By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Historical

Darimana Asal Mula Istilah Kiri Itu Muncul, Ini Jawabnya!

Marhaenist Indonesia
Marhaenist Indonesia Diterbitkan : Rabu, 19 November 2025 | 20:41 WIB
Bagikan
Waktu Baca 2 Menit
Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Khrushchev dan Presiden Indonesia Soekarno berbagi rokok dalam sebuah jamuan makan di Istana Tampaksiring, Bali 1960. (Life/John Dominis)
Bagikan

Marhaenist.id – Istilah “kiri” kini seringkali diidentikkan dengan komunisme. Padahal dilihat dari sejarahnya, istilah itu sudah muncul lebih dari setengah abad sebelum Manifesto Komunis diterbitkan pada 1848. Istilah ini muncul saat hingar-bingar Revolusi Prancis pada akhir abad ke-18 yaitu tepatnya pada 1792. Revolusi Prancis berlangsung dari 1789 sampai 1799.

Kala itu, kekuatan politik di parlemen Prancis yang terbentuk setelah gejolak awal revolusi, yang dimenangkan oleh masyarakat kelas III terbelah menjadi kaum konservatif yang ingin mempertahankan bentuk monarki konstitusional berlawanan dengan kaum radikal yang menuntut bentuk republik. Kaum konservatif ingin mempertahankan kekuasaan politik yang didominasi kepentingan segelintir kaum lapisan ekonomi atas.

Dalam gedung parlemen, grup konservatif yang pro status quo duduk mengelompok di bagian kanan, sedangkan kaum oposisi yang pro perubahan dan konsisten membela rakyat bawah duduk di sebelah kiri. Dengan kata lain, kiri identik dengan gerakan perlawanan terhadap ketidakadilan penguasa kala itu. Sejak saat itulah muncul istilah “rightist” dan “leftist” atau “sayap kiri” dan “sayap kanan”.

Pada perkembangan selanjutnya, istilah kiri cenderung berubah sesuai dengan lingkup gagasan dan sikap yang diperbandingkan. Dalam politik, sayap kiri biasanya mengacu pada kelompok yang dihubungkan dengan aliran sosialis atau demokrasi sosial, sementara sayap kanan identik dengan aliran kapitalis. Komunis yang di kemudian hari merupakan perkembangan dari gerakan marxis merupakan bentuk ekstrim dari sayap kiri.

Khusus di Indonesia, persepsi kiri mulai berubah sejak Gestapu meletus. Padahal kiri pernah menjadi primadona sebagai gerakan yang membela kepentingan rakyat tertindas. Sejarawan dari UI, Andi Achdian menuturkan tradisi pemikiran kiri di Indonesia telah berakar sejak lama. Pemikiran kiri disebutnya mempengaruhi gerakan kemerdekaan di Indonesia.

Baca Juga:   Djuari Sang Pejuang Pemikul Tandu Jenderal Soedirman yang Terlupakan: Jejak Setia Sang Pejuang dari Kediri

“Tanpa pemikiran kiri, Indonesia tak akan pernah ada dalam peta dunia. Sejarah pergerakan anti kolonial berkembang karena ada kritisisme tersebut. Tanpa ada gagasan kiri, kita hanya jadi budak kolonialisme bangsa asing.”***


Disusun oleh Redaksi.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Minggu, 12 April 2026 | 13:37 WIB
Foto: Benediktus Aquino, Alumni GMNI DKI Jakarta (Dokpri)/MARHAENIST.
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Sabtu, 11 April 2026 | 22:02 WIB
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Sabtu, 11 April 2026 | 19:21 WIB
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 18:07 WIB
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 12:16 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Reformasi Polri Dimulai dengan Mencopot Sigit sebagai Kapolri

Marhaenist.id - Seruan reformasi kepolisian kembali menggelegar di ruang publik. Seruan ini…

Asa untuk Sumatera

Marhaenist.id - Di balik hiruk-pikuk pembangunan nasional, Pulau Sumatera kembali menuntut perhatian…

Dari Penjajahan Bambu Runcing ke Penjajahan Bambu Modern

Marhaenist.id - Bung Karno yang secara nyata sejak kecil sampai dewasa memiliki…

Pajak untuk Keadilan

Marhaenist.id - Perdebatan soal kenaikan tarif PPN dari 11 persen menjadi 12 persen…

Namanya Tan Malaka!

Marhaenist.id - Tokoh ini namanya seolah terkubur selama puluhan tahun. Setelah reformasi…

Dukung Persatuan, DPD GMNI Sultra Apresiasi Terbentuknya Forum Nasional Komunikasi Persatuan dalam Konsolidasi Nasional di Blitar

Marhaenist.id, Kendari - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sulawesi…

Gelar Seri Diskusi Publik Edisi V, PA GMNI Jakarta Raya Tekankan Front Marhaenis Ambil Peran untuk Berdaulat, Berdikari, Berbudaya

Marhaenist.id, Jakarta — DPD Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Jakarta…

Cak Imin Doakan Puan Jadi Presiden, Puan Doakan Cak Imin Jadi Wapres

Marhaenist - Ketua DPR RI yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan, Puan…

Kabar Duka! Titiek Puspa, Mantan Penyanyi Istana Era Bung Karno Meninggal Dunia

Marhaenist.id, Jakarta - Musisi sekaligus penyanyi legendaris Titiek Puspa meninggal dunia pada…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?