokrasi, DPC GMNI Kendari Kecam Tindakan Represif Kepolisian Kawan Ojol

Marhaenist.id, Kendari – Tragedi kembali mencoreng wajah demokrasi Indonesia. Seorang kawan Ojol yang…

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto. FILE/PDI Perjuangan

Soal Siap Jadi Capres, Hasto: Ganjar Pranowo Tidak Melanggar Disiplin Partai

Marhaenist - Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menegaskan Ganjar…

DPP GMNI Desak Pemerintah Batalkan Rencana Kenaikan PPN 12%

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI),…

Kekerasan Aparat Mewarnai Aksi Tolak UU TNI

Marhaenist.id, Jakarta - Aksi unjuk rasa Ratusan Mahasiswa dan Koalisi Masyarakat Sipil…

Ketua Mahkamah Agung (MA) H.M. Syarifuddin. FILE/MA

Ketua MA Sikapi Masukan KPK, Ini Langkah Hakim Agung

Marhaenist - Ketua Mahkamah Agung (MA) H.M. Syarifuddin menyikapi saran dan masukan…

Ketua PA GMNI: Transisi Demokrasi Tak Boleh Mundur ke Era Sebelum Reformasi

Marhaenist.id, Jakarta - Ketua Umum DPP Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?