By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Front Marhaenis Ditengah Kekacauan Politik, Hukum, dan Ekonomi Indonesia Hari Ini

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Sabtu, 6 Desember 2025 | 22:30 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Firman Tendry Masengi, Direktur Eksekutif RECHT Institute/Alumni GMNI (Ist)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Indonesia hari ini berada dalam pusaran kekacauan politik, hukum, dan ekonomi yang semakin menajam. Ketimpangan sosial membesar, demokrasi direduksi menjadi ritual elektoral transaksional, hukum menjadi instrumen kekuasaan, dan ekonomi dikuasai oleh oligarki.

Dalam situasi seperti ini, ajaran Bung Karno mengenai peran Front Marhaenis menemukan relevansinya secara historis dan politis. Kaum Marhaenis dipanggil bukan untuk berdiam diri, tetapi tampil sebagai kekuatan pelopor untuk meluruskan kembali arah revolusi yang menyimpang. Mata batin dan keterpanggilan ideologi harus berada pada kondisi objektif yang nampak.

Pertama: Ketika Politik Menjadi Pasar Kekuasaan

Neoliberalisme dan oligarki telah mengendalikan politik Indonesia. Kontestasi kekuasaan bukan lagi pertarungan gagasan, melainkan pertarungan modal dan jaringan elite.

Partai politik banyak yang berubah fungsi menjadi perusahaan kekuasaan; demokrasi dipertukarkan dalam pasar gelap kekuasaan melalui transaksi uang dan dukungan korporasi.

Dalam konteks ini, kaum Marhaenis wajib kembali pada prinsip sosio-demokrasi: politik untuk rakyat, bukan untuk elite. Bung Karno menegaskan bahwa demokrasi sejati hanya mungkin jika rakyat menjadi subjek politik, bukan objek manipulasi.

Front Marhaenis harus:

– Menolak politik transaksional

– Mengembalikan politik ke ruang moral, ideologi, dan kesejahteraan rakyat

– Mendorong demokratisasi internal dan rekonstruksi gerakan politik berbasis rakyat

Politik yang kehilangan nurani adalah pengkhianatan terhadap cita-cita revolusi.

Kedua: Ketika Hukum Diperdagangkan dan Keadilan Hilang

Realitas hukum hari ini menunjukkan gejala krisis legitimasi. Hukum kerap memihak pada mereka yang memiliki kekuasaan dan modal, sementara rakyat kecil diperlakukan sebagai objek represi. Keadilan menjadi barang mewah, dan penjara dipenuhi oleh rakyat kecil, bukan koruptor kelas kakap.

Dalam situasi semacam ini, Bung Karno menegaskan bahwa keberpihakan adalah kewajiban. Kaum Marhaenis harus menjadi penjaga moral hukum: membela rakyat tertindas dan melawan komersialisasi keadilan.

Baca Juga:   Balada Sang Penjilat

Tugas Front Marhaenis:

– Mengkritik keras penyalahgunaan hukum dan kekuasaan

– Menjadi ‘advokat moral’ bagi rakyat yang kehilangan akses terhadap keadilan

– Mengorganisir gerakan perlawanan terhadap hukum yang korup dan represif.

Hukum tanpa keadilan adalah tirani legal.

Ketiga: Ketika Ekonomi Dipusatkan pada Segelintir Oligarki

Kekayaan Indonesia hari ini terkonsentrasi di tangan segelintir konglomerat dan keluarga politik. Akses terhadap tanah, tambang, air, hutan, dan sumber daya ekonomi strategis semakin tertutup bagi rakyat.

Land reform yang telah melunak menjadi reforma agraria yang stagnan, petani dan nelayan diusir dari ruang hidupnya, dan buruh terus berada dalam lingkaran upah murah.

Fenomena ini adalah kebalikan total dari prinsip sosio-nasionalisme Bung Karno—yang menempatkan kemakmuran rakyat sebagai tujuan negara.

Karena itu Front Marhaenis harus:

– Melawan monopoli ekonomi dan perampasan tanah

– Menuntut penguasaan negara atas cabang produksi vital

– Memperjuangkan tegaknya keadilan ekonomi sebagai fondasi demokrasi

Tidak ada kemerdekaan sejati dalam sistem ekonomi yang menindas rakyatnya sendiri.

Keempat: Persatuan Nasional sebagai Senjata Revolusi

Indonesia hari ini berada pada titik di mana polarisasi politik, konflik identitas, dan adu domba sosial menjadi senjata untuk mempertahankan kekuasaan oligarki.

Bung Karno telah memperingatkan bahwa perpecahan nasional adalah jalan paling mudah bagi imperialisme untuk kembali menguasai bangsa.

Karena itu, Front Marhaenis harus menjadi:

– Pelopor persatuan, bukan pengikut provokasi

– Jembatan antara seluruh kekuatan progresif—buruh, tani, pemuda, perempuan, dan intelektual

– Pembangun front nasional yang berideologi Pancasila secara substantif, bukan seremonial

Persatuan bukan retorika kosong, melainkan strategi revolusi.

Kelima: Keberanian Moral dan Aksi Kolektif

Krisis nasional tidak mungkin diselesaikan oleh elite kekuasaan yang menjadi bagian dari masalah. Perubahan hanya mungkin jika rakyat bangkit dan mengambil kembali hak historis mereka sebagai pemilik kedaulatan.

Baca Juga:   Pancasila di Persimpangan Algoritma

Ajaran Bung Karno jelas: “Di saat keadilan diinjak, kewajiban revolusioner adalah melawan.”

Oleh karena itu Front Marhaenis harus:

– Turun ke jalan ketika hukum dihina dan rakyat diperas

– Menjadi suara alternatif yang berani dan independen

– Mengorganisasi perlawanan kolektif berbasis kesadaran dan solidaritas rakyat

– Mereka tidak boleh menjadi penonton sejarah, tetapi pembuat sejarah.

Kesimpulan

Di tengah kekacauan politik, hukum, dan ekonomi hari ini, Front Marhaenis dipanggil untuk: berpihak pada rakyat, melawan oligarki, menegakkan kedaulatan, menjaga persatuan nasional, dan memimpin perubahan struktural.
Itulah garis perjuangan Bung Karno, dan itulah jalan revolusi yang belum selesai.

Selama ketidakadilan masih berdiri tegak, Marhaenisme seharusnya tetap hidup sebagai ideologi perlawanan dan harapan. Sayangnya elit kaum Marhaen banyak menjadi demagog baru dan intelektual hipokrit.

(Catatan dari diskusi kecil Pra Konferda PA GMNI DKI Jakarta)***


Penulis: Firman Tendry Masengi, Direktur Eksekutif RECHT Institute/Alumni GMNI.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Selasa, 13 Januari 2026 | 12:57 WIB
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:42 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Senin, 12 Januari 2026 | 19:19 WIB
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Senin, 12 Januari 2026 | 15:03 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika
Senin, 12 Januari 2026 | 15:02 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Mengenal Kapitalisme Bangsa Sendiri Oleh Bung Karno

Marhaenist.id - Dalam suatu rapat umum saya pernah berkata, bahwa kita bukan…

Ketua DPK FKIP Universitas Khairun: M Asrul Bukan Ketua Cabang Sah, Ia Mengatasnamakan GMNI Ternate untuk Kepentingan Pribadi

Marhaenist.id, Ternate — Ketua Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

GMNI Penajam Desak Evaluasi Proyek RDMP Bukti Lemahnya Pengawasan Disnaker & DPRD

Marhaenist.id, Penajam Paser Utara - Duka mendalam menyelimuti kalangan masyarakat Penajam usai insiden longsor…

Gelar Diskusi Bersama Para Pakar, GMNI Jaksel Bahas Otoritarianisme Legal: Antara Hukum dan Kekuasaan

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

GMNI Mendorong KPK untuk Melakukan Pendalaman Kasus Gratifikasi yang Melibatkan Bupati PPU

Marhaenist.id, Penajam Paser Utara – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Penajam Paser Utara…

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. MARHAENIST

PDI Perjuangan Capreskan Ganjar Pranowo, PA GMNI Jatim: Ganjar Keluarga Besar GMNI

Marhaenist - Berbagai elemen masyarakat, salah satunya Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional…

Presiden Rusia Vladimir Putin. AFP/Jewel Samad

Jejak Langkah Permainan Vladimir Putin di Ukraina

Marhaenist - Pertanyaan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin tengah memasuki babak akhir…

Politik Inklusif Ganjar Pranowo

Perhelatan kontestasi politik melalui Pemilihan Umum 2024 semakin dekat dan berjalan dinamis.…

Terus Kembangkan Potensi Diri, Pesan Bupati Purworejo Untuk GMNI

Marhaenist - Dewan Pengurus Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Purworejo…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?