By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Merayakan atau Melupakan Kartini di Tengah Krisis Ruang Aman Perempuan
Nasib Guru Honorer di Tengah Gelombang Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG
Kunjungan Seremonial Kepala BGN di Jember dalam Bayang Bayang
Indikasi Skandal dalam Program makan Bergizi Gratis
Komplikasi Program Makan Bergizi Gratis

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Ideologi Marhaenisme di Era Neo-Orba: Masihkah Relevan dalam Membela Kaum Marhaen?

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Minggu, 20 April 2025 | 21:39 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Foto: Asrul Sahputra Sekretaris DPC GMNI Bengkalis, mahasiswa STAIN Bengkalis Prodi Hukum Nata Negara/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Indonesia telah mengalami perubahan besar dalam sistem politik dan ekonomi sejak era Orde Baru hingga saat ini. Di era Neo-Orba, Indonesia dihadapkan pada tantangan baru dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat dan menciptakan keadilan sosial. Dalam konteks ini, ideologi Marhaenisme yang dikembangkan oleh Soekarno, presiden pertama Indonesia, masih menjadi topik diskusi dan analisis.

Marhaenisme adalah ideologi yang berfokus pada keadilan sosial dan kesetaraan, serta memperjuangkan hak-hak kaum marhaen, yaitu kaum rakyat jelata yang hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Dalam era Neo-Orba, di mana praktik-praktik otoritarianisme dan kapitalisme semakin menguat, relevansi Marhaenisme dalam membela kaum marhaen menjadi pertanyaan yang perlu dijawab.

Di tengah dinamika politik dan ekonomi Indonesia sekarang yang kian kompleks, istilah “Neo Orba” kembali menyeruak sebagai kritik terhadap kondisi sosial-politik saat ini yang dianggap mencerminkan pola kekuasaan era Orde Baru otoriter, oligarki, dan anti-demokrasi. Dalam konteks ini, muncul kembali pertanyaan penting masihkah ideologi Marhaenisme relevan untuk memperjuangkan kepentingan kaum marhaen yakni rakyat kecil, petani, buruh, dan kelas proletar di zaman yang penuh paradoks ini ?

Marhaenisme: sebagai ideologi

Marhaen adalah nama petani kecil yang pernah ditemui Soekarno di bandung. Ia adalah simbol dari rakyat kaum bawah seperti : petani, buruh pabrik, pedagang pasar, tukang ojek,nelayan mereka yang bekerja keras namun tetap sulit hidup layak karena sistem yang timpang.
Marhaenisme sebagai ideologi yang diperkenalkan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, bertujuan untuk memperjuangkan kesejahteraan dan kemandirian kaum marhaen, yaitu rakyat kecil yang tertindas oleh sistem kapitalisme kolonialisme dan imperialisme. Marhaenisme sendiri menginginkan susunan masyarakat dalam segala hal menyelamatkan kaum marhaen.

Ada beberapa istilah dalam ajaran marhaenisme itu sendiri, yaitu marhaenisme adalah ideologi kaum marhaen, marhaenis adalah orang yang memperjuangkan kaum marhaen, dan marhaen adalah orang-orang yang melarat dan hanya sedikit memiliki alat produksi serta tidak bekerja dengan orang lain dan juga tidak memperkerjakan orang lain.

Baca Juga:   Tiongkok yang Terbangun: Antara Ambisi Adidaya dan Narasi Jebakan Utang

Neo-Orba: Kebangkitan Oligarki dan Ketimpangan Sosial

Setelah era Reformasi yang menggulingkan Orde Baru (Orba) pada 1998, harapan untuk adanya pemerintahan yang lebih demokratis dan adil cukup besar. Namun, dalam kenyataannya, sistem yang muncul pasca-Reformasi cenderung mencerminkan kebangkitan kembali dari beberapa karakteristik Orde Baru dalam bentuk yang lebih halus dan terstruktur, yang disebut sebagai Neo-Orba. Neo-Orba ditandai dengan kebangkitan dominasi oligarki, politik dan ekonomi yang mengontrol sebagian besar sumber daya dan kebijakan negara.

Para pengusaha besar, politisi, dan elit kekuasaan terus memperkuat posisinya, sementara rakyat marhaen tetap terpinggirkan. Kebijakan-kebijakan yang pro-pasar dan cenderung berpihak pada pemodal besar, seperti proyek infrastruktur besar-besaran dan liberalisasi ekonomi, semakin memperparah ketimpangan sosial. Dalam kondisi ini, kaum marhaen baik petani, buruh, maupun pedagang kecil,terus merasa terjepit oleh sistem yang tak memberikan banyak ruang untuk mereka berkembang.

Relevansi ideologi Marhaenisme di Era Neo-Orba

Di tengah kebangkitan kekuatan oligarki dan ketidakadilan sosial yang menjadi ciri khas Neo-Orba, ideologi perjuangan Marhaenisme masih memiliki relevansi yang penting. Ideologi ini mengingatkan kita pada prinsip dasar keadilan sosial dan pemerataan ekonomi yang lebih inklusif, serta mengkritik dominasi kekuatan ekonomi yang menindas rakyat kecil.

Berikut beberapa aspek yang menyatakan bahwa ideologi Marhaenisme masih relevan di zaman Neo orba dengan cara:

1. Pemerataan ekonomi dan keadilan sosial

Marhaenisme menuntut adanya distribusi kekayaan yang adil, bukan hanya menguntungkan sekelompok elit saja. Di tengah ketimpangan ekonomi yang semakin tajam, ideologi ini mengingatkan kita akan pentingnya pembangunan yang berkeadilan dan berpihak pada rakyat kecil, bukan hanya pada modal besar.

2. Mendorong Kemandirian Ekonomi
Marhaenisme

mengajarkan pentingnya kemandirian ekonomi rakyat, bukan hanya bergantung pada bantuan atau subsidi sementara. Dalam konteks ini, ideologi Marhaenisme bisa menjadi dasar untuk mendorong pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM), koperasi, serta ekonomi lokal yang dapat memberdayakan rakyat marhaen dan mengurangi ketergantungan pada modal besar.

Baca Juga:   Komedi tanpa Nurani: Pandji Pragiwaksono dan Luka Kolektif Masyarakat Toraja

3. Membangkitkan Kesadaran Politik Kaum Marhaen

Marhaenisme mengedepankan pentingnya membangkitkan kesadaran politik rakyat kecil untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Dalam konteks Neo-Orba, di mana suara rakyat kecil sering kali terpinggirkan, penting untuk menghidupkan kembali kesadaran kelas dan memberikan ruang bagi kaum marhaen untuk terlibat dalam proses politik, baik di tingkat lokal maupun nasional.

4. Mendorong sikap kritis dari kaum marhaen

Kaum marhaen juga perlu membangkitkan sikap kritis untuk bisa membela hak hak nya, Karna pada saat ini karna kurangnya pendidikan yang membuat kaum marhaen ini menjadi kurang kritis terhadap pembelaan hak nya sendiri.

Secara keseluruhan, ideologi Marhaenisme masih relevan dengan konteks zaman sekarang, nilai-nilai dasarnya yang mendukung keadilan sosial, pemberdayaan rakyat kecil, dan pemerataan kesejahteraan tetap relevan dalam mengatasi masalah sosial dan ekonomi di Indonesia saat ini. Marhaenisme, sebagai marxisme yang dipraktekkan di Indonesia, adalah sebuah teori ilmiah yang menentang dogmatisme. Soekarno tidak mau mengcopy-paste begitu saja marxisme dari Eropa untuk diterapkan di Indonesia.

Inilah pula yang dilakukan oleh Lenin dalam konteks Rusia, Mao dalam situasi Tiongkok, atau José Carlos Mariátegui di Peru.

Dengan penentangan yang kuat terhadap dogmatisme, maka marhaenisme semestinya bisa berkembang menjadi teori perjuangan yang canggih dan sesuai dengan nafas perkembangan jaman.

Sebagaimana marxisme sebagai the guiding theory untuk menjalankan perjuangan, maka Marhaenispun adalah the guiding theory untuk perjuangan rakyat Indonesia.

Merdeka!!!***


Penulis: Asrul Sahputra Sekretaris DPC GMNI Bengkalis, mahasiswa STAIN Bengkalis Prodi Hukum Nata Negara.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Merayakan atau Melupakan Kartini di Tengah Krisis Ruang Aman Perempuan
Sabtu, 18 April 2026 | 10:23 WIB
Nasib Guru Honorer di Tengah Gelombang Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG
Sabtu, 18 April 2026 | 10:01 WIB
Kunjungan Seremonial Kepala BGN di Jember dalam Bayang Bayang
Sabtu, 18 April 2026 | 09:57 WIB
Indikasi Skandal dalam Program makan Bergizi Gratis
Sabtu, 18 April 2026 | 09:53 WIB
Komplikasi Program Makan Bergizi Gratis
Sabtu, 18 April 2026 | 09:42 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Ciptakan Bibit Unggul, Ganjar Akan Tingkatkan Dana Riset 1 Persen PDB

Marhaenist.id, Purworejo – Calon presiden 2024, Ganjar Pranowo berkomitmen menjadikan Indonesia sebagai…

Ketua GMNI Jatim Ajak Masyarakat Kawal Pemilu 2024

  Marhaenist.id, Surabaya - Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional…

Ketua TPN: Quick Count Bukan Hasil Akhir, Tunggu Rekapitulasi Manual KPU

Marhaenist.id, Jakarta – Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar- Mahfud menyatakan semua barisan…

May Day is Not Holiday

Marhaenist.id - Setiap kali tanggal 1 Mei tiba, media massa akan ramai menurunkan berita…

DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih

TERTANGKAPNYA Hakim Agung Mahkamah Agung (MA) Sudrajad Dimyati dalam operasi tangkap tangan…

GMNI PPU Desak Pembebasan 6 Aktivis yang Ditangkap Usai Aksi ‘Indonesia Gelap’ di DPRD Balikpapan

Marhaenist.id, Penajam Paser Utara - Komisariat GMNI Penajam Paser Utara (PPU) desak…

Kerawanan Perpres 75/2024 tentang Percepatan Pembangunan IKN

Marhaenist - Dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 75 Tahun 2024, terdapat kebijakan…

Foto:

Kapitalisme yang Menghapus Jejak Peradaban Bangka Belitung

Marhaenist.id - Menyingkap tabir sejarah jauh kebelakang sebelum Indonesia merdeka, masyarakat Bangka…

Tragis! Nenek Penolak Tambang Emas Ilegal di Pasaman Timur Dianiaya Brutal dan Dibuang, Sempat Dikira Tewas

Marhaenist.id, Pasaman Timur — Peristiwa kekerasan yang memilukan menimpa seorang nenek renta…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?