By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Selamat Datang di “AI New Normal”
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Sukarnoisme

Saat Bokek, Soekarno Sering Minta Duit ke Temannya Yang Kaya Ini

Marhaenist ID
Marhaenist ID Diterbitkan : Kamis, 4 Juli 2024 | 15:38 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Presiden Soekarno dan PM Zhou Enlai pada kunjunganya yang pertama kali ke RRC tahun 1956. FILE/Marhaenist
Bagikan

Marhaenist – Semua orang mengetahui bahwa Soekarno adalah salah satu tokoh sentral dalam pergerakan mengusir penjajah hingga terwujudnya kemerdekaan Indonesia.

Daftar Konten
Crazy Rich SumatraSumber Uang Soekarno

Akan tetapi, proses itu semua tak hanya modal dengkul dan otak. Satu hal yang seringkali luput adalah terkait pendanaan. Sebagai manusia, Soekarno juga butuh uang untuk hidup sehari-hari.

Dia memang pernah bekerja sebagai guru hingga arsitek, tapi itu tak membuatnya cukup. Di masa kolonial, Soekarno lebih sering tak punya uang alias bokek. Pada kondisi ini, dia beruntung ada seorang pengusaha kaya raya yang menjadi sumber uang bagi dirinya.

Crazy Rich Sumatra

Agoes Moesin Dasaad lahir di Filipina, 25 Agustus 1905. Saat usia 1 tahun dia pindah ke Lampung, kota yang kelak jadi tempat bernaung seumur hidup. Di kota ini pula, saat usia belasan tahun, dia berdagang hasil bumi hingga Palembang.

Dari perdagangan biasa Dasaad kemudian mendirikan perusahaan sendiri pada 1921. Namanya, Dasaad Moesin Concern.

Sejarawan Mestika Zed dalam Kepialangan Politik dan Revolusi Palembang 1900-1950 (2003) menceritakan, perusahaan Dasaad dengan cepat tumbuh besar hingga Asia Tenggara dan Afrika. Selain itu dia juga sukses menjalin kerjasama dengan perusahaan Jepang. Sementara di Indonesia, cabang perusahaannya tersebar luas di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, hingga Solo.

Kebesaran bisnis praktis membuat harta pribadi Dasaad bertambah.

Mestika Zed mencatat kalau Dasaad menyandang gelar sebagai salah satu miliuner asal Sumatra sampai tahun 1942. Namanya juga dikelompokan sebagai pengusaha pribumi terbesar di era penjajahan Belanda.

Sumber Uang Soekarno

Sebagai orang asli Indonesia, Dasaad juga ingin Tanah Airnya merdeka. Dia lantas memanfaatkan pengaruhnya di dunia pergerakan nasional. Tak hanya lewat politik, tapi juga secara ekonomi, yakni aktif sebagai sumber uang atau donatur bagi tokoh sentral, seperti Soekarno.

Baca Juga:   Ironi Proklamator Kemerdekaan yang Diakhir Hayatnya Malah Diperkosa Kemerdekaannya

Soekarno, yang sering dikejar-kejar kompeni, mengaku tak mementingkan uang. Dia pernah berkata dalam otobiografinya “hanya kemerdekaan yang membuat aku hidup.” Namun, kita semua tahu itu hanya retoris saja.

Faktanya, sebagai manusia biasa dia membutuhkan uang untuk hidup. Di kondisi inilah secercah harapan dimunculkan oleh Dasaad. Dia secara sukarela menjadi donatur Soekarno. Pria kelahiran 1901 itu masih ingat bagaimana Dasaad yang belum pernah bertemu menyelamatkan hidupnya sesaat setelah keluar penjara pada 1931.

“Pagi-pagi ketika aku berjalan keluar dari penjara sebagai orang bebas, seorang laki-laki yang belum pernah kulihat sebelumnya, memasukkan ke genggamanku uang 400 rupiah begitu saja, karena dia tahu aku tak punya uang,” kata Soekarno dalam otobiografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965).

Dia lantas mengetahui bahwa laki-laki misterius itu adalah Dasaad, orang terkaya di Indonesia. Dari perkenalan itu keduanya menjadi sahabat akrab. Hubungannya berlanjut di ranah politik. Dasaad menjadi tokoh Badan Usaha Penyelidikan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Sedangkan, kita semua tahu Soekarno jadi Presiden.

Persahabatan ini terjalin juga dalam relasi ekonomi. Dasaad jadi salah satu orang yang sering bolak-balik Istana Negara, sehingga mendapat julukan pengusaha Istana. Saat itu dia memang sedang berjaya. Peter Post dalam “The Formation of the Pribumi business élite in Indonesia, 1930s-1940s” (1996) menyebut Dasaad dan keluarganya masuk dalam jajaran orang terkaya Indonesia tahun 1950-an.

Sekalipun sudah jadi penguasa, Soekarno mengaku masih sering meminta tolong kepada Dasaad kalau dana pribadinya habis. Maksudnya, tentu saja berhadap dikirimi uang. Hal ini diungkapkan sendiri saat diwawancara jurnalis AS, Cindy Adams, untuk penulisan buku biografinya pada 1964.

“Sekarang, aku masih saja minjam kepadannya,” kata Soekarno.

Kendati disebut “minjam”, pemberian Dasaad kepada Soekarno tak dianggapnya sebagai piutang. Dia ikhlas menjadi sumber harta bagi Soekarno. Menurut Soekarno, “Dia tak pernah berharap akan memperolehnya kembali. Tentang uang, dia benar-benar tak pernah menerima uang itu kembali.”

Baca Juga:   Historical: Pidato Bung Karno Saat Hari Natal

Loyalitas serupa dilakukan pengusaha Lampung itu kepada para pejuang lain. Diketahui, dia sering membagikan uang kepada teman-teman dan banyak organisasi kemanusiaan sampai akhir hayatnya pada 11 November 1970. Disarikan dari berbagai sumber.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
Minggu, 22 Februari 2026 | 21:23 WIB
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:25 WIB
Selamat Datang di “AI New Normal”
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:06 WIB
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Sabtu, 21 Februari 2026 | 22:13 WIB
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!
Sabtu, 21 Februari 2026 | 11:25 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Suharto dan Gelar Pahlawan: Penghargaan atau Penghinaan bagi Sejarah?

Marhaenist.id - Soeharto, nama yang sudah menjadi sebuah monumen yang terbuat dari…

Arief Hidayat Terpilih Sebagai Ketua Umum PA GMNI 2021-2026

Marhaenist - Kongres IV Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia memilih secara…

Perajin membersihkan kedelai di salah satu rumah industri di Jakarta, Kamis (6/10). Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu dan Tempe Indonesia (Gakopindo) Aip Syarifuddin mengatakan kenaikan harga kedelai impor satu bulan terakhir rata-rata berada di kisaran Rp6.900 - Rp7.000 per kilogram di tingkat koperasi yang sebelumnya Rp6.300 - Rp6.500 sedangkan harga di pasaran lebih tinggi yakni Rp10.597 per kilogramnya. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/pras/16.

Berhenti Mendewakan Investasi Asing, Pembangunan Harus Bertumpu Pada Kekuatan Rakyat

Marhaenist.id - Selama bertahun-tahun, pemerintah baik pusat maupun daerah, kerap menjadikan masuknya…

Lagi Viral, Tren Pengibaran Bendera One Piece adalah Simbol Keresahan Rakyat terdahap Pemerintah

Marhaenist.id - Menjelang peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia, media sosial diramaikan oleh…

Innalillahi, Hamzah Haz Wapres ke 9 RI Meninggal Dunia di Usia 84 Tahun Hari Ini

Marhaenist - Kabar duka datang dari Tanah Air. Wakil Presiden ke-9 RI…

(Refleksi 80 Tahun Indonesia Merdeka) Bukan Emas, Melainkan Indonesia (C)emas: Indonesia Menuju Kehancuran Raya

Marhaenist.id - Tidak terasa Indonesia sudah memasuki usia yang cukup tua dalam…

Aku Lelah, Mencintaimu adalah Tindakan Masokis

Marhaenist.id- Mencintaimu adalah ibadah paling melelahkan yang pernah aku jalani. Ia bukan…

DPP PA GMNI Salurkan Bantuan Gempa ke Pasaman dan Pasaman Barat

Marhaenist - Dewan Pengurus Pusat Persatuan Alumni (DPP PA) GMNI menyalurkan bantuan…

Fufufafa Siapakah Kamu Sebenarnya, Gibran Bukan Sih?

MARHAENIST - Teka-teki soal siapa pemilik akun Kaskus Fufufafa yang menghina habis-habisan…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?