Marhaenist.id – Di balik sosok Soekarno yang gagah berpidato, ada seorang wanita yang membiayai hidup dan perjuangannya. Namanya Inggit Garnasih. la lebih tua 12 tahun dari Soekarno (Kusno).
Baginya, Kusno bukan hanya suami, tapi juga anak ideologis yang harus ia jaga. Inggit bukan wanita yang menikmati kemewahan. la adalah wanita yang akrab dengan penderitaan.
Saat Soekarno dipenjara di Sukamiskin, Inggitlah yang berjalan kaki mengantar makanan. la menyelundupkan buku dan uang agar suaminya tetap bisa membaca.
Saat Soekarno dibuang ke Ende (Flores) dan Bengkulu, Inggit ikut tanpa ragu. la berjualan bedak dan jamu, memeras keringat demi menghidupi Soekarno yang saat itu tak punya apa-apa selain mimpi kemerdekaan.
Selama 20 tahun, ia menjadi tulang punggung dan “Oase” bagi Soekarno. Namun, ujian terberat bukan datang dari penjajah Belanda. Ujian itu datang dari hati. Di Bengkulu, Soekarno bertemu Fatmawati, gadis muda yang cantik.
Alasannya logis: Soekarno butuh keturunan. Sebab, Inggit tidak bisa memberikan anak biologis.
Soekarno lalu meminta izin: “Aku ingin menikah lagi, tapi aku tidak mau menceraikanmu.” Bayangkan perasaannya. Setelah 20 tahun menemani dari nol, dari penjara ke penjara, kini saat masa kejayaan sudah dekat, ia diminta berbagi cinta. Jawaban Inggit tegas dan melegenda: “Kalau Kus mau ambil dia, ceraikan aku. Aku pantang dimadu!” Baginya, cinta adalah kesetiaan mutlak. Jika harus dibagi, lebih baik ia pergi.
Tahun 1943. Soekarno membawanya kembali ke Bandung. Di sebuah rumah di Jalan Ciateul, ikatan suci itu putus. Inggit resmi bercerai. la melepaskan kesempatan menjadi “Ibu Negara” Republik Indonesia yang sebentar lagi merdeka. la memilih kembali menjadi rakyat biasa, asalkan hatinya tidak teriris setiap hari melihat suaminya bersama wanita lain.
Bertahun-tahun kemudian, saat Soekarno sudah jatuh sakit dan menjadi tahanan rumah di Wisma Yaso, Inggit datang menjenguk. Tidak ada dendam. Soekarno menangis meminta maaf. Inggit dengan besar hati berkata: “Kus, sudahlah. Tidak usah dibahas lagi. Yang lalu biar berlalu.” Cinta itu masih ada, tapi prinsipnya jauh lebih besar.
Inggit Garnasih mengajarkan kita satu hal mahal: Bahwa kesetiaan seorang wanita bisa menembus tembok penjara, tapi harga dirinya… tak bisa dibeli oleh istana.
la memang tidak pernah tinggal di Istana Merdeka, tapi ia bertahta abadi di hati sejarah sebagai wanita terkuat yang pernah mendampingi Bung Karno.
Terima kasih, Ibu Inggit.
Sumber: Akun Facebook Beragam Fakta.