By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Surat Megawati ke Iran Jadi Perhatian Internasional, Pesannya Dinilai Mewakili Suara Moral Indonesia
DPC GMNI Kolaka Bersama Kapolres Kolaka Gelar Berbagi Takjil dan Buka Puasa Bersama
DPP GMNI Tolak Klausul Transfer Data dalam Perjanjian Perdagangan Indonesia–Amerika Serikat, Dinilai Ancam Kedaulatan Digital Nasional
Prof. Arief Hidayat: Putusan MK 71 Teguhkan Prinsip Mens Rea dan Hentikan Ekspansi Tafsir Pasal 21 Tipikor
Megawati Soekarnoputri Sampaikan Duka Mendalam atas Wafatnya Ayatullah Ali Khamenei

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar GMNIOpini

Sikap GMNI Bandung: Bandung Bukan Arena Konsolidasi Patologi, Tetapi Historis Manifestasi Persatuan Ideologi

Marhaenist Indonesia
Marhaenist Indonesia Diterbitkan : Senin, 14 Juli 2025 | 18:01 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Ilustrasi Bandung Lautan Api 2/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Di Bandung, Soekamo tak hanya belajar menuntut ilmu, melainkan membangun dasar Ideologi Marhaenisme sebuah paham perjuangan rakyat tertindas, yang lahir dari pertemuannya dengan seorang petani kecil bernama Marhaen di pinggiran kota Bandung. Di ruang-ruang diskusi dan rumah kos Haji Sanusi, Soekarno merumuskan ide besar tentang kemerdekaan yang bukan sekadar politik, tapi juga ekonomi dan budaya.

Di Pengadilan Landraad Bandung, saat Soekamo menggugat kolonialisme dalam pidato bersejarah “Indonesia Menggugat” (1930). Bagi Soekarno, Bandung adalah ruang dialektika perlawanan. Di kota ini, nasionalisme tidak hanya dikampanyekan, tapi dijalani sebagai praksis politik.

Delapan dekade setelah pidato, Bandung kembali akan dipertontotan ajang konsolidasi patologi organisasi di tengah carut marut organisasi. Dengan demikian kami Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Bandung menyatakan menggugat, tentu bukan kepada penjajah asing. melainkan kepada penyimpangan internal dalam tubuh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Kongres ke-XXII yang diselenggarakan di Bandung bukan menjadi panggung ideologi, tetapi terjebak dalam pusaran pragmatisme, kooptasi kekuasaan, dan delegitimasi akar gerakan.

Kongres yang seharusnya menjadi momen konsolidasi kader Marhaenis dari seluruh penjuru negeri, justru dikhianati oleh elit organisasi yang disorientasi. Mereka melihat proses yang tidak demokratis, pengabaian prinsip transparansi, serta masuknya kepentingan ekstemal yang mencederai semangat independensi organisasi. Apa yang dikritik oleh Soekarno dalam kolonialisme, hari ini tercermin dalam praktik dominasi elit dalam organisasi.

Maka, di Bandung hari ini, sejarah seakan mengulang dirinya. Kota ini kembali menjadi saksi menggugat. Jika dahulu Soekarno menggugat kolonialisme Belanda, kini kader-kader DPC GMNI Bandung menggugat kolonialisme baru dalam tubuh organisasi: feodalisme struktural, kompromi ideologi, dan pengkhianatan terhadap cita-cita rakyat. Adapun hasil kajian kami sebagai berikut :

Baca Juga:   Cipayung Plus dan Kolom Kelima

Krisis Hukum: Ketika AD/ART Dilanggar, Demokrasi Dikhianati

Dualisme kepemimpinan DPP GMNI sejak 2019 telah menciptakan ruang abu-abu dalam struktur hukum organisasi. Akibatnya, berbagai produk keputusan-baik kaderisasi, konsolidasi, hingga kongres lanjutan terjerat dalam krisis legitimasi.

Menurut konstitusi internal (AD/ART GMNI), prinsip demokrasi kader dan representasi wilayah adalah dasar legalitas semua proses organisasi. Namun hari ini, justru struktur itulah yang dikooptasi dan dilanggar oleh elite organisasi. Ketika legalitas direduksi menjadi formalitas tanpa akuntabilitas, maka yang terjadi bukan organisasi, tapi oligarki.

Krisis Etika: Organisasi Kader Bukan Alat Rebutan Kursi

Apa yang kita saksikan hari ini adalah kemunduran moral kolektif. GMNI telah digiring menjadi lapangan pertandingan politik kekuasaan, bukan ruang pembentukan karakter kader ideologis. Konflik internal yang tak kunjung usai hanya mempermalukan sejarah panjang organisasi yang seharusnya menjadi pionir gerakan rakyat.

Etika kolektif dalam organisasi kader seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai musyawarah, pengabdian, dan kepentingan bersama. Ketika kelompok tertentu menutup ruang konsolidasi atas nama “kubu”, “faksi”, atau “afiliasi kekuasaan”, maka itu adalah pengkhianatan terhadap prinsip dasar organisasi kerakyatan.

Krisis Ideologis: Pengkhianatan terhadap Marhaenisme Bung Karno

Bung Karno pernah mengingatkan, “Perpecahan adalah jalan untuk kalah.” Dan hari ini, kita sedang menuju kekalahan itu jika terus membiarkan perpecahan ini berlangsung.
GMNI lahir dari ideologi Marhaenisme, yang berpijak pada keberpihakan kepada rakyat kecil dan semangat persatuan sebagai kekuatan utama melawan penindasan. Ketika GMNI terpecah oleh kepentingan elit dan kehilangan arah perjuangan, maka yang dikhianati bukan hanya organisasi, tapi juga roh ideologi yang menjadi fondasinya.

Krisis Kaderisasi: Kaderisasi Nol Substansi

Kaderisasi adalah jantung dari organisasi perjuangan. Tanpa sistem kaderisasi yang sehat, terarah, dan ideologis, GMNI hanya akan melahirkan kader-kader yang administratif, elitis, dan kehilangan daya juang. Namun realitas hari ini menunjukkan bahwa kaderisasi dalam GMNI telah kehilangan roh perjuangan. Proses pengkaderan direduksi menjadi agenda formalitas belaka, minim pembinaan ideologi, jauh dari kerja-kerja kerakyatan, dan tidak menyentuh persoalan riil masyarakat.

Baca Juga:   Terpilih dalam Konfercab, Efrem Elman Siarif Ndruru dan Noval Fahrizal Gunawan Resmi Nahkodai DPC GMNI Jaktim Periode 2025-2027

Kongres GMNI XXII, yang seharusnya menjadi ruang untuk mengevaluasi dan memperbaiki sistem kaderisasi, justru menjadi etalase dari kegagalan itu sendiri. Tidak ada perdebatan serius tentang kualitas kurikulum, tidak ada evaluasi terhadap pelaksanaan kaderisasi nasional maupun lokal, dan tidak ada upaya merumuskan arah pembinaan kader di tengah tantangan zaman.

Lebih buruk lagi, proses regenerasi dalam tubuh organisasi dikendalikan oleh kepentingan kelompok, bukan oleh standar nilai dan integritas kader. Kader ditentukan oleh loyalitas semu, bukan oleh kapasitas ideologis dan keberpihakan pada rakyat.

Untuk itu kami menyerukan atas apa yang menjadi kajian lintas komisarisat Se-Bandung Raya sebagai berikut:

1. Seruan DPK-DPK GMNI Se-Bandung untuk membentuk Badan Penyelamat Organisasi (BPO) dari akar dengan keterlibatan DPC/DPD se-Indonesia adalah ekspresi Marhaenisme yang otentik: bahwa kekuatan perubahan datang dari bawah, dari basis, bukan dari struktur atas yang kian kehilangan legitimasi.

2. Seruan DPK-DPK GMNI Se-Bandung untuk penyelamatan kembali ke basis, bersatu atas nama Ideologi GMNI dan harus kembali menjadi alat perjuangan rakyat, bukan alat tawar-menawar elit. Jalan keluar dari krisis ini bukan dengan kompromi struktural semu, tapi dengan membangun ulang kepercayaan dari akar ideologi dan demokrasi organisasi.

3. Seruan DPK-DPK GMNI Se-Bandung untuk rekonsiliasi dari bawah, tanpa syarat dan tanpa diskriminasi, adalah panggilan moral agar organisasi ini kembali ke jalur etikanya; untuk mendidik, bukan mendominasi.

4. DPC GMNI Bandung berkomitmen tidak akan mendistribusikan kepanitian dalam kongres ke-XXII di Bandung sebagai panitia lokal atau apapun, sekalipun ada itu diluar dari kendali dan prinsip kami.

Bubarkan dualisme DPP, bentuk BPO independen dari seluruh daerah ! Laksanakan Konsolidasi Nasional yang terbuka dan ideologis!

Baca Juga:   Membongkar Labirin Impunitas: Blue Wall of Silence dan Normalisasi Kekerasan di Tubuh Polri

Pulihkan kembali GMNI sebagai rumah kader dan gerakan rakyat !

Merdeka…!!!
GMNI…Jaya !!!
Marhaen. Menang !!!

Bandung, 12 Juli 2025


Tertanda: DPC GMNI Bandung, Irfan Ade, Ketua Bagus Surya Nugraha Sekretaris.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Surat Megawati ke Iran Jadi Perhatian Internasional, Pesannya Dinilai Mewakili Suara Moral Indonesia
Kamis, 5 Maret 2026 | 00:38 WIB
DPC GMNI Kolaka Bersama Kapolres Kolaka Gelar Berbagi Takjil dan Buka Puasa Bersama
Rabu, 4 Maret 2026 | 23:53 WIB
DPP GMNI Tolak Klausul Transfer Data dalam Perjanjian Perdagangan Indonesia–Amerika Serikat, Dinilai Ancam Kedaulatan Digital Nasional
Rabu, 4 Maret 2026 | 14:52 WIB
Prof. Arief Hidayat: Putusan MK 71 Teguhkan Prinsip Mens Rea dan Hentikan Ekspansi Tafsir Pasal 21 Tipikor
Rabu, 4 Maret 2026 | 12:15 WIB
Megawati Soekarnoputri Sampaikan Duka Mendalam atas Wafatnya Ayatullah Ali Khamenei
Selasa, 3 Maret 2026 | 18:57 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Kebudayaan dan Sosialisme

Marhaenist.id - Pada 3 Februari 1926, Leon Trotsky memberikan sebuah ceramah berjudul…

Rusaknya Demokrasi, Puan: Karena Rakyat Tak Pernah Berkuasa

MARHAENIST - Banyak kritikan terhadap penyelenggaraan demokrasi di Indonesia yang dianggap telah…

Bangkitnya Massa Marhaen Penentu Kemenangan Ganjar

Banyak kalangan dari kaum Nasionalis menilai bahwa transisi kepemimpinan kali ini punya…

Makan Siang Gratis Tidak Akan Bisa Atasi Stunting

Marhaenist - World Bank atau Bank Dunia menyebut bahwa program makan siang…

GMNI Deklarasikan Manifesto Ekonomi Nasional

Marhaenist.id, Jakarta - Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Indonesia…

Jokowi Contoh Teladan Bapak Nepotisme

Marhaenist.id, Jakarta- Pengamat politik, Eep Saefullah Fatah dalam video terbaru, secara terang-terangan…

Transisi Kabinet

MARHAENIST - Hari-hari terakhir pemerintahan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan reshuffle kabinetnya.…

Gelar Aksi, DPK GMNI UM Buton dan PK IMM Faperta UM Buton Desak Pencopotan Dosen atas Dugaan Pelecehan Seksual

Baubau, Marhaenist.id - Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

UKT Naik, Mahasiswa Tercekik, GMNI Surabaya: Pemerintah Tidak Berpihak Pada Pendidikan

Marhaenist.id, Surabaya - Maraknya gelombang protes mahasiswa akibat melejitnya Uang Kuliah Tunggal…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?