By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
DPP GMNI Desak DPR RI Segera Sahkan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga
Geopolitik Pangan: Entok, Limbah Pangan, dan Masa Depan Kedaulatan Pangan Nusantara
Hadiri Kaderisasi GMNI, Bawaslu Kota Bekasi Ajak Mahasiswa Cermat Menyaring Informasi di Tengah Maraknya Hoaks
Di Forum MKRI–MK Mesir, Prof. Arief Hidayat Angkat Marhaenisme sebagai Etika Konstitusi
DPD GMNI DKI Jakarta Gelar Konferensi Daerah Pertama, Usung Tema Transformasi Jakarta Menuju Kota Global

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Keraton Surakarta dan Gagasan Negara Kebudayaan Soekarno

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Senin, 19 Januari 2026 | 21:12 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Foto: Ilustrasi Keraton Surakarta dan Gagasan Negara Kebudayaan Soekarno (Sumber: AI)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Keributan yang terjadi dalam prosesi penyerahan Surat Keputusan Menteri Kebudayaan Nomor 8 Tahun 2026 di lingkungan Keraton Surakarta bukan sekadar peristiwa adu mulut antar kerabat istana.

Ia adalah peringatan geopolitik budaya bagi Indonesia pasca-2024: bahwa negara masih kerap salah membaca kebudayaan sebagai urusan administratif, bukan sebagai ruang legitimasi yang hidup.

Apa yang tampak sebagai konflik internal keraton sejatinya adalah benturan antara logika negara modern dan struktur legitimasi Nusantara, benturan lama yang berakar jauh ke sejarah Kerajaan Mataram.

Sejarah Mataram Islam menunjukkan bahwa kekuasaan di Nusantara tidak pernah berdiri semata di atas hukum atau kekuatan koersif, melainkan di atas legitimasi simbolik. Perjanjian Giyanti (1755) tidak hanya memecah wilayah, tetapi memecah sumber pengakuan kekuasaan itu sendiri.

Sejak saat itu, konflik di lingkungan keraton bukan lagi soal siapa yang paling berhak, melainkan siapa yang diakui. Kolonialisme Belanda memperparah fragmentasi tersebut melalui politik pengakuan selektif, pola yang ironisnya masih sering direproduksi negara modern secara tidak sadar.

Keraton Surakarta hari ini adalah sisa sejarah yang belum benar-benar dipulihkan.

Soekarno memahami betul bahwa Indonesia bukan negara yang lahir dari kekosongan budaya. Ia menyebut Indonesia sebagai negara kebudayaan, bukan sekadar negara hukum atau negara kekuasaan. Dalam pandangannya, kebudayaan adalah sumber legitimasi, bukan ornamen pelengkap.

Negara, bagi Soekarno, harus melindungi dan merawat ruang hidup kebudayaan, bukan menguasainya. Ketika negara memaksakan otoritas administratif tanpa penerimaan kultural, legitimasi justru melemah.

Di sinilah jarak antara gagasan Soekarno dan praktik kebijakan kebudayaan kontemporer semakin terasa.

Dalam konteks Nusantara, Surat Keputusan negara tidak pernah netral secara budaya. Ia adalah instrumen geopolitik yang menentukan siapa yang diakui, siapa yang diberi mandat, dan siapa yang terpinggirkan.

Baca Juga:   Didingklik: Wajah Baru Layanan Digital bagi Pelayanan Publik dan Tata Kelola Daerah di Pandeglang

Penyerahan SK Menteri Kebudayaan di Keraton Surakarta, yang berujung pada konflik terbuka, menunjukkan bahwa negara masuk ke ruang budaya tanpa rekonsiliasi simbolik. Negara hadir sebagai pengambil keputusan, bukan sebagai penjaga keseimbangan.

Adu mulut antar GKR dalam prosesi tersebut bukan penyimpangan etika semata, melainkan tanda krisis legitimasi yang belum disembuhkan.

Indonesia pasca-2024 menghadapi konsolidasi kekuasaan politik dan tantangan geopolitik global. Dalam situasi ini, kebudayaan kerap direduksi menjadi alat stabilisasi atau proyek administratif.

Risikonya nyata:

* Negara menjadi produsen legitimasi tunggal.
* Keraton dan komunitas adat diperlakukan sebagai objek pengelolaan, bukan subjek sejarah.
* Intervensi administratif justru memicu konflik laten.

Kasus Keraton Surakarta memperlihatkan bahwa kebijakan yang tidak peka budaya bukan menenangkan keadaan, tetapi memperuncingnya.

Jika Indonesia ingin kembali pada semangat Soekarno, maka kebijakan kebudayaan nasional pasca-2024 harus berpijak pada prinsip geopolitik Nusantara:

– Pertama, negara sebagai penjamin ruang budaya, bukan penentu makna tunggal.

– Kedua, rekonsiliasi simbolik harus mendahului keputusan administratif.
Ketiga, keraton dan entitas budaya hidup tidak dapat diperlakukan seperti institusi birokrasi biasa.

– Keempat, netralitas negara harus diwujudkan melalui kepekaan budaya, bukan sekadar klaim prosedural.
Tanpa prinsip ini, negara akan terus mengulang kesalahan lama dengan wajah baru.

Keraton Surakarta bukan masalah masa lalu, melainkan ujian arah masa depan kebijakan kebudayaan nasional. Apakah Indonesia akan menjadi negara beradab budaya, sebagaimana dicita-citakan Soekarno, atau negara administratif yang mengelola warisan tanpa memahami ruhnya?

Sejarah Mataram mengajarkan bahwa kekuasaan yang kehilangan legitimasi budaya hanya akan melahirkan konflik berulang. Jika negara gagal belajar, maka setiap SK hanya akan menjadi bab baru dalam luka lama.

Geopolitik Nusantara menuntut negara yang kuat secara hukum, tetapi rendah hati di hadapan sejarah dan kebudayaan bangsanya sendiri.***

Baca Juga:   Sekilas Memaknai Hari Buruh

Penulis: Bayu Sasongko, Alumni GMNI, Pengamat Budaya Geopolitik Nusantara.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

DPP GMNI Desak DPR RI Segera Sahkan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga
Senin, 26 Januari 2026 | 23:10 WIB
Geopolitik Pangan: Entok, Limbah Pangan, dan Masa Depan Kedaulatan Pangan Nusantara
Senin, 26 Januari 2026 | 22:59 WIB
Hadiri Kaderisasi GMNI, Bawaslu Kota Bekasi Ajak Mahasiswa Cermat Menyaring Informasi di Tengah Maraknya Hoaks
Senin, 26 Januari 2026 | 03:18 WIB
Di Forum MKRI–MK Mesir, Prof. Arief Hidayat Angkat Marhaenisme sebagai Etika Konstitusi
Minggu, 25 Januari 2026 | 19:29 WIB
DPD GMNI DKI Jakarta Gelar Konferensi Daerah Pertama, Usung Tema Transformasi Jakarta Menuju Kota Global
Minggu, 25 Januari 2026 | 18:18 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Konferda GMNI Sumut Dinilai Kehilangan Arah Ideologis: Kader Soroti Intervensi Senior dan Mandeknya Sidang

Marhaenist.id, Medan- Konferensi Daerah (Konferda) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sumatera Utara…

Meredam Egoisme antar Komisariat di GMNI: Meniti Jalan Bersama Menuju Tujuan Besar

Marhaenist.id - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) merupakan organisasi mahasiswa yang memiliki…

Jokowi Kecam Israel Atas Pembunuhan Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh

Marhaenist - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengecam keras pembunuhan pemimpin Hamas Ismail…

Jelang Pesta Demokrasi, GMNI Ajak Masyarakat Kawal Pilkada Damai di Wakatobi

Marhaenist.id, Wanci - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Pekerja PT BMS Alami Kecelakan Kerja, Ini Respon GMNI Palopo!

Marhaenist.id, Palopo - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Chip War dan Geopolitik Laut China Selatan: Paradigma Baru Gerakan Non-Blok

Marhaenist.id - Perairan Laut China Selatan selalu menjadi “palagan geopolitik” yang terus…

Ahmad Basarah Resmi Ditunjuk Jadi Jubir PDIP, Inilah Tugasnya!

Marhaenist.id, Jakarta - Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan…

Kecam Dualisme yang Belum Berakhir, DPC GMNI Kendari Desak Dilaksanakan Kongres Persatuan

Marhaenist.id, Kendari - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

PPAB Ke-2 GMNI Situbondo Sukses Digelar Meriah, Irham Kahfi Sampaikan Pesan Penting untuk Kader Muda

Marhaenist.id, Situbondo — Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Situbondo kembali mencatatkan…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?