By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
GMNI Riau Tegaskan Polri di Bawah Presiden Merupakan Amanat Konstitusi
Digadang akan Menggantikan Prof. Arief, Ini Deretan Kontroversi Adies Kadir!
Gelar Peluncuran dan Bedah Buku Prof. Arief Hidayat, Tandai 13 Tahun Pengabdian sebagai Hakim Konstitusi
GMNI Nilai Pencabutan 28 Izin Perusahaan Harus Jadi Awal Reformasi Kehutanan
Pengakuan Bung Karno Soal Pergumulan Batin: Dari ‘Islam Raba-raba’ menjadi ‘Islam yang Yakin’

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar Alumni GMNI

Menjadi Negeri Para Jenderal, Firman Tendry Masengi Kritik Dominasi Militer dalam Ruang Publik dan Politik Nasional

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Jumat, 5 Desember 2025 | 14:42 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Foto: Firman Tendry Masengi, Advokat dan Alumni GMNI (Sumber: Jakartasatu.com)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id, Jakarta – Advokat sekaligus alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Firman Tendry Masengi, melontarkan kritik mendalam terhadap dominasi para jenderal dalam ruang publik, simbol negara, dan praktik-praktik kekuasaan di Indonesia.

Ia menyoroti bagaimana jejak kekuasaan militer masih begitu kuat bahkan dalam kehidupan sipil, membentuk ingatan kolektif yang mengekalkan relasi kekuasaan yang timpang.

Melalui narasinya yang lugas dalam sebuah opini dengan judul NEGERI PARA JENDERAL:  TENTANG TANAH REPUBLIK YANG RAKYAT TERUS TERJAJAH yang tanyang di Jakartasatu.com Selasa (2/12/2025), Firman Tendry Masengi menyatakan bahwa nama-nama jenderal menghiasi hampir seluruh infrastruktur negara, mulai dari jalan raya, bandara, pelabuhan, hingga fasilitas publik lainnya.

Fenomena tersebut dianggapnya sebagai bentuk “Penjara Ingatan” yang memaksa rakyat untuk terus hidup di bawah bayang-bayang figur yang justru kerap mengkhianati kepentingan rakyat.

“Setiap kali seseorang menyebut nama jalan tempat mereka tinggal, mereka tanpa sadar mengucapkan mantra yang menyanjung para petinggi yang mengkhianati rakyat,” tulis Firman Tendry Masengi.

Menurutnya, tindakan memberi nama fasilitas publik dengan nama para jenderal bukan sekadar bentuk penghormatan historis, tetapi strategi propaganda yang menutupi praktik-praktik kekuasaan yang timpang.

Ia menilai bahwa simbol-simbol tersebut menjadi alat kolonialisasi domestik yang melanggengkan dominasi militer dalam kehidupan sipil.

Masengi juga menyoroti bagaimana sebagian jenderal memindahkan “medan tempur” dari masa perang ke ruang politik dan ekonomi.

Ia menuduh para jenderal menggunakan kekuatan simbolik dan institusional untuk menguasai sumber daya negara, menggusur masyarakat, hingga menekan kritik publik atas nama stabilitas nasional.

“Dulu musuhnya penjajah. Kini musuhnya adalah rakyatnya sendiri,” tegasnya dalam tulisan itu.

Dalam analisanya, Masengi menggambarkan bagaimana jargon seperti nasionalisme, keamanan, dan stabilitas kerap dijadikan pembenaran bagi tindakan represif maupun kebijakan yang merugikan rakyat kecil.

Baca Juga:   Alumni GMNI Ingatkan Gagasan Soekarno untuk Mengatasi Situasi Global

Ia menilai bahwa praktik politik demikian menempatkan rakyat sebagai pihak yang terus menerus dilemahkan dan dijauhkan dari hak-haknya sebagai warga negara.

Lebih jauh, ia menyatakan bahwa para jenderal kerap tampil sebagai penyelamat ketika negara menghadapi krisis, padahal sebagian dari mereka turut berperan menciptakan krisis tersebut.

Menurutnya, rakyat tidak boleh dibiarkan lupa bahwa banyak persoalan bangsa justru lahir dari kesalahan elite yang kini tampil seolah pahlawan.

Masengi menutup opininya dengan pertanyaan reflektif tentang makna kemerdekaan Indonesia hari ini:

“Apakah negeri ini benar-benar pernah merdeka? Atau hanya berganti penjajah dari asing menjadi seragam sendiri?” tulisnya diakhir.***

Penulis: Bung Wadhaar/Editor: Bung Wadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

GMNI Riau Tegaskan Polri di Bawah Presiden Merupakan Amanat Konstitusi
Selasa, 27 Januari 2026 | 22:05 WIB
Digadang akan Menggantikan Prof. Arief, Ini Deretan Kontroversi Adies Kadir!
Selasa, 27 Januari 2026 | 20:55 WIB
Gelar Peluncuran dan Bedah Buku Prof. Arief Hidayat, Tandai 13 Tahun Pengabdian sebagai Hakim Konstitusi
Selasa, 27 Januari 2026 | 20:31 WIB
GMNI Nilai Pencabutan 28 Izin Perusahaan Harus Jadi Awal Reformasi Kehutanan
Selasa, 27 Januari 2026 | 20:07 WIB
Pengakuan Bung Karno Soal Pergumulan Batin: Dari ‘Islam Raba-raba’ menjadi ‘Islam yang Yakin’
Selasa, 27 Januari 2026 | 19:11 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Taukah Kamu, Apa Itu GMNI?

Marhaenist.id - GMNI dikenal banyak orang sebagai organisasi kehasiswaan yang telah banyak melahirkan…

Lembaga Kebudayaan Untuk Merajut Kebhinekaan Indonesia

Bulan Oktober identik dengan peringatan Sumpah Pemuda. Pada tanggal 27-28 Oktober 1928…

KSPSI Gelar Rakernas dan Seminar Nasional Inter-Profesi di Surabaya

Marhaenist - Federasi Serikat Pekerja Farmasi dan Kesehatan-KSPSI gelar Rapat Kerja Nasional…

Alumni GMNI Pemalang Hadiri Acara Ziarah Makam Bung Karno Dengan Khidmat

Marhaenist - Puluhan alumni dan kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten…

DPK GMNI UNM Siap Jadi Patron Persatuan GMNI di Kota Makassar

Marhaenist.id, Makassar - Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Diskusi Publik Persatuan Alumni GMNI Jakarta, Anies Baswedan Tekankan Ekonomi Berkeadilan

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

GMNI: Konstitusi Dibegal, Demokrasi Dikebiri

MARHAENIST - Dalam UUD tahun 1945 hasil amandemen, Pasal 1 Ayat (2)…

DPC GMNI Palembang Siap Dampingi Masyarakat dalam Kasus Drainase Tersumbat Akibat Ulah Developer

Marhaenist id, Palembang — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Perempuan Padarincang Melawan di Garda Terdepan: Sengketa Izin Lingkungan PT Sinar Ternak Sejahtera dan Hak Konstitusional Warga Cibetus

Marhaenist.id - Sengketa Izin Lingkungan dengan Nomor Perkara 85/G/LH/2025/PTUN.SRG antara warga Kampung…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?