By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
IHSG, MSCI, dan Ekonomi Rakyat: Membaca Risiko Pasar Global dalam Tafsir Marhaenisme Nusantara
Solidaritas Padang Halaban Desak Gubernur Sumatera Utara Lakukan Mediasi Konflik Agraria
Penggusuran di Padang Halaban Oleh PT. SMART di Bawah Pengawalan Aparat adalah Bukti Keberpihakan Negara kepada Korporat
Waketum DPP GMNI: Sugiono Punya Modal Lengkap Pimpin Menko PMK
Eko-Marhaenisme Menagih Janji, Keadilan Sosial dalam Luka Ekologi Krisis Pesisir Tulungagung

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Indonesia di Persimpangan Geopolitik: Peluang dan Tantangan Dalam Menjalin Kerja Sama Dengan Uni Eropa

Marhaenist ID
Marhaenist ID Diterbitkan : Minggu, 9 Februari 2025 | 14:43 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Bendera Uni Eropa. Getty Images
Bagikan

Marhaenist.id – Pernyataan Kanselir Jerman Olaf Scholz di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos (22/01/2025) mengenai potensi kerja sama ASEAN dan Uni Eropa mencerminkan upaya Eropa untuk memperluas aliansi ekonomi dan geopolitiknya. Pernyataan ini muncul dalam konteks meningkatnya ketidakpastian global akibat perang dagang, ketegangan geopolitik, serta perubahan kepemimpinan yang terjadi di Amerika Serikat.

Daftar Konten
Faktor Pendorong Kerja Sama ASEAN-Uni EropaKonsekuensi Yang Mungkin TimbulDampak dan Peluang Bagi IndonesiaTantangan yang Harus Dihadapi IndonesiaStrategi Indonesia ke Depan

Scholz menyampaikan bahwa ASEAN memiliki potensi besar untuk bekerja sama dengan Uni Eropa, baik dalam perdagangan, investasi, maupun isu-isu strategis seperti transisi energi dan stabilitas global. Pernyataan ini dapat dimaknai sebagai respons terhadap beberapa faktor utama:

Faktor Pendorong Kerja Sama ASEAN-Uni Eropa

1. Menurunnya Ketergantungan pada China

Uni Eropa ingin mengurangi ketergantungan ekonominya pada China, terutama dalam rantai pasok manufaktur dan bahan baku kritis. ASEAN, sebagai kawasan dengan ekonomi yang berkembang pesat, menjadi alternatif penting.

2. Ancaman Kebijakan Proteksionis AS di Bawah Trump

Donald Trump kembali ke Gedung Putih, kebijakan America First bisa menyebabkan AS menarik diri dari komitmen perdagangan global dan meningkatkan proteksionisme. Hal ini dapat mendorong Eropa untuk mencari mitra dagang baru guna menjaga stabilitas ekonominya. ASEAN menjadi pilihan yang masuk akal karena posisinya sebagai kawasan dengan pertumbuhan ekonomi tinggi dan pasar yang luas.

3. Dinamika Keamanan Global
Dengan ketegangan di Ukraina dan meningkatnya persaingan antara AS dan China, Eropa ingin memperkuat hubungan dengan negara-negara yang relatif netral dan memiliki kepentingan strategis dalam geopolitik global, seperti ASEAN.

Konsekuensi Yang Mungkin Timbul

Jika Uni Eropa benar-benar meningkatkan kerja sama dengan ASEAN, ada beberapa konsekuensi yang mungkin terjadi:

Baca Juga:   Menjelang Kemerdekaan RI Ke 80 Dibawah Banyang-Banyang Premanisme dan Distopia Orwellian

1. Pergeseran Investasi ke ASEAN

Jika Uni Eropa mulai mengalihkan investasinya dari China ke ASEAN, negara-negara seperti Indonesia, Vietnam, dan Thailand bisa mendapatkan keuntungan besar. Namun, ini juga bisa memicu persaingan ketat antarnegara ASEAN untuk menarik investasi.

2. Ketegangan dengan AS

Jika Eropa semakin mendekat ke ASEAN, AS mungkin melihat ini sebagai tantangan terhadap dominasi ekonominya di kawasan. AS bisa meningkatkan tekanannya pada negara-negara ASEAN agar tetap dalam orbit pengaruhnya.

3. Reaksi dari China

China kemungkinan akan merespons dengan memperkuat kerja sama ekonominya di kawasan melalui Belt and Road Initiative (BRI) atau strategi perdagangan lainnya untuk memastikan ASEAN tetap dalam lingkup pengaruhnya.

Foto: Dr. med. vet. Rudi Samapati, Alumni GMNI, FKH UGM/MARHAENIST.

Dampak dan Peluang Bagi Indonesia

Jika Uni Eropa benar-benar ingin mempererat kerja sama dengan ASEAN, Indonesia bisa mendapat manfaat besar, tetapi juga menghadapi beberapa tantangan:

Peluang bagi Indonesia

1. Diversifikasi Mitra Ekonomi dan Investasi

Dengan meningkatnya ketegangan antara AS dan Eropa, serta kebijakan proteksionis yang lebih kuat dari Washington, negara-negara Eropa bisa mencari alternatif mitra dagang dan investasi. Indonesia dengan ekonominya yang besar dan sumber daya alam yang melimpah dapat menjadi tujuan utama. Ini bisa mempercepat perundingan Indonesia-EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang saat ini masih tertunda.

2. Peningkatan Kerja Sama dalam Teknologi Hijau

Uni Eropa sedang mendorong agenda transisi energi dan ekonomi hijau. Dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi dalam sektor energi terbarukan, terutama dalam pengembangan hilirisasi nikel untuk baterai EV, biofuel, dan energi terbarukan lainnya.

3. Peningkatan Peran Geopolitik Indonesia di ASEAN

Jika Jerman dan Uni Eropa lebih fokus ke ASEAN sebagai mitra strategis untuk mengimbangi kebijakan AS dan China, maka posisi Indonesia sebagai pemimpin ASEAN akan semakin kuat. Bisa membuka ruang bagi peningkatan kerja sama di bidang perdagangan, pertahanan, dan infrastruktur.

Baca Juga:   Teror Bukan Bantahan: Ketika Kritik Dibalas Intimidasi dan New Orde Baru Muncul 

4. Dukungan terhadap Energi Terbarukan dan Ekonomi Hijau

Uni Eropa akan lebih terbuka terhadap investasi di sektor energi hijau dan berkelanjutan, seperti pembangunan PLTS, bioenergi, dan pengelolaan sumber daya secara lebih ramah lingkungan. Mendorong Indonesia untuk semakin serius mengembangkan kebijakan terkait energi terbarukan.

Tantangan yang Harus Dihadapi Indonesia

1. Tekanan dari AS dan China

Jika Indonesia semakin dekat dengan Uni Eropa, AS dan China bisa meningkatkan tekanan agar Indonesia tetap dalam orbit mereka. Ini bisa terjadi dalam bentuk kebijakan perdagangan atau diplomasi ekonomi yang lebih agresif.

2. Regulasi Uni Eropa yang Ketat

Uni Eropa memiliki standar lingkungan dan hak asasi manusia yang tinggi, yang bisa menjadi hambatan bagi beberapa ekspor Indonesia, terutama sawit dan produk berbasis sumber daya alam lainnya.

3. Persaingan di ASEAN

Indonesia harus bersaing dengan negara-negara ASEAN lainnya, seperti Vietnam dan Thailand, yang juga ingin menarik investasi dari Uni Eropa.

Strategi Indonesia ke Depan

Pernyataan Olaf Scholz bukan sekadar pernyataan diplomatik biasa, tetapi mencerminkan strategi Uni Eropa dalam menghadapi tantangan geopolitik global, terutama kembalinya Trump dan kebijakan proteksionis AS. Indonesia harus melihat ini sebagai peluang untuk memperkuat hubungan ekonomi dengan Uni Eropa, tetapi juga harus berhati-hati dalam menjaga keseimbangan hubungan dengan AS dan China.

Strategi terbaik bagi Indonesia adalah:

Mempercepat IEU-CEPA untuk mengamankan posisi dalam rantai pasok Eropa.
Mengembangkan sektor energi hijau sebagai daya tarik utama bagi investasi Eropa.
Menyeimbangkan hubungan dengan AS dan China agar tidak terjebak dalam perang dagang.
Memanfaatkan posisi di ASEAN untuk memperkuat daya tawar dalam negosiasi global.
Menjaga fleksibilitas diplomatik agar Indonesia tetap bisa berperan sebagai pemain utama di antara kekuatan besar.

Baca Juga:   Pilkada Melalui DPRD: Ancaman Sentralisme Kekuasaan dan Lonceng Kematian Demokrasi Lokal

Dengan pendekatan yang tepat, Indonesia bisa menjadi salah satu pemain utama dalam dinamika geopolitik baru ini.***


Penulis: Dr. med. vet. Rudi Samapati, Alumni GMNI, FKH UGM. Penulis kini tinggal di Berlin, Jerman.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

IHSG, MSCI, dan Ekonomi Rakyat: Membaca Risiko Pasar Global dalam Tafsir Marhaenisme Nusantara
Jumat, 30 Januari 2026 | 19:47 WIB
Solidaritas Padang Halaban Desak Gubernur Sumatera Utara Lakukan Mediasi Konflik Agraria
Jumat, 30 Januari 2026 | 16:22 WIB
Penggusuran di Padang Halaban Oleh PT. SMART di Bawah Pengawalan Aparat adalah Bukti Keberpihakan Negara kepada Korporat
Jumat, 30 Januari 2026 | 13:58 WIB
Waketum DPP GMNI: Sugiono Punya Modal Lengkap Pimpin Menko PMK
Jumat, 30 Januari 2026 | 05:16 WIB
Foto: Krisna Wahyu Yanuar, Aktivis Literasi dan Gerakan Rakyat Kedaulatan Laut (Dokpri)/MARHAENIST.
Eko-Marhaenisme Menagih Janji, Keadilan Sosial dalam Luka Ekologi Krisis Pesisir Tulungagung
Kamis, 29 Januari 2026 | 23:32 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Rezim Jokowi Sudah Jatuh Secara Moral dan De Facto

Tidak Diperlukan Lagi Pemilu, Tetapi Pemerintahan Transisi! Marhaenist.id - Walau sesungguhnya telah…

Maraknya Politik Uang di Pilkada Ini Kata Bawaslu DKI Jakarta

Marhaenist.id, Jakarta- Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DKI menilai penanganan politik uang menjadi…

1 Juni dan Panggilan Sejarah: GMNI Harus Menjadi Teladan Persatuan

Marhaenist.id - Hari Lahir Pancasila setiap 1 Juni adalah pengingat historis sekaligus…

Bulan Bung Karno: Ini Bukan tentang Persatuan, Tapi tentang Siapa yang Punya Kepentingan!

Marhaenist.id - Bulan Juni selalu menjadi bulan yang istimewa bagi bangsa Indonesia.…

PA GMNI Solo Sikapi Hal Terkait Kadernya Yang Ikut Daftar Bakal Cawawali Solo

Marhaenist - Dewan Pengurus Cabang (DPC) Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Ribuan Warga Solo Raya di Sumut Nyatakan Dukung Ganjar-Mahfud, Siap Menangkan Presiden Rakyat

Marhaenist.id, Simalungun - Sebanyak dua ribu warga asal Solo Raya di Kabupaten…

Geruduk BPH Migas, GMNI Demo Maraknya Mafia BBM

Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) melakukan aksi demonstrasi di depan kantor BPH…

Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I

Marhaenist.id - (Pendahuluan) Wacana tentang kekuasaan totaliter secara tradisional didominasi oleh visi…

Republik Jenderal Multitasking

Marhaenist.id - Tuhan tampaknya menciptakan spesies baru manusia: Di Wakanda  manusia berseragam…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?