By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Merayakan atau Melupakan Kartini di Tengah Krisis Ruang Aman Perempuan
Nasib Guru Honorer di Tengah Gelombang Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG
Kunjungan Seremonial Kepala BGN di Jember dalam Bayang Bayang
Indikasi Skandal dalam Program makan Bergizi Gratis
Komplikasi Program Makan Bergizi Gratis

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Sudah Sejahterakah Buruh Hari Ini? Telaah Kritis Melalui Perspektif Marxis

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Rabu, 30 April 2025 | 23:09 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Bendera GMNI/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Di tengah kemajuan teknologi, liberalisasi ekonomi, dan pergeseran dunia kerja, pertanyaan klasik ini masih bergema: “Sudah sejahterakah buruh hari ini?” Sebuah narasi dominan yang umumnya akan dijawab “ya” oleh para kapitalis.

Namun, bila kita menelaah dari perspektif Marxis. Kesejahteraan buruh bukan lah sekadar perkara angka-angka di atas kertas, tetapi perkara struktural yang berkaitan erat dengan relasi produksi, kepemilikan alat produksi, dan nilai lebih yang dihasilkan dari kerja mereka.

Latar Belakang Persoalan Kesejahteraan Buruh di Era Modern

Sejak era Revolusi Industri, buruh telah menempati posisi sentral dalam mesin produksi kapitalisme. Mereka menjual tenaga demi bertahan hidup, namun tidak memiliki kuasa atas hasil kerjanya.

Kondisi ini dijelaskan dengan tajam oleh Karl Marx dalam bukunya Das Kapital, bahwa dalam sistem kapitalis buruh tidak pernah benar-benar dibebaskan dari eksploitasi. Mereka menjadi komoditas yang nilainya ditentukan oleh kebutuhan minimum untuk mempertahankan hidup, bukan oleh nilai sejati dari kerja yang mereka berikan.

Memasuki era kontemporer, wajah eksploitasi mengalami perubahan. Dunia kerja kini dihiasi jargon-jargon seperti fleksibilitas, efisiensi, dan inovasi. Namun sebaliknya, struktur pada relasi kuasa yang di pegang oleh Kapitalis tetap tidak berubah.

Realitas buruh hari ini jauh dari gambaran ideal tentang kesejahteraan. Di Indonesia, upah minimum regional masih sering kali tidak memenuhi kebutuhan hidup layak bagi para buruh.

Inflasi terus naik, harga kebutuhan pokok meningkat, sementara upah kerap stagnan. Banyak buruh masih bekerja dalam kondisi tidak pasti ini dengan status kontrak, tanpa jaminan pensiun, dan tanpa perlindungan maksimal dari negara.

Sementara itu, buruh di sektor industri juga menghadapi tantangan serius. Peningkatan jam kerja, beban kerja berlebih, bahkan penghilangan hak-hak normatif dengan alasan efisiensi dan produktivitas menjadi praktik yang semakin umum ditemui oleh para buruh selama bekerja. Serikat pekerja juga tak luput dari upaya pelemahan melalui berbagai mekanisme, baik secara hukum maupun sosial, menjadikan posisi buruh semakin terasingkan (alienasi) dari posisi idealnya.

Baca Juga:   Kenapa Harus Adili Jokowi?

Strategi Kooptasi dan Ilusi Kesejahteraan

Salah satu kekuatan utama kapitalisme modern bukan hanya pada kontrol ekonomi, tetapi juga pada kemampuannya membangun kesadaran semu (false consciousness). Buruh tidak hanya dieksploitasi secara material, tetapi juga dimanipulasi secara ideologis. Mereka dibentuk untuk percaya bahwa kerja keras akan membawa kesejahteraan pribadi. Mereka disuguhi narasi tentang meritokrasi, mobilitas sosial, dan mimpi menjadi “orang sukses”.

Kooptasi ini juga hadir dalam bentuk corporate social responsibility (CSR), penghargaan karyawan terbaik, atau program kesejahteraan semu yang disponsori perusahaan. Padahal semua itu hanyalah mekanisme untuk memperhalus dominasi, bukan mengubah struktur relasi kerja. Negara pun berperan dalam memperkuat strategi ini melalui regulasi-regulasi yang condong pada kepentingan modal, seperti UU Omnibuslaw, & UU Minerba yang justru mempermudah pemutusan hubungan kerja dan mengurangi hak-hak dasar buruh.

Di sisi lain serikat buruh kerap dilemahkan bukan hanya melalui represi langsung, tapi juga melalui kooptasi ideologis. Serikat dijinakkan, diarahkan untuk menjadi bagian dari sistem manajerial, bukan sebagai alat perjuangan kelas. Hal ini menyebabkan buruh kehilangan saluran perjuangan yang sejati.

Perlawanan dan Alternatif Menuju Kesejahteraan

Dalam perspektif Marxis, perjuangan buruh bukan hanya untuk kenaikan upah atau perbaikan kondisi kerja, tapi untuk membangun tatanan sosial alternatif. Masyarakat tanpa kelas, di mana alat produksi dikuasai secara kolektif dan hasil kerja dibagikan berdasarkan kebutuhan. Ini bukan mimpi utopis, melainkan cita-cita revolusioner yang berpijak pada logika pembebasan dari alienasi dan dominasi modal.

Alternatif jangka pendek bisa meliputi penguatan serikat buruh independen, aliansi lintas sektor pekerja, serta perjuangan hukum yang berpihak pada buruh. Namun alternatif jangka panjang menuntut transformasi radikal atas struktur ekonomi dan politik. Sebuah Project Sosialisme yang memberikan kontrol atas produksi dan distribusi pada kelas pekerja itu sendiri.

Baca Juga:   Keraton Surakarta dan Gagasan Negara Kebudayaan Soekarno

Sudah sejahterakah buruh hari ini?

Menjawab pertanyaan “Sudah sejahterakah buruh hari ini?” memerlukan niat yang besar untuk melihat realitas secara keseluruhan. Di balik narasi kesejahteraan, tersembunyi sistem kerja yang masih menjadikan buruh sebagai komoditas untuk akumulasi modal. Perspektif Marxis membantu kita memahami bahwa persoalan ini tidak akan selesai hanya dengan perbaikan kosmetik, tetapi harus melalui perubahan sistemik.

Kesejahteraan sejati bagi buruh bukan sekadar soal angka upah atau jaminan sosial, tetapi soal penghapusan eksploitasi, penguasaan kolektif atas alat produksi, dan pembebasan manusia dari sistem kerja yang menindas.

Maka, selama kapitalisme masih menjadi fondasi sistem ekonomi, perjuangan buruh akan terus relevan sebagai bagian dari upaya panjang menuju masyarakat yang lebih adil.***


Penulis: DPC GMNI Balikpapan. Tulisan ini ditulis berdasarkan hasil Kajian DPC GMNI Balikpapan pada Tanggal 27 April 2025.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Merayakan atau Melupakan Kartini di Tengah Krisis Ruang Aman Perempuan
Sabtu, 18 April 2026 | 10:23 WIB
Nasib Guru Honorer di Tengah Gelombang Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG
Sabtu, 18 April 2026 | 10:01 WIB
Kunjungan Seremonial Kepala BGN di Jember dalam Bayang Bayang
Sabtu, 18 April 2026 | 09:57 WIB
Indikasi Skandal dalam Program makan Bergizi Gratis
Sabtu, 18 April 2026 | 09:53 WIB
Komplikasi Program Makan Bergizi Gratis
Sabtu, 18 April 2026 | 09:42 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Dukung Wacana Pembentukan Zaken Kabinet di Pemerintahan Prabowo, Inilah Kata DPP GMNI!

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Menjadi Negeri Para Jenderal, Firman Tendry Masengi Kritik Dominasi Militer dalam Ruang Publik dan Politik Nasional

Marhaenist.id, Jakarta - Advokat sekaligus alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Firman…

Kedepankan Spirit Gotong-Royong, GMNI Resmi Terbentuk di Bumi Lamaranginang

MARHAENIST - Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Indonesia Luwu Utara menggelar Pekan…

Alumni GMNI Ingatkan Gagasan Soekarno untuk Mengatasi Situasi Global

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

DPD GMNI Malut Desak Forum Nasional Komunikasi Persatuan Dorong KLB Sebagai Jalan Penyelamatan Organisasi

Marhaenist.id, Malut — Dinamika internal Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) kian mengkhawatirkan.…

GMNI UM-Purwokerto Ditribusikan Kadernya Menjadi Tim Pemantau Pilkada Banyumas 2024

Marhaenist.id, Purwokerto - Kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Universitas Muhammadiyah Purwokerto…

Agama Pembebasan: Melawan Kesalehan yang Membunuh Kemanusiaan

Marhaenist.id - Di tengah gegap gempita kesalehan yang dipajang seperti etalase perhiasan,…

Atatürk, Prabowo, dan Arah Baru Geopolitik Indonesia: Membaca Sinyal Negara Kuat di Tengah Turbulensi Global

Marhaenist.id - Kekaguman Prabowo Subianto terhadap Mustafa Kemal Atatürk tidak dapat dibaca…

Pernyataan Sikap GMNI Se-Indonesia: Sukseskan Konsolidasi KLB GMNI, Kongres di Bandung bukanlah Solusi Persatuan!

Marhaenist.id - Menyimak dinamika organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) akhir-akhir ini…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?