Marhaenist.id, Bekasi — Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Bekasi mengajak kalangan mahasiswa untuk lebih cermat dan kritis dalam memilih serta menyebarkan informasi di media sosial, di tengah maraknya peredaran berita bohong (hoaks).
Anggota Bawaslu Kota Bekasi, Jhonny Sitorus, menegaskan bahwa langkah paling efektif dalam menangkal hoaks adalah dengan melakukan identifikasi dan verifikasi terhadap sumber informasi yang terpercaya.
“Cara ampuh menangkal hoaks adalah melakukan identifikasi dan verifikasi pada sumber berita yang kredibel,” ujar Jhonny dalam keterangan tertulis yang diterima Marhaenist.id.
Pernyataan tersebut disampaikan Jhonny saat menjadi pemateri dalam kegiatan kaderisasi Pekan Penerimaan Anggota Baru (PPAB) lintas komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota dan Kabupaten Bekasi, yang digelar pada Sabtu (24/1/2026) di Aula Kecamatan Bekasi Utara.
Kegiatan itu turut dihadiri Ketua DPC GMNI Kota Bekasi Fajar Febriandi serta Ketua DPP GMNI Cristian Manurung.

Menurut Jhonny, penyebaran informasi hoaks cenderung meningkat pada situasi krisis, seperti saat bencana alam maupun ketika terjadi kegaduhan politik.
“Masih ada oknum tidak bertanggung jawab yang sengaja menciptakan konten media sosial tidak sesuai data dan fakta di lapangan, dengan tujuan membuat publik resah,” katanya.
Ia mencontohkan sejumlah unggahan foto dan video banjir di Bekasi yang diedit dan disebarkan ulang, seolah-olah kondisi banjir tidak tertangani dan semakin parah.
“Padahal saat cuaca sudah cerah dan genangan mulai surut, masih ada netizen yang menyebarkan informasi ancaman curah hujan tinggi di hulu dan naiknya debit air di Bendung Bekasi. Setelah ditelusuri melalui sumber resmi BMKG, informasi tersebut tidak akurat alias hoaks,” jelasnya.
Jhonny juga mengingatkan bahwa potensi penyebaran hoaks diperkirakan akan semakin masif menjelang Pemilu 2029, apabila tidak diimbangi dengan keseriusan aparat dalam menjamin kebebasan berpendapat yang sehat dan bertanggung jawab di ruang digital.
“Mahasiswa dan kelompok terpelajar adalah garda terdepan dalam membentengi demokrasi di media sosial,” tegasnya.
Ia pun mengajak aktivis mahasiswa untuk aktif meluruskan informasi yang keliru serta menyampaikan fakta yang sebenarnya ketika menemukan hoaks di media sosial.
Sementara itu, berdasarkan laporan “Digital 2026: Indonesia” dari Data Reportal, jumlah pengguna internet dan media sosial di Indonesia terus mengalami peningkatan sepanjang 2025.
Tercatat sebanyak 230 juta pengguna internet dan 180 juta pengguna media sosial, atau naik sekitar 26 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Platform TikTok, WhatsApp, dan Instagram menjadi media sosial paling populer dengan dominasi pengguna aktif dan durasi penggunaan harian.***
Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.