By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Megawati Pertanyakan Kasus Penyiraman Air Keras Andrei Yunus: Mengapa Masuk Pengadilan Militer?
Resmi Dikukuhkan sebagai Profesor Emeritus di Unbor, Prof. Arief Hidayat Siap Lahirkan Generasi Hukum Berintegritas dan Berwawasan Kebangsaan
(Bagian Pertama) Nasionalisme, Islamisme, Marxisme
Panas yang Menetap, Negara yang Tertinggal: Kita Tak Bisa Melawan Alam, Tapi Masih Bisa Menyiasatinya
Krisis Tersembunyi Dibalik Anggaran Besar, DPP GMNI Soroti Ketimpangan Sistem Pendidikan Nasional

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Historical

Inggit Garnasih Pahlawan Nasional yang Tak Kunjung Diakui dan Telupakan

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Jumat, 1 November 2024 | 15:14 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Inggit bersama Bung Karno (Sumber Foto: Arsip Nasional RI)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Pada tanggal 7 Februari 1980, mantan Gubernur DKI Bang Ali bertamu ke rumah IBu Inggit Garnasih. la mengerahkan kemampuan bahasa Sunda halusnya (Bang Ali adalah menak atau bangsawan Sunda dari Sumedang) untuk menanyakan kesediaan Ibu Inggit Garnasih menerima Fatmawati.

Di luar dugaan, urusannya ternyata mudah. Ibu Inggit Garnasih mempersilakan, maka terjadilah pertemuan pertama dalam 38 tahun bagi kedua istri Bung Karno tersebut.

Fatmawati berkali-kali bersimpuh dan mencium kaki Ibu Inggit Garnasih memohon maaf sambil menangis. la juga menyuruh putrinya, Presiden Kelima RI Megawati Soekarnoputri dan putra bungsunya Guruh Soekarno, melakukan hal yang sama. Ibu Inggit Garnasih lantas menjawab “Indung mah lautan hampura” (Ibu ini lautan maaf) sembari mengelus dan menciumi rambut Fatmawati serta putra-putrinya.

Namun Ibu Inggit Garnasih juga mengingatkan agar ke depan, jangan sampai mencubit orang lain kalau tak ingin dicubit, karena dicubit itu rasanya sakit. Niat baik Fatmawati meminta maaf kepada ibu angkatnya menjadi penyucian diri. Hanya tiga bulan sesudahnya, pada 14 Mei 1980 Fatmawati berpulang setelah menunaikan umrah.

Pada tanggal 27 November 1982 terjadi lagi pertemuan mengharukan, kali ini tiga janda Bung Karno bertemu. Ratna Sari Dewi (Naoko Nemoto) dan Hartini menemui Ibu Inggit Garnasih yang tengah terbaring sakit. Dewi dan Hartini yang dulu paling sengit bersaing nampak rukun, dan keduanya mengakui ketokohan Ibu Inggit. Sayang tidak banyak percakapan yang berlangsung karena kondisi Ibu Inggit Garnasih sangat lemah, Namun ia tetap kelihatan senang dengan kunjungan istimewa itu.

Ibu Inggit Garnasih adalah tokoh teladan dari era perjuangan kemerdekaan yang belum mendapatkan gelar pahlawan nasional yang menjadi haknya.

Baca Juga:   Akar Konflik di Palestina Berasal Dari Inggris

Ibu Inggit Garnasih adalah sosok yang memberi dan memberi, tanpa mengharapkan kembali. Betapa tidak, dari 19 tahun pernikahan, 9 tahun di antaranya dihabiskan di pembuangan dan hampir 3 tahun Inggit ditinggal Soekarno yang mendekam di penjara. 7 tahun sisanya dihabiskan dengan bermain kucing-kucingan melawan para intel Belanda, di tengah kesibukan mencari uang sendiri guna membiayai perjuangan sang suami. Kapan senangnya Ibu Inggit Garnasih? Istri mana yang mau dan mampu menanggung pengorbanan sebesar itu?.

Inggit Garnasih Soekarno wafat pada tanggal 13 April 1984 dałam usia 96 tahun. Tidak ada penghormatan khusus dari pemerintah pusat maupun daerah baginya. Namun para tetangga di Jalan Ciateul dan sekitarnya tanpa ada yang mengkoordinasikan serentak mengibarkan bendera merah putih setengah tiang. Saat jenazah dibawa ke pemakaman, mereka dan sejumlah warga Bandung lainnya memenuhi tepi jalan guna memberikan penghormatan terakhir.

Tetapi setiap memasuki bulan November dalam keadaan teramat sedih, bangsa Indonesia akan memperingati hari Pahlawan, namun sampai hari ini Ingggit Garnasih seorang perempuan tangguh dari Bumi Priangan yang sungguh-sungguh tulus menyerahkan hidupnya untuk kemerdekaan bangsanya, sampai hari ini Negara Indonesia tak kunjung mengakui perjuangannya.

Kita boleh bangga dengan buku INDONESIA MENGGUGAT? tapi buku itu tidak akan pernah ada jika tidak ada Ibu Inggit Garnasih yang kadang jalan kaki ke Banceuy menyemangati Bung Karno serta menyelundupkan bahan-bahan untuk menulis.

Sedemikian teguhnya, Ia rela berjalan di hutan Muko-muko menemani Bung Karno dalam pelarian dari Bengkulu ke Padang. Ibu Inggit Garnasih jalan kaki dengan sarung, kondisi yang amat merepotkan, namun semangat juangnya mengalahkan seluruh kerepotan dan kesulitannya.

Tak cukup seribu lembar kertas untuk mengisahkan begitu banyak kesulitannya dalam perjuangannya untuk Indonesia tetapi semua ia terobos, seperti ia menerobos hutan belantara di pesisir barat Sumatera tanpa pernah mengeluh. Ibu Inggit Garnasih sungguh pejuang tangguh, tetapi sayang bangsa ini teramat kikir untuk menghargai ketulusan dan ketangguhannya.

Baca Juga:   Pesan Terakhir Ki Hadjar Pada Bung Karno

Begitu kikirnya bangsa ini, maka hanya di Bandung saja, namanya diabadikan pada sebuah jalan, itupun tak semua penghuni di jalan itu menggunakan nama Inggit Garnasih sebagai nama jalan. Begitu kikirnya, maka barang-barang milik Inggit Garnasih bersama Bung Karno berserakan sana sini tak terurus.

Saking kikirnya bangsa ini, maka satu-satunya permintaan Ibu Inggit Garnasih untuk dimakamkan di Cigereleng, tak diizinkan Pangkomkamtib saat itu.

Sungguh menyedihkan, bila menyadari besarnya jasa Inggit Garnasih dengan perlakuan bangsa ini padanya yang termat kikir.

Padahal ia sangat pantas untuk dibuatkan patung besar ditengah Kota Bandung, dan namanya pantas diabadikan sebagai nama jalan tidak hanya diseluruh kota- kota di Jawa Barat tetapi juga di berbagai kota lainnya di Indonesia.

Berapa biaya membangun sebuah patung besar? Lima, sepuluh, dua puluh miliar ? Itu terlalu kecil dibanding ketulusan dan kesetiaannya berjuang.

Dan apa ruginya untuk mengakuinya sebagai pahlawan nasional ?

Kenapa bangsa ini teramat sulit untuk mengakui jasanya?**


Kutipan tulisan dari: Jacobus K Mayong dan dari buku: “UNTUK REPUBLIK” Kisah-kisah Teladan Kesederhanaan Tokoh Bangsa. Disusun kembali oleh Redaksi Marhaenist.id.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Megawati Pertanyakan Kasus Penyiraman Air Keras Andrei Yunus: Mengapa Masuk Pengadilan Militer?
Sabtu, 2 Mei 2026 | 15:53 WIB
Resmi Dikukuhkan sebagai Profesor Emeritus di Unbor, Prof. Arief Hidayat Siap Lahirkan Generasi Hukum Berintegritas dan Berwawasan Kebangsaan
Sabtu, 2 Mei 2026 | 15:01 WIB
(Bagian Pertama) Nasionalisme, Islamisme, Marxisme
Sabtu, 2 Mei 2026 | 12:10 WIB
Panas yang Menetap, Negara yang Tertinggal: Kita Tak Bisa Melawan Alam, Tapi Masih Bisa Menyiasatinya
Sabtu, 2 Mei 2026 | 11:56 WIB
Krisis Tersembunyi Dibalik Anggaran Besar, DPP GMNI Soroti Ketimpangan Sistem Pendidikan Nasional
Jumat, 1 Mei 2026 | 23:12 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Masoud Pezeshkian Seorang Reformis Iran Jadi Pengganti Ebrahim Raisi

Marhaenist.id - Kementerian Dalam Negeri Iran mengumumkan pada Sabtu (06/07/2024) bahwa kandidat…

Sonny T. Danaparamita Dorong Penguatan Program GEMARIKAN: Makan Ikan Itu Kunci Generasi Cerdas dan Sehat

Marhaenist.id, Banyuwangi - Safari Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN) kembali dilaksanakan sebagai…

Kedaulatan Digital di Tengah Krisis Privasi Nasional: Menggugat Janji UU Perlindungan Data Pribadi

Marhaenist.id - Saat data pribadi — termasuk data kesehatan, identitas resmi (NIK),…

GMNI DKI Jakarta Gelar Diskusi: Dasa Sila Bandung sebagai Kompas Indonesia di Tengah Ancaman Perang AS-Iran

Marhaenist.id, Jakarta Timur — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Alumni GMNI dan Tuntutan Pemberian Hak-Hak Pensiun Untuk Bung Karno

Marhaenist - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pengurus Pusat Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa…

GMNI Malang Desak DPR RI Segera Mengesahkan RUU PPRT

Marhaenist.id, Kota Malang - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Waketum DPP GMNI: Sugiono Punya Modal Lengkap Pimpin Menko PMK

Marhaenist.id, Jakarta — Di tengah menguatnya isu reshuffle kabinet, nama Sugiono kian…

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. ANTARA/Nugroho Akbar

Kemunculan Dewan Kolonel PM Kagetkan Megawati

Marhaenist - Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengungkapkan bahwa…

Rektor Universitas Negeri Malang (UM) terpilih periode 2022-2027 Prof. DR. Haryono, M.Pd. FILE/IST. Photo

Haryono Terpilih Jadi Rektor UM Periode 2022-2027

Marhaenist - Haryono terpilih menjadi rektor Universotas Negeri Malang (UM) periode 2022-2027.…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?