
Marhaenist.id – Enam puluh tahun silam, sebuah peristiwa diplomatik yang sarat rasa dan makna tercatat dalam sejarah Asia Tenggara. Seorang pemimpin revolusi Vietnam, Ho Chi Minh, menapakkan kaki di Indonesia, yaitu negeri pertama di kawasan ini yang ia kunjungi pasca kemenangan bersejarah di Dien Bien Phu tahun 1954. Indonesia bukan sekadar tujuan diplomatik, melainkan rumah persahabatan.
Akhir Februari 1959, rakyat Indonesia menyaksikan sosok sederhana dengan janggut memutih dan senyum hangat turun dari pesawat di Bandara Kemayoran, Jakarta. Sambutan meriah mengalir dari hati ke hati. Presiden pertama Indonesia, Soekarno, menyambutnya bukan sebagai tamu negara biasa, melainkan sebagai saudara, yaitu “Paman Ho”. Sebutan itu pun dibalas penuh keakraban: “Bung Karno”.
Dalam pidato penyambutan yang menggetarkan, Bung Karno menyuarakan kekaguman bangsa Indonesia terhadap Paman Ho, yaitu seorang pejuang kemerdekaan, penentang kolonialisme dan imperialisme, serta simbol perjuangan keadilan sosial. Dari Sabang sampai Merauke, rakyat Indonesia mengenal dan menghormatinya.
Selama sepuluh hari di Indonesia, Paman Ho menjelajah Jakarta, Bandung, Medan, Bali, hingga Surabaya, yaitu kampung halaman Bung Karno. Di setiap kota, pekik persahabatan menggema: “Hidup Paman Ho! Hidup Vietnam–Indonesia!” Ia bahkan berpidato di hadapan DPR Indonesia, menegaskan kesamaan nasib dan cita-cita kedua bangsa. Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945; setengah bulan kemudian, 2 September 1945, Vietnam menyusul melahirkan Republik Demokrasi Vietnam.
Persaudaraan itu bukan simbol semata. Paman Ho menjalin ikatan keluarga dengan Bung Karno dan mengangkat putrinya, Megawati, sebagai anak angkat, sebuah gestur yang menegaskan kedekatan personal di balik diplomasi.
Tiga bulan berselang, giliran Bung Karno berkunjung ke Vietnam (24–26 Juni 1959). Setibanya di bandara, ia berseru lantang, “Selamat datang, kakak sulungku!”, lalu memeluk Paman Ho. Sambutan rakyat Vietnam membanjir dari kota hingga desa, dari sekolah hingga pabrik, dari barak tentara hingga alun-alun. Hanoi bergemuruh oleh kehadiran sahabat besar bangsa Vietnam.
Di hadapan jutaan warga, Paman Ho mengutip bait puisi rakyat Vietnam, yaitu Puisi Kieu yang kemudian abadi dalam sejarah persahabatan kedua bangsa:
Jauh di mata, dekat di hati
Teman sejati, saudara sejati
Ia menutup dengan seruan persatuan yang menggugah:
Bersatu, bersatu, dan bersatu,
Kesulitan apa pun dapat kita atasi,
Musuh mana pun dapat kita kalahkan,
Kemenangan sebesar apa pun dapat kita raih.
Pada 27 Juni 1959, Paman Ho menganugerahkan Bintang Perlawanan Kelas Satu kepada Bung Karno. Terharu, Bung Karno membalas dengan keyakinan mendalam, yaitu bangsa Vietnam dengan rakyat, semangat, dan pemimpin seperti itu pasti menang. Sebelum kembali, ia mengangkat tangan tinggi-tinggi dan berseru, “Hidup Vietnam!”
Takdir kemudian memisahkan mereka. Paman Ho wafat pada 2 September 1969; setahun kemudian, 21 Juni 1970, Bung Karno menyusul. Namun persahabatan yang mereka rajut tak pernah padam. Fondasi itu terus hidup dalam hubungan diplomatik Vietnam–Indonesia yang kini hampir 65 tahun, berkembang menjadi kemitraan strategis dan kerja sama lintas bidang.
Hari ini, Vietnam dan Indonesia berdiri sebagai sahabat di kawasan, sebuah warisan persaudaraan yang lahir dari perjuangan, diperkuat oleh rasa, dan dirangkum indah dalam satu kalimat abadi: jauh di mata, dekat di hati.***
Sumber: Facebook Ragam Fakta.