By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar Alumni GMNI

Iran Ajukan Proposal Kontroversial di Islamabad, Pengamat: Tatanan Maritim Dunia Sedang Didefinisikan Ulang

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Rabu, 8 April 2026 | 13:04 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Foto:: Yulis Susilawaty, Pengamat Geo Politik dari Indonesian Public Institute (IPI) (Dokpri)/MARHAENISME.
Bagikan

Marhaenist.id, Jakarta – Proposal 10 poin yang diajukan Iran kepada Amerika Serikat dalam perundingan di Islamabad pada April 2026 dinilai sebagai langkah strategis yang berpotensi mengubah tatanan maritim global secara fundamental.

Peneliti Indonesian Public Institute, Dr. Yulis Susilawaty, menyebut bahwa langkah Iran bukan sekadar manuver diplomatik biasa, melainkan bagian dari upaya besar untuk mendefinisikan ulang keseimbangan kekuatan di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait kontrol atas jalur energi dunia.

“Ini bukan hanya proposal teknis, melainkan sebuah naskah geopolitik baru. Iran sedang mentransformasikan posisi geografisnya menjadi instrumen politik yang aktif dan koersif,” ujar Yulis dalam keterangannya kepada Marhaenist.id, Rabu (8/4/2026).

Selat Hormuz Jadi Instrumen Politik

Menurut Yulis, Selat Hormuz kini tidak lagi dipandang sebagai jalur pelayaran internasional semata, tetapi telah berubah menjadi alat tawar strategis Iran dalam percaturan global.

Salah satu poin paling kontroversial dalam proposal tersebut adalah rencana pengenaan biaya transit sebesar 2 juta dolar AS per kapal yang melintasi selat tersebut.

“Ini merupakan tantangan langsung terhadap prinsip kebebasan navigasi global. Iran mencoba menggeser paradigma dari laut sebagai ruang bebas menjadi ruang yang tunduk pada kedaulatan penuh negara,” jelasnya.

Respons Dunia Dinilai Terlambat

Yulis yang juga merupakan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) juga menyoroti sikap dunia internasional yang selama ini cenderung pasif terhadap eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Menurutnya, “diamnya” negara-negara besar justru membuka ruang bagi Iran untuk memperkuat posisi tawarnya dimata dunia.

“Ketergantungan global terhadap energi membuat banyak negara memilih untuk tidak bereaksi tegas. Iran membaca situasi ini sebagai peluang strategis,” katanya.

Dorong Hegemoni Regional Baru

Selain isu maritim, proposal tersebut juga mencakup tuntutan penarikan pasukan tempur Amerika Serikat dari kawasan Asia Barat. Langkah ini dinilai sebagai upaya Iran untuk membangun arsitektur keamanan regional yang lebih mandiri.

Baca Juga:   Gelar UPA di Februari 2026, PERADI UTAMA Lanjutkan Program Beasiswa Advokat Bersama PA-GMNI dan KOPRI PMII

“Dengan mengurangi kehadiran kekuatan ekstra-regional, Iran ingin menjadi aktor dominan dalam menjaga stabilitas kawasan,” ujar Yulis.

Ia juga menilai langkah Iran memasukkan kelompok seperti Hizbullah dan Houthi ke dalam dinamika perundingan sebagai bentuk legitimasi terhadap strategi kekuatan asimetris

Dunia di Persimpangan

Lebih lanjut, Yulis menegaskan bahwa dunia saat ini berada pada titik krusial. Keputusan menerima atau menolak proposal Iran akan membawa konsekuensi besar bagi stabilitas global.

“Menerima berarti dunia harus membayar mahal untuk stabilitas. Menolak berarti siap menghadapi ketidakpastian di jalur utama distribusi energi global,” pungkasnya.

Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Minggu, 12 April 2026 | 13:37 WIB
Foto: Benediktus Aquino, Alumni GMNI DKI Jakarta (Dokpri)/MARHAENIST.
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Sabtu, 11 April 2026 | 22:02 WIB
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Sabtu, 11 April 2026 | 19:21 WIB
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 18:07 WIB
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 12:16 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Penuntun Kaum Buruh, Semaoen 1920

MARHAENIST - Dengan ini saya mengaturkan cerita hal serikat buruh pada saudara-saudara…

Saat Bokek, Soekarno Sering Minta Duit ke Temannya Yang Kaya Ini

Marhaenist - Semua orang mengetahui bahwa Soekarno adalah salah satu tokoh sentral…

Dua Tujuh Juli, Peristiwa Besar Yang Dikerdilkan

27 Juli menjadi semakin kerdil, lewat begitu saja dan seakan tak bermakna.…

Bersikaplah Realistis dan Lihatlah ke Masa Depan, Deng Xiaoping

MARHAENIST - Sehubungan dengan pengembangan industri, perhatian utama saya adalah bagaimana bersikap…

GMNI dan Teologi Perlawanan: Iman yang Menggugat, Ideologi yang Menghukum

Marhaenist.id - Indonesia hari ini adalah panggung besar tempat kekuasaan menari di…

Ketika Mantan Lawan di Pilpres Ingin Merapat ke Pemerintahan

Marhaenist - Harlah ke-26 PKB menjadi ajang bagi sejumlah partai di luar…

Kebudayaan dan Sosialisme

Marhaenist.id - Pada 3 Februari 1926, Leon Trotsky memberikan sebuah ceramah berjudul…

DPC GMNI Jakarta Timur Gelar Diskusi Pilkada oleh DPRD, Bahas Demokrasi Ideal bagi Mahasiswa

Marhaenist.id, Jakarta Timur — Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC…

Penjarahan & Anarkisme: Berdasarkan Narasi Rakyat vs Narasi Negara

Marharnist.id - (Pengantar) Kekerasan massa (termasuk penjarahan oleh segelintir orang) kerap muncul…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?