By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
ArtikelKabar GMNIOpini

Bung Toban dan Jiwa Marhaenisme : Kesetiaan Kader pada Jalan Rakyat Menuju Revolusioner

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Kamis, 25 Desember 2025 | 00:28 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Foto: Almarhum Bung Toban (Sumber: Transtimur)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Marhaenisme, sebagaimana dirumuskan oleh Bung Karno, bukanlah sekadar teori sosial, melainkan sikap hidup dan keberpihakan ideologis. Ia lahir dari perjumpaan langsung dengan penderitaan rakyat kecil kaum marhaen yang hidup di bawah tekanan struktur ketidakadilan.

Bagi Bung Karno, revolusi bukan peristiwa sesaat, melainkan proses panjang pembentukan manusia Indonesia yang berkepribadian, berdaulat, dan berkeadilan. Dalam konteks inilah “Bung Toban” menempatkan dirinya: sebagai kader GMNI yang memilih berdiri bersama rakyat di jalan juang.

Bung Toban memahami spirit ini secara praksis. Ia hadir di tengah dinamika sosial Halmahera Selatan bukan sebagai penonton, melainkan sebagai bagian dari denyut penderitaan rakyat. Ketika jeritan masyarakat kecil terdengar, ia datang bukan karena perintah organisasi, tetapi karena kesadaran ideologis yang telah menyatu dengan nuraninya.

Marhaenisme menolak perjuangan elitis. Ia menuntut kader untuk “turun ke bawah”, menyelami realitas hidup rakyat, dan menjadikan penderitaan mereka sebagai titik tolak perjuangan. Bung Toban menjalankan prinsip ini dengan kesetiaan yang nyaris asketis. Ia tidak pernah mengeluh atas amanah yang dipikul, sebab baginya GMNI adalah rumah perjuangan, ruang untuk mengabdi, bukan alat untuk mencari kenyamanan pribadi.

Dalam pidato-pidato Bung Karno, ditegaskan bahwa kader revolusioner sejati adalah mereka yang berani setia pada garis ideologi, meski jalan itu sunyi dan penuh risiko. Bung Toban adalah contoh nyata kader semacam itu. Ia tidak menjadikan GMNI sebagai kendaraan oportunistik, melainkan sebagai alat perjuangan ideologis untuk menjembatani kepentingan rakyat dengan cita-cita keadilan sosial.

Kepekaan sosial almarhum bukanlah empati sentimental, melainkan kesadaran marhaenis: memahami bahwa kemiskinan, ketimpangan, dan penindasan bukanlah nasib, tetapi hasil dari struktur yang timpang. Karena itu, bagi Bung Toban menyuarakan kepentingan masyarakat umum adalah sebuah kemuliaan, sebab di sanalah martabat manusia dipertaruhkan.

Baca Juga:   Ketika Buku Menjadi Batas Hidup: Tragedi Seorang Anak di NTT dan Gugatan Ideologis atas Pendidikan Indonesia

Kini Bung Toban telah pergi. Namun sebagaimana Bung Karno pernah menegaskan, “Orang boleh Mati, tetapi ide tidak bisa Dibunuh.” Semangat perjuangan yang ia hidupi adalah bagian dari api marhaenisme yang harus terus dijaga oleh GMNI Halmahera Selatan dan seluruh kader GMNI di manapun berada.

Kepergian almarhum adalah peringatan ideologis: bahwa GMNI tidak boleh tercabut dari rakyat, tidak boleh berjarak dari kaum marhaen, dan tidak boleh berkompromi dengan pragmatisme yang melemahkan jiwa revolusioner. Mengenang Bung Toban berarti memperbarui sumpah setia pada marhaenisme setia pada rakyat, setia pada ideologi, dan setia pada cita-cita Indonesia yang adil dan berdaulat.

Selamat jalan, “Bung Toban” Engkau telah menunaikan dharmamu sebagai kader marhaenis. Api perjuanganmu akan tetap menyala dalam setiap langkah GMNI Halmahera Selatan. Merdekaaa!!!!!!


Penulis: Imran Hi. Alim, Kader GMNI Halsel.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Minggu, 12 April 2026 | 13:37 WIB
Foto: Benediktus Aquino, Alumni GMNI DKI Jakarta (Dokpri)/MARHAENIST.
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Sabtu, 11 April 2026 | 22:02 WIB
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Sabtu, 11 April 2026 | 19:21 WIB
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 18:07 WIB
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 12:16 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Kaderisasi adalah Kekuatan Persatuan dalam Tubuh GMNI

Marhaenist.id - Berbicara soal perpecahan didalam tubuh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia adalah…

Biden Sebut Terlalu Dini Jika Memastikan Penembakan Trump Sebagai Upaya Pembunuhan

Marhaenist - Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengatakan terlalu dini untuk memastikan…

DPD GMNI Jatim Desak Pemerintah Prabowo-Gibran Pertimbangkan Ulang Kenaikan PPN 12%

Marhaenist, Surabaya – Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPD GMNI)…

Ziarahi ke Makam Bung Karno, Berdoa dan Menabur: Pak Harto, Bung Karno dan Tiga Kosmologi (Catatan Perjalanan DPP PA GMNI 3)

Marhaenist.id, Blitar - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Materialisme Dialektis dan Historis

Marhaenist.id - Materialisme dialektis adalah pandangan dunia partai Marxis-Leninis. Disebut materialisme dialektis karena…

Ganjar: Kampanye Sudah Selesai, Saatnya Rakyat Menilai

Marhaenist.id, Bogor - Bogor pecah! Puluhan ribu warga Jawa Barat tumpah ruah…

Namanya Tan Malaka!

Marhaenist.id - Tokoh ini namanya seolah terkubur selama puluhan tahun. Setelah reformasi…

Aktivis 98 Kecam Tindakan Represif Aparat dan Tuntut Keadilan atas Gugurnya Kawan Ojol Pejuang Demokrasi

Marhaenist.id, Jakarta – Tragedi kembali mencoreng wajah demokrasi Indonesia. Seorang kawan Ojol,…

GMNI Berduka, H Soenardi Ex Presidium GMNI 1976 – 1979 Telah Berpulang Disisi Tuhan Yang Maha Esa

Marhaenist.id, Tengsel - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) saat ini dilanda kesedihan…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?